MALANG – Berawal pada 2011 lalu. Zaki, sapaan akrab Muzeki mengumpulkan sekitar delapan anak di sekitar rumah­nya dengan fasilitas seadanya. Ia lalu mengajak anak-anak itu untuk belajar. Aksi peduli ini lahir karena tergugah setelah melihat anak-anak di kampung halamannya kesulitan memperoleh buku bacaan.


Perjuangan panjang pun dila­luinya dengan berbagai liku-liku­nya. Tak terhitung berapa uang yang dikeluarkan. Apalagi pada tiga tahun pertama merintis galeri, ia harus melewati perjuangan terberatnya.
Betapa tidak, tanpa satu rekan pun, dia harus berjuang sendiri mengajari dan membentuk karakter anak didiknya. Kala itu, Zaki masih bekerja sebagai staf tata usaha di yayasan sosial Assalam. Selain berjuang seorang diri, tak ada tempat untuk menampung anak didiknya.
Tak kehilangan akal, pria ramah ini menyulap ruang tamu rumahnya. Di ruangan yang terbatas, dia berusaha mengajak anak didiknya belajar dengan ceria.
Menyiasati situasi merupakan satu-satunya pilihan yang harus ditempuh. Apalagi keterbatasan dana menjadi kendala dalam proses mengembangkan galeri.“Biasanya anak-anak mengumpulkan buku tulis dan LKS bekas, kemudian kita loakkan. Hasilnya kita belikan buku-buku bacaan sesuai dengan list yang diinginkan dan dibutuhkan. Tapi ada juga donasi dari teman-teman dan masyarakat,” paparnya tentang salah satu cara mengatasi keterbatasan dana.
Lambat laun, berkat dedikasi dan keseriusannya, semakin banyak anak yang datang dan ikut belajar di galerinya. Situasi ini membuat ia membutuhkan relawan pembimbing anak-anak belajar.
Merekrut relawan ternyata tak mudah. Lagi-lagi pria kelahiran 25 Mei 1991 ini putar otak. “Akhirnya dengan menata anak-anak, mereka yang sudah lulus SMP kemudian bisa menjadi relawan. Alhamdulillah sekarang sudah ada sekitar 20 relawan,” katanya.

Kegigihan Zaki dalam merintis galeri tidak berhenti sampai situ. Ia terus mengembangkan fasilitas yang ada dengan menggunakan dana pribadi yang didapatkannya selama mengabdi sebagai guru honorer sejak tahun 2013 di MTs Assalam.
Meskipun telah banyak relawan yang bergabung, ia tidak pernah membebani mereka untuk turut berpartisipasi dalam anggaran pengembangan galeri. “Meski sempat ada usul relawan mau iuran tapi saya tidak mau. Bagi saya, mereka sudah meluangkan ide, waktu dan tenaga untuk galeri. Jadi, tugas relawan lebih ke langkah membantu cari donasi, misalnya donasi buku bekas,” katanya.
Komitmennya dalam mempertahankan dan mengembangkan galeri tersebut merupakan perhatian nyata untuk kemajuan pendidikan. Meskipun hanya sebagai anak desa, jangan sampai pendidikannya kalah dengan anak kota.
Kini setelah tujuh tahun berlalu, Zaki telah mengembangkan beberapa kelas belajar dengan keunggulannya masing-masing. Seperti kelas Bahasa Inggris, membatik, menari, jurnalistik, fotografi, desain grafis, public speaking, serta ada focus group discussion. Galeri tersebut di dalamnya juga dilengkapi dengan taman baca, sanggar komunitas, pemberdayaan masyarakat, pengembangan bakat dan minat serta pusat informasi.
Zaki juga mengembangkan dan mengajarkan kewirausahaan bagi anak-anak yang aktif di galerinya. Sebagai bekal sehingga ketika nanti mereka dewasa bisa mandiri. Bahkan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Tak hanya mendampingi anak-anak dengan belajar, Zaki pun memberi motivasi kepada mereka melalui seminar di berbagai sekolah di kawasan Malang Selatan. Tujuannya, agar mereka memiliki impian dan berusaha untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan ia juga membantu anak-anak itu dengan mencarikan kampus hingga beasiswa. “Karena sebelumnya jumlah siswa yang bisa meneruskan pendidikan hingga kuliah sangat minim dengan berbagai kendala, seperti kendala informasi, jarak maupun ekonomi,” jelas dia.
Seiring berjalannya waktu,  kesadaran siswa dan orang tua akan pentingnya pendidikan makin meningkat. Hal itu terbukti dengan banyaknya anak yang melakukan kegiatan positif, baik di bidang akademik maupun non akademik. Indikatornya ada yang menang lomba video kreasi hingga menari.
Bahkan setiap empat bulan sekali, ia menggelar pentas seni dan budaya nusantara. Tak lain untuk mengapresiasi apa yang telah dipelajari anak didiknya selama empat bulan itu. (tia/van/han)

Sumber : malang-post.com

Advertisements

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s