Perpusnas Budayakan Masyarakat Gemar Membaca

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia berupaya membudayakan gemar membaca pada semua kalangan karena masyarakat Indonesia belum memiliki minat baca.

Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI Sri Sumekar di Gunung Kidul, Jumat (22/4), mengatakan pada 2015 Perpustakaan Nasional RI telah melakukan kajian mengenai minat baca masyarakat Indonesia.

“Kajian dilaksanakan di 12 provinsi dan 28 kabupaten/kota atau sudah tercakup 75 persen populasi wilayah Indonesia, ternyata nilai budaya baca secara nasional 25,1 atau berada pada peringkat rendah,” kata Sri Sumekara.

Ia mengatakan ada empat indikator utama dalam menentukan minat baca masyarakat Indonesia tersebut, yaitu frekuensi membaca per minggu, lama waktu membaca, jumlah halaman yang dibaca per minggu, dan alokasi dana untuk membeli buku per tahun.

Data hasil penelitian, jelas menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki minat baca, apalagi menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Apabila dibandingkan dengan negara lain, minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah.

“Minat baca masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah karena berdasarkan data dari BPS 2012, bahwa 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi dan hanya 17,66 persen pennduduk yang menyukai membaca surat kabar, buku dan majalah,” katanya.

Ia menyampaikan pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga yaitu dengan penyediaan perpustakaan keluarga walau sederhana dengan bahan-bahan bacaan seadanya, satuan pendidikan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai bagian integral proses pembelajaran, dan masyarakat dengan penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan berkualitas.

“Strategi pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca dapat dilaksanakan dengan mengevaluasi pemberdayaan perpustakaan secara terkoordinir antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Perlu Komitmen dan kesungguhan aksi semua komponen bangsa baik di pusat maupun daerah sehingga diharapkan dapat terdorong untuk membaca dan belajar sepanjang hayat,” katanya.

Anggota Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti mengatakan kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menonton televisi lebih tinggi daripada membaca buku.

“Masyarakat Indonesia, termasuk pelajar paling suka berlama-lama di depan TV bisa sampai lima jam per hari,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian, menurut Esti, masyarakat Indonesia belum tentu bisa menyelesaikan satu judul buku per tahun, padahal di negara lain bisa 4-5 judul buku per tahun.

“Kami mengajak dan mendorong kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan gerakan bersama gemar membaca mulai dari keluarga,” katanya.

sumber: skalanews.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s