LAMSEL – Matahari sore perlahan mulai beranjak hendak ke peraduannya. Belasan anak-anak nelayan di kawasan TPI Muara Pilu Kecamatan Bakauheni terlihat masih asik bermain, meski senja telah datang.

Asror Muslihudin yang sedang duduk di teras rumahnya memandangi anak-anak yang sedang asik bermain. Hatinya terenyuh. Saat ia kecil, sore hari dihabiskannya untuk belajar mengaji di musala.

Tapi ia melihat anak-anak nelayan di TPI Muara Pilu justru tetap bermain. Termasuk anaknya sendiri. Seluruh waktu anak-anak setelah sekolah, habis untuk bermain.

Keprihatinan inilah yang kemudian membulatkan tekad Asror Muslihudin yang biasanya dalam kesehariannya dipanggil Acong untuk menjadikan teras rumahnya untuk kegiatan mengaji anak-anak.

Mulai Agustus 2017 silam, teras rumahnya yang berada di Muara Pilu menjadi tempat bagi anak-anak mengaji seusai salat Maghrib. Anak-anak ini mengaji kepada guru mengaji Amran Jamil yang juga warga sekitar.

“Karena langgar terlalu jauh, maka saya menjadikan teras rumah untuk dijadikan tempat mengaji anak-anak. Anak saya pun bisa belajar mengaji bersama dengan teman-temannya. Tidak hanya bermain,” kata Acong, sapaan akrab Asror Muslihudin kepada Tribun, Sabtu (21/7).

Seiring waktu, Acong yang dalam kesehariannya merupakan pengawai honorer di Balai Karantina Pertanian kelas I Bandar Lampung Wilker Bakauheni ini berpikir harus ada hal positif yang bisa mengalihkan anak-anak dari menghabiskan waktunya hanya bermain.

Atas dasar saran dari Bripka Agung GD, anggota Polairud Polres Lampung Selatan yang menggagas kegiatan literasi Jangkar Pustaka. Acong kemudian memadukan teras rumahnya tidak hanya untuk belajar mengaji. Tetapi juga menjadi taman bacaan bagi anak-anak di kawasan pantai TPI Muara Pilu.

Apalagi, ia juga mendapati banyak dari anak-anak di kawasan TPI Muara Pilu yang kemampuan membacanya masih terlihat terbatas. Sementara akses mereka kepada buku-buku bacaan sangatlah minim. Hanya di sekolah.

Ia melihat anak-anak usia dini dan SD, justru sudah mulai lebih familiar dan menghabiskan waktunya dengan gudget (handphone) untuk bermain game. Tidak ada yang terlihat senang membaca buku.

“Saya lalu memutuskan untuk menyulap teras rumah menjadi taman bacaan gratis bagi anak-anak nelayan di TPI Muara Pilu. Memadukannya dengan tempat mengaji,” lanjut Acong.

Melalui kantong pribadinya ia mengeluarkan uang Rp 1,1 juta untuk membeli sejumlah buku bacaan bagi anak-anak. Lalu membuat sebuah lemari/rak buku yang ia tempatkan di teras rumahnya. Taman bacaan ini ia beri nama “Pustaka Nelayan Pantai Muara Pilu”.

Hadirnya taman bacaan ini disambut hangat anak-anak nelayan di TPI Muara Pilu. Setiap harinya tidak kurang dari 15-25 orang anak datang untuk membaca buku. Pengelolaan taman bacaan gratis ini sehari-hari diserahkannya kepada sang istri. (dedi sutomo)

Sumber : lampung.tribunnews.com

Advertisements

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s