Sebagaian Besar Kota dan Kabupaten tidak Memiliki Perpustakaan

SUKABUMI – Sebanyak 260 dari 446 Kota dan Kabupaten se-Indonesia, tidak memiliki perpustakaan daerah. Begitupun daerah yang memiliki perpustakaan hanya mengalokasi anggaran sedikit dibandingkan anggaran kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Hal tersebut diungkapkan anggota komisi X, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Reni Marlinawati.

Di sela-sela kegiatan Seminar dan Musyawarah Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI), Reni Marlinawati menegaskan keterbatasan dan ketidakansedian perpustaan daerah berdampak rendahnya minat baca d masyarakat. Apalagi persepsi masyarakat yang masih menganggap sebelah mata keberadaan perpustakaan memicu rendahnya para pelajar berkunjung ke perpustakaan.

“Seharusnya keberadaan perpustakaan bukan sekadar mengisi waktu, tapi merupakan kebutuhan. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca tetapi menjadi bagian dalam kegiatan sehari-hari. Terutama bagi para pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Reni Marlinawati mengatakan pemerintah daerah harus secepatnya mengubah berbagai strategi pelayanan perpustakaan. Keberadaannya, tidak lagi menjadi ruang yang sepi. Tapi harus dilengkapi fasilitas ruang berdiskusi, berdebat dan untuk menyalurkan minat dan bakat.

“Tidak ada salahnya, bila dalam perpustakaan disediakan ruangan bernyanyi dan menari. Termasuk melakukan berbagai kegiatan berlombaan lomba baca buku secara rutin,” ucapnya.

Serupa diungkapkan Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab seluruh elemen masyarakat harus secara bersama menggerakkan gemar membaca. Dia merasa yakin pemerintah tidak mampu secara sendiri menanganai keberadaan perpustakan. “Kita telah terlalu lama memunggungi buku sehingga semua pihak harua terlihat untuk menggelorakan kemali program minat baca,” ujarnya.

Kepala Perpustakaan Nasional, Edi Junaedi membantah bila minat baca rendah. Dia berdalih minat beca masyarakat justru meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kunjungan ke perpustakaan baik melalui online maupun datang langsung ke perpustakaan.
“Dibandingkan lima tahun lalyu, minat baca kini telah meningkat. Diperkirakan sebanyak 1.2 juta perbulan yang mengunjungi perpustakaan online,” katanya.

Kendati ada peningkatan , kata Edi Junaedi keberadaan perpusatakaan di daerah masih ada kendala. Kewenangan mengangkat dan memberhentikan Kepala Perpustakaan justru berdampak terhadap pengelolaannya. Selama ini, banyak kepala perpustakaan daerah yang diangkat dan diberhentikan tanpa memikirkan dampaknya. “Gubernur atau wali kota terlalu cepat memutasikan kepala kantor atau badan perpustakaan. Kami berasumsi jabatan kepala perpusakaan masih dipandang sebelah mata,” katanya.

Sumber: pikiran-rakyat.com

Leave a comment

Filed under Pustakawan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s