Oleh Asep Purwo Yudi Utomo

HASIL penelitian mengenai cerita anak yang disajikan di Indonesia, hampir semua memaparkan kebaikan dari cerita yang terpilih. Hasil penelitian tentang cerita anak hampir tidak ada yang mengatakan bahwa cerita tanpa nilai karakter. Semua cerita anak yang sudah dipilih hampir dipastikan bernilai dan layak untuk diembuskan ke telinga anak dengan cara mendongeng dan bercarita atau melalui mata-mata anak saat membaca dan menulis.

Akan tetapi, apa benar kita sudah senyaman itu mengawal cerita yang baik sebagai salah satu penanaman nilai karakter? Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Hasil rangkuman secara acak, cerita-cerita terpilih yang digunakan dalam proses pembelajaran pada anak atau yang terpampang di toko buku hampir semuanya memiliki kelayakan sebagai bahan penyampaian nilai karakter karena memuat nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan indikator masing-masing.

Sebagai contoh, nilai inovatif dalam Wibowo (2018) memiliki indikator: banyak akal, banyak ide, tidak mudah putus asa, selalu ingin menjadi yang terbaik, berkarya untuk memperoleh kepuasan, memiliki kemauan menghasilkan temuan baru, mampu berpikir cepat dan tepat, berpikir logis, cermat, dan detail, selalu mengambil inisiatif, dan selalu ingin memberikan kontribusi. Cerita-cerita yang terpilih layak sebagai bahan penyampaian nilai karakter karena beberapa hal. Cerita melibatkan aspek sosial, moral, psikologi, dan etika, serta memiliki nilai pendidikan dan daya pengaruh pada pembaca.

Cerita memiliki syarat untuk membangkitkan inovasi yang bisa dikembangkan kelak, bisa dijadikan sarana meningkatkan kreativitas, memiliki kedekatan dengan pembaca, memiliki pengaruh jangka panjang terhadap perilaku pembaca, juga memiliki amanat yang bisa dicerna oleh pembaca. Sebagai contoh, jika membaca cerita secara serampangan, acak, asal pada buku-buku yang diajarkan atau di toko buku, terdapat dua kemungkinan. Pertama, tidak lama membaca terdapat ajaran tentang nilai karakter yang bisa sampaikan pada anak. Kedua, baca poin pertama. Artinya, memang semua cerita kita sudah baik dan memiliki muatan nilai karakter. Lalu, apa masalahnya?

Paling tidak terdapat dua hal yang secara konsisten meresahkan. Pertama, cerita-cerita indah yang sudah begitu baik tersebut tidak dapat dinikmati karena adanya kemalasan literasi pada anak. Kedua, sensitivitas anak atau pembaca kurang terhadap cerita-cerita yang begitu baik sehingga tidak mampu mencerna apa yang ada dalam cerita. Melalui gerakan literasi sekolah, semua komponen sudah begitu luar biasa.

Bahkan menjadi isu yang seksi yang secara terus-menerus didengungkan tanpa henti oleh pihak yang benar-benar bergelut dalam bidang literasi, sampai ada orang yang peduli untuk mengawal literasi. Bahkan beberapa kali ditemukan, orang yang secara konsep tidak memahami literasi tapi yakin betul akan kepeduliannya terhadap literasi karena ia tahu bahwa itu adalah masa depan. Akhirnya, jika cerita itu hebat, literasi berjalan mulus, apa yang ada dalam tulisan-tulisan itu bisa diserap dengan baik. Alangkan indahnya. Akan tetapi, itu tidak mudah.

Tidak Mudah

Mengapa literasi tidak mudah?

Hasil penelitian lain tentang minat baca dan kemampuan membaca dasar pada mahasiswa menemukan sesuatu yang menarik. Yaitu, mahasiswa pada dasarnya mampu tapi banyak yang tidak mau mengembangkan literasinya sehingga kualitas literasinya pun kurang. Banyak aspek yang memungkinkan mereka tak begitu peduli terhadap literasi. Pertama, keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis membuat mereka tidak mengetahui bahwa proses berkembang itu dengan membaca. Kedua, waktu yang begitu sempit untuk membagi antara perut dan otak membuat sebagian dari mereka mencari sesuatu yang paling menguntungkan. Ketiga, kemalasan dengan kesadaran utuh dan kemalasan tanpa sadar membuat mereka mati kutu ketika harus menguasai pemahaman yang seharusnya mereka kuasai. Jika orang yang selayaknya memiliki kemauan dan kemampuan berliterasi (mahasiswa) saja tidak memenuhi ekspektasinya, bagaimana pada tingkatan di bawahnya?

Pasti akan sulit mengatrol ”masa depan”. Akan semenarik apa ”masa depan” dengan adanya pemahaman tanpa kajian mendalam serta kemampuan tanpa dasar? Akan semenarik apa ”masa depan” dengan munculnya sebaran berita tanpa saringan benar salah dari si penyebar?

Selaih hal tersebut, ada salah satu kunci yang bisa dijadikan ”cerita” terbaik bagi anak, yaitu teladan. Diakui atau tidak, Indonesia selalu membutuhkan keteladanan dari pemimpin dan itu merupakan cerita terbaik yang akan dicontoh dan dijadikan acuan oleh anak-anak masa mendatang. Maka, orang tua, guru, semua profesi, dan terutama pemimpin akan membuat cerita masing-masing untuk dipertanggungjawabkan.

Saat ini mungkin tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini untuk dicontoh maka contoh sisi baiknya walapun hanya sedikit. Mungkin hal itu yang bisa kita titipkan kepada anak yang entah secara sengaja atau tidak akan menemukan orang-orang yang tidak patut ditiru kelak di kemudian hari. (40)

—Asep Purwo Yudi Utomo SPd MPd,dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, Pemerhati Pendidikan.

Sumber : suaramerdeka.com

Advertisements

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s