ANGGI AFRIANSYAH

Peneliti Sosiologi Pendidikan-Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Saya berkesempatan berdiskusi dengan beberapa siswa di sekolah negeri dan swasta di DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Salah satu hal menarik yang didiskusikan adalah perihal membaca buku. Dari hasil diskusi, setidaknya ada tiga kategori siswa pembaca buku.

Pertama, siswa yang hanya fokus membaca buku pelajaran sekolah.

Kedua, siswa yang mem baca sekadar memenuhi kewajiban program gerakan literasi sekolah (GLS).

Ketiga, siswa yang membaca karena memang sudah terbiasa membaca.

Siswa yang hanya berfokus membaca buku pelajaran beralasan kesulitan mencari waktu membaca buku nonpelajaran karena beban tugas sekolah yang begitu banyak. Beban tugas yang berat membuat mereka kesulitan membaca buku di luar teks pelajaran. Siswa yang membaca karena ada program GLS terpaksa membaca ka rena diwajibkan sekolah.

Namun, tidak semua sekolah kon – sisten dalam menjalankan pro – gram GLS ini. Efektivitas pro – gram GLS ini memang amat ber – gantung pada komitmen dan keseriusan sekolah dalam me – mantau kemajuan bacaan anak, jenis buku apa yang dibaca, dan sedalam apa pemahaman siswa mengenai bacaannya.

Kategori ketiga adalah siswa penggemar buku membaca karena memang budaya mem – baca buku sudah tumbuh se – bagai bagian dari keseharian. Me reka sudah dibiasakan mem – baca sejak kecil oleh orang tuan – ya dan beruntung, sebab orang tuanya rutin memberikan ru – juk an buku-buku yang mesti di – baca.

Mereka tak memiliki ma – salah untuk mengakses be ra – gam buku. Sebagai contoh, ada siswa yang sejak kelas X SMA sudah membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer atau – pun karya sastrawan lainnya baik dalam dan luar negeri. Orang tuanyalah yang menge – nalkan dia dengan bacaan-ba – caan tersebut.

Seorang siswa lain, gemar membaca buku-bu – ku berbahasa Inggris karena orang tuanya memberi d u kung – an dan memfasilitasi se tiap ke bu – tuhan bahan bacaan yang di bu – tuhkannya. Di sinilah amat ter li – hat bahwa habituasi minat baca memang dimulai dari ke luarga. Peran guru pun menjadi amat strategis untuk membuat anak senang membaca.

Seorang siswa menjadi serius membaca novel sastra Indonesia terbitan Balai Pustaka karena dia diberi tugas untuk melakukan pemen tasan drama yang di adap – tasi dari novel-novel terbitan Ba lai Pustaka. Dari situ keter ta – rikan membaca buku sastra karya anak bangsa dimulai.

Kebiasaan membaca buku siswa di Indonesia memang men jadi sorotan banyak pihak. Anak-anak Indonesia dianggap tak memiliki minat baca yang memadai. Namun, anak-anak yang saja ajak berdiskusi itu ti – dak berminat membaca bukan karena mereka malas mem – baca, tetapi lebih pada kondisi keluarga, sekolah, ataupun masyarakat di sekitarnya yang memang tak akrab dengan bu – ku. Mereka tak dikenalkan de – ngan buku sejak dini.

Keterbatasan

Dari data UNICEF (2012) ter ungkap bahwa lebih dari 50% keluarga kaya di negara berkembang memiliki tiga buku atau lebih bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sementara untuk keluarga miskin, hanya 5% yang memiliki tiga buku atau lebih bagi anak-anaknya.

Masih menurut data tersebut, orang-orang di komunitas mis – kin, baik di negara maju mau – pun negara berkembang, pada umumnya tidak memiliki ba – han bacaan yang cukup, ter ba ru, dan relevan bagi anak-anak-nya. Anak-anak yang tidak me – miliki budaya baca yang me ma – dai memang belum tentu ka – rena motivasinya yang rendah dalam membaca.

Bisa jadi kon – disi tersebut adalah karena me – reka tidak mendapat bahan bacaan yang memadai sedari kecil. Mereka ada di lingkungan keluarga yang tidak membaca, sekolah yang tidak mem bu da – yakan membaca, ataupun masyarakat yang minim budaya bacanya. Kondisi yang diper bu – ruk dengan fasilitas per pus ta – kaan yang jauh dari memadai.

Anak semakin kesulitan meng – akses ataupun terpapar bahan bacaan yang sesungguhnya dibutuhkan mereka. Jika anak-anak yang berasal dari keluarga yang kekurangan tidak mampu menyediakan buku, di sinilah pentingnya ling – kungan sekolah ataupun ko mu – nitas yang ada di masyarakat menyediakan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Komunitas-komunitas baca yang tersebar di beragam tem – pat menjadi salah satu solusi bagi meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia. Sayangnya, jumlah per pus – takaan di sekolah masih belum me madai. Merujuk pada data sta tistik pendidikan 2017 yang dirilis oleh Badan Pusat Sta tistik, jumlah sekolah yang me miliki per pustakaan masih ku rang dari 80%.

Di jenjang SD, 60% sekolah memiliki per pus takaan, di jen – jang SMP dan SMA, 76% sekolah memiliki per pustakaan, dan di jenjang SMK, 60% sekolah me – miliki perpustakaan. Data ter se – but baru menyebutkan ada atau tidaknya perpustakaan, belum pada kondisi perpustakaan se perti kondisi dan ke leng – kapan koleksi buku yang ada di per pus takaan masing-masing sekolah.

Di Jakarta, ibu kota negeri ini saja misalnya, masih ter – dapat sekolah yang hanya se – kadar memiliki perpustakaan saja, tapi koleksi bukunya sa – ngat minim dan bahkan sudah lama tidak diperbaharui. Yang ada hanya buku-buku jadul ma – sih menjadi andalan. Kebiasaan membaca buku sangat berarti bagi tumbuh kem – bang para siswa.

Melalui aktivitas membaca mereka akan terbiasa mendalami setiap persoalan secara mendetail. Tidak terburuburu menyim pul kan setiap perma salahan. Apalagi jika diim – bangi dengan kemampuan mem – baca secara kritis. Pem ba caan secara kritis amat di per lu kan dalam kondisi saat ini.

Pada saat kita di ha dapkan dengan per soal – an ma rakn ya informasi yang ber – isi kan ujaran kebencian atau pun hoaks. Kemampuan mem baca se cara mendalam akan me nang – kal informasi yang tak ber tang – gung jawab tersebut. Setiap yang informasi tidak di te lan mentahmentah begitu saja, tetapi di ve ri – fikasi secara hati-hati.

Tentu saja, pada era digital saat ini, membaca buku tentu saja tidak hanya terbatas pada buku fisik tetapi juga melalui buku elektronik. Dan internet memberikan akses besar bagi kita untuk mengakses jutaan koleksi ragam buku elektronik tersebut. Siswa dan guru harus didorong memanfaatkan ke – mu dahan ini.

Pada 2017 siswa SD/sederajat yang mengakses internet sebesar 12,1%, siswa SMP/sederajat sebesar 55,4%, siswa SMA/sederajat sebesar 81,3%, dan mahasiswa di per – guruan tinggi (PT) sebesar 91,2% (BPS, 2017). Persoalan – nya adalah seberapa intensif mereka menggunakan internet untuk membaca beragam re fe – rensi terkait pelajaran ataupun pengetahuan lainnya.

Optimalisasi penggunaan gawai untuk mendukung pembelajaran per – lu ditingkatkan terus-menerus. Menguatkan semangat mem baca akan berkontribusi besar pada upaya pencerdasan anak bangsa. Menjadikan mereka generasi berwawasan luas, tidak cupet , dan terbuka terhadap beragam perspektif. Menggelorakan agar anak mi – nat baca menjadi amat pen ting untuk terus diupayakan.

Sumber : koran-sindo.com

Advertisements

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s