Perahu Pustaka Pattingalloang Tularkan Virus Membaca ke Anak-anak Pulau Terpencil

POLEWALI MANDAR, Setelah hampir dua bulan tidak berlayar, Perahu Pustaka Pattinggalloang kembali berlayar ke pulau-pulau terpencil di Indonesia, menebar virus membaca.

Gerakan literasi ke berbagai pulau terpencil dan pesisir pantai Nusantara selama 20 hari ke depan ini diharapkan bisa melecut semangat membaca dan menimba ilmu di tengah keterbatasan sumber bacaan, terutama di kalangan anak-anak pulau.

Penggagas perahu pustaka yang juga penulis sekaligus peneliti kebaharian Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, bersama komunitas anak-anak muda Pambusuang menyebutkan, pelayaran perahu pustaka kali ini sengaja dilakukan tepat pada peringatan Hari Buku Internasional yang jatuh pada tanggal 23 April.

“Pada momen peringatan hari buku internasional tahun ini, perahu pustaka akan berlayar melewati tiga perairan, yakni Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Bone yang akan ditempuh selama dua puluh hari,” tutur Ridwan, Sabtu (23/4/2016).

Sebelumnya, Perahu Pustaka Pattingalloang yang mengoleksi ratusan judul buku ini mengalami kerusakan saat pulang dari Festival Sungai Mandar di Kecamatan Tinambung.

Setelah memperoleh perbaikan di beberapa bagian perahu, seperti bagian lambung, termasuk palatto atau penyeimbang perahu, Perahu Pustaka Pattingalloang mulai berlayar kembali, dari Pantai Pambusuang,  melewati Selat Makassar, Teluk Bone, hingga ke Laut Flores.

Dalam pelayarannya ini, Perahu Pustaka Pattingalloang membawa tidak kurang dari dua ratus buku bacaan berbagai kategori, mulai dari buku-buku komik anak-anak, buku fiksi, hinggabuku-buku pelajaran sekolah. Delapan puluh persen buku hasil sumbangan para donatur yang bersimpati dengan gerakan literasi ke pulau-pulau terpencil ini adalah bacaan untuk kalangan anak-anak sekolah.

KOMPAS.com Berbekal perahu nelayan yang duisulap menjadi peahu pustaka Muhamamd Ridwan Alimuddin bersama komunitas anak-anak muda Tinambung menyambangi pulau-pulau terpencil di Sulawesi barat dan sekitarnya.

Jumlah buku yang dibawa ini lebih sedikit dari yang biasanya karena ratusan buku koleksi Perahu Pustaka Pattingalloang banyak yang rusak saat kecelakaan.

Ridwan mengatakan, di setiap pulau terpencil, Perahu Pustaka Pattingalloang akan berlabuh selama dua hari dan menggelar buku-buku bacaan di dermaga maupun di tepi pantai. Ia berharap, kegiatan ini mampu menebar ilmu kepada anak-anak yang bermukim di pulau terpencil, yang sulit mendapatkan buku bacaan.

“Ini adalah gerakan literasi selama dua puluh hari ke depan. Jadi, di setiap pulau atau pesisir, kami manfaatkan dua sampai tiga hari dan setiap pagi dan sore untuk menggelar buku untuk anak-anak yang ada di pulau terpencil,” ucapnya.

Perahu Pustaka Pattingalloang hanyalah salah satu kapal pustaka yang digagas Ridwan bersama kelompoknya untuk menebar ilmu lewat buku bacaan di laut hingga ke pegunungan terpencil.

Sebelumnya, mereka juga telah menggagas hal serupa lainnya, seperti Bendi Pustaka, Becak Pustaka, dan Motor Pustaka, yang digunakan untuk menebar virus membaca ke pedalaman terpencil di Polewali Mandar.

Selain itu, Ridwan cs juga memiliki perpustakaan yang diberi nama Pustaka Nusantara di Tinambung. Selain mengoleksi buku, perpustakaan ini juga membawa koleksi miniatur kapal mulai dari zaman dahulu hingga hingga perahu saat ini. Salah satunya adalah perahu sandeq.

Sumber: kompas.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s