Menyulap Garasi Rumah Menjadi Rumah Baca untuk Anak Papua

Jayapura – Sore itu, Jumat, 15 April 2016, puluhan anak-anak tampak begitu riang gembira berkumpul di sekitaran Jalan Lembah II/7 Angkas Indah, Kota Jayapura, Papua. Sambil memegang sejumlah buku bacaan, anak-anak itu berjingkrak-jingkrak meluapkan kegirangannya. Ada apa rupanya, ternyata anak-anak itu begitu bergembira karena mendapat kiriman buku-buku baru untuk jadi bahan bacaan mereka.

Anak-anak Papu sedang serius membaca buku di Rumah Baca (Ruba) yang didirikan secara sukarela oleh Rani dan Toshie. (Suara Pembaruan/Robert Isidorus)

Tak lama muncul seorang wanita yang langsung menjelaskan dari mana buku ini didapatkan. Widiang Maharani Maidepa (43), demikian nama wanita paruh baya itu, menjelaskan bahwa buku-buku itu adalah kiriman dari para alumni SMA yang pernah bersekolah di Jayapura tahun 1987-1989.

“Ada juga kiriman daro ACS Grup (Autojaya Idetech-Solusi Periferal) yang berkantor di Jakarta,” ujar Rani, begitu ia bisa disapa.
Kebetulan saat itu hadir Grace Sihombing, wakil para alumnus yang juga membawa buku-buku bacaan kepada anak-anak tersebut.

Grace Sihombing kelihatan senang bukan main melihat kegembiraan anak-anak dari berbagai macam daerah yang hadir di tempat itu. Ada sekitar 50-an buku yang dibawa Grace.

Tempat itu adalah Rumah Baca bagi anak-anak Papua, yang didirikan secara sukarela oleh Rani dan suaminya Toshi Maidepa (45). Rumah Baca itu kemudian disingkat menjadi Ruba, yang saat ini mulai terkenal sebagai taman bacaan terbaik bagi anak-anak di Jayapura.

Awalnya, ungkap Rani, ia mengajar anak-anak berusia 4-15 tahun untuk membaca dan menulis di ruang tamu di rumahnya di Jalan Lembah II/7 Angkas Indah, Kota Jayapura tersebut.

“Awalnya hanya dua orang anak lalu bertambah menjadi tiga orang dan seterusnya sampai menjadi 12 orang,” ujar Rani.
Namun lama kelamaan, ruang tamu itu menjadi penuk sesak sehingga sudah tak memadai lagi untuk menjadi tempat belajar-mengajar. Bantuan buku-buku pelajaran pun berdatangan dari berbagai kenalan dan institusi.

Akhirnya timbul ide Rani untuk mengubah garasi mobil di rumahnya menjadi ruang belajar khusus bagi anak-anak yang berusia 4-15 tahun. “Suami saya mendukung ide ini,” tutur Rani kepada SP.

Rani mengaku telah mengajar anak-anak membaca dan menulis lebih dari 7 tahun lamanya di tempat ia tinggal.
Sekitar 6 tahun lalu, Rani dan suaminya Toshi, merenovasi garasi mobil di rumah mereka menjadi Ruba. Rani menyadari untuk mengajar memerlukan tempat yang layak, dan garasi mobil di rumahnya dirasakan cukup memenuhi syarat.

Dan benar, anak-anak sekitar semakin banyak yang mendatangi tempatnya untuk belajar menulis, menggambar, dan bermain bersama. Bantuan buku-buku pun terus berdatangan.

Dalam mengembangkan kegiatan pendidikan ini, bukannya Rani tidak mendapatkan tantangan. Perempuan yang juga gemar membaca ini sempat patah arang, lantaran banyaknya anak yang mendatangi Ruba hanya ingin bermain game.

Namun dirinya tak putus asa. Dengan dorongan semangat dari suaminya, Rani terus mengembangkan ide bagaimana membangun minat baca kepada anak-anak didiknya.

Rani pun menyediakan ruang bebas bermain kepada anak-anak, dengan satu syarat wajib membaca buku dalam satu jam pertama, sebelum bermain.

“Jadi setiap anak-anak datang, satu jam pertama harus membaca buku dahulu baru bisa memilih permainan edukasi. Nah, dari situlah tadinya hanya sekedar lihat-lihat gambar, lama-lama penasaran, ini gambar seperti ini, ceritanya apa ya?. Dan lama-lama mereka membaca, dan akhirnya mereka pinjam buku untuk dibaca di rumah mereka,” kata Rani.

Tadinya, menurut Rani, setiap anak yang meminjam buku mulai dari 5 buku sampai belasan buku dan dalam waktu seminggu mereka mengembalikannya. “Mereka menjadi suka baca, jadi saya senangnya disitu. Dari buku yang ada gambar sampai buku yang tidak ada gambar, ada yang sudah menikmati buku tanpa gambar,” katanya.

Kalau di total sampai saat ini, lanjutnya, bisa mencapai 120-an lebih anak, namun mereka tidak sekaligus datang sehingga ruangan yang ada bisa tetap menampung kegiatan belajar mengajar.

Kata dia, ada juga yang tidak pernah absen dalam setiap jadwal belajar membaca dan edukasi bermain. “Ada satu anak yang datang mulai dari belum sekolah sampai anak itu sudah duduk di bangku SMP kelas 1 dan masih aktif belajar disini,”ujarnya.

Buku-buku bacaan di Ruba milik Rani tersebut, tak hanya tersedia dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggeris. “Teman saya Fani Materai dari Amerika Serikat, mengirim buku-buku berhasa Inggeris,” ungkap Rani.

Motivasi besar Rani mendirikan rumah baca karena melohat masih minimnya minat baca anak-anak di daerah itu. Ia melihat betapa pentingnya membaca, sehingga ia bertekad untuk bisa mendirikan rumah baca meski dalam kondisi sederhana.

“Sebenarnya anak-anak ini bukan tidak suka baca, hanya saja akses ke buku itu yang susah. Jadi untuk mendapatkan selain mahal juga sangat jarang. Anak-anak jarang dapat buku yang isinya bagus dan pasti mahal banget,” ucapnya.

Saat ini buku-buku mulai bertambah banyak di Ruba milik Rani. Tak jarang anak-anak meminjam buku untuk dibawa pulang, namun keesokan harinya dikembalikan.

Apa ada iuran untuk membaca dan bermain di Ruba? “Semuanya gratis karena dirinya ingin anak-anak menjadi pintar dengan membaca buku, tanpa harus terpengaruh dengan zaman digital saat ini,” ujarnya.

Cita-cita Rani dan Toshi, ke depan bagaimana mereka bisa mempunyai perpustakaan keliling yang bisa melayani anak-anak Papua untuk kebutuhan bacaan mereka.

Dengan perpustakaan keliling, Rani berharap bisa masuk-masuk ke kampung-kampung untuk mengajar anak-anak betapa pentingnya membaca.

“Saya juga berharap bisa ada taman bermain untuk anak-anak,” ujar Rani yang tetap membiayai sendiri kelangsungan Ruba tersebut.

Ruba dibuka setiap hari Selasa dan Jumat pukul 14.00 hingga 17.00 WIT.

Gloria Lewier, salah satu anak yang aktif di Ruba mengaku sangat senang belajar di rumah baca tersebut. “Senang sekali saya belajar disini, karena bukan hanya teman-teman seumuran saya. Ada juga adik-adik yang masih belum sekolah, saya bisa ajari mereka baca sambil mengartikan gambar yang adik-adik lihat,” kata Gloria yang tinggal tidak jauh dari Ruba tersebut.

Gloria juga mengaku, awalnya saat belum sekolah ia mendengar ada tempat belajar di kompleks tempat ia tinggal. Saat masuk Taman Kanak-Kanak (TK), ia diantar orangtuanya untuk belajar bersama di Ruba bersama anak-anak lainnya.

“Mama dan papa menyuruh saya belajar di Mama Rani, supaya cepat pintar, dan saya suka sekali belajar di sini,” ujar siswa Kelas 4 SD di Jayapura ini.

Program Manajer Word Vision Indonesia (WVI) Papua, Rina Wiradiharjo Gedi mengaku salut dan bangga akan kepedulian Widiang Maharani Maidepa. “Saya salut dan bangga ada perempuan yang selama terus menerus ,selama 7 tahun menjalankan kepeduliannya kepada anak-anak agar rajin membaca buku dan mendirikan rumah baca. Ini patut jadi perhatian semua kita,” katanya.

Sumber: beritasatu.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s