Pahlawan Buku dari Sukopuro

Umur Eko Cahyono 36 tahun.  Beberapa kali dia diwawancarai Andy F. Noya, di acara Kick Andy. Dan terpilih sebagai salah satu Kick Andy Heroes.  Eko juga telah dinobatkan PT Astra International sebagai salah satu sosok inspiratif nasional, melalui kegiatan CSR-nya: ”Satu Indonesia Awards.”  Selain dua penghargaan tersebut, ada banyak penghargaan lain diterima Eko, yang piagamnya dipajang di dinding tempat tinggalnya.

Eko, warga asli Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini memang sosok luar biasa. Sejak 1998 silam, ketika umurnya masih 18 tahun, dia mulai mengumpulkan buku-buku bacaan. Buku apa saja. Yang penting bermanfaat. Cara Eko mengumpulkan buku pun patut diapresiasi. Kala itu, dia hanya mampu membeli buku-buku bekas serta majalah bekas. Selain itu, dia juga rajin dan sangat telaten meminta donatur buku kepada orang-orang yang keluar dari toko buku. Orang-orang itu dia cegat, dan secara terang-terangan Eko meminta buku kepada mereka. Eko berasumsi, orang-orang yang keluar dari toko buku dan membeli buku, di rumahnya pasti ada banyak buku.

Cara meminta buku seperti ini, tak ayal membuat Eko sering dicaci, bahkan dicemooh orang.   Tapi Eko tak pernah patah semangat untuk meminta sedekah buku dari orang-orang yang keluar dari toko buku. Dan memang, ada saja orang yang mau dimintai buku.  Untuk orang yang mau dimintai buku ini, Eko siap mendatangi rumahnya. Dimana pun jauhnya rumah itu.

Setelah buku mulai banyak terkumpul, Eko mendirikan sebuah gubuk, seukuran rumah tipe 21, di sebuah lahan pinjaman di desanya. Gubuk itu dia jadikan perpustakaan untuk menghimpun buku-buku yang dia kumpulkan tadi. Jadilah gubuk itu sebagai taman bacaan. Siapa pun boleh datang ke gubuk itu untuk membaca-baca buku. Boleh juga meminjamnya. Dan Eko tidak memungut biaya bagi yang meminjam buku dan membawanya pulang. Inilah memang yang menjadi cita-cita Eko. Dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi. Tapi, tidak bisa melanjutkan sekolah, bukan berarti tidak bisa mendapatkan ilmu. Eko pun gigih untuk mendapatkan ilmu dari buku-buku yang dia kumpulkan. Dan Eko ingin, anak-anak muda di desanya yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, mau rajin membaca seperti dirinya. Inilah yang mendasari Eko, mengapa dia harus gigih mencari dan mengumpulkan buku. Gigih mendirikan taman baca, meski untuk mendirikan taman baca ini, dia harus menghabiskan tabungannya yang dia kumpulkan dari gajinya yang tidak seberapa sebagai penjaga toko.

Waktu terus berlalu. Dan Eko pun semakin gigih mengumpulkan buku. Dia sangat rajin dan telaten mencari peluang, agar bisa mendapatkan buku-buku berbobot secara gratis. Sering dia datangi sendiri tempat-tempat yang jauh, demi mendapatkan buku-buku. Sering pula dia melakukan korespondensi dengan perorangan atau lembaga. Pokoknya, di mana ada peluang untuk bisa mendapatkan buku gratis, di situlah Eko akan all-out masuk dan mendapatkannya.

Ketelatenan Eko akhirnya membuahkan hasil. Semakin banyak saja orang-orang atau lembaga yang percaya dengan komitmen mulia Eko.  Tak cukup hanya itu. Kegigihan Eko banyak mendapatkan simpati. Satu per satu penghargaan berhasil dia raih. Dia pun banyak mendapatkan hadiah. Mulai dari piala, piagam, sertifikat, hingga uang tunai. Hadiah uang tunai, tidak dia pakai untuk keperluan sendiri. Tapi dia tabung. Dari uang tabungannya ini, Eko berhasil membeli lahan di desanya. Dari lahan tak seberapa luas yang dia beli itu, dia mendirikan bangunan yang lebih permanen untuk dijadikan perpustakaan. Kini koleksi buku-buku Eko sudah mencapai 98 ribu buku. Mulai dari buku sangat langka hingga buku-buku yang sedang booming di pasaran buku. Mulai dari buku fiksi hingga nonfiksi. Berbagai jurnal ilmiah juga ada. Tak heran, jika perpustakaan Eko ini banyak menjadi jujukan para mahasiswa, dosen, dan peneliti. Tak hanya dari Malang Raya. Ada juga dari Jogja, Jakarta, Bandung, dan lain-lain. Dari luar negeri juga ada. Baru-baru ini, Eko kedatangan tamu dari Korea Selatan yang secara khusus ingin melihat dari dekat sosok Eko dan kegigihannya dalam memperjuangkan taman bacaan bagi masyarakat di pedesaan.

Kini, Eko malah kewalahan menerima donasi buku-buku dari perorangan maupun lembaga. Sehari-harinya dia mengabdikan waktunya secara total untuk mengurus dan mengelola buku-bukunya serta melayani siapa saja yang ingin mampir ke perpustakaannya. Hampir semua buku yang menjadi koleksinya, Eko sangat hafal isinya. Saking all-out-nya Eko dengan buku-bukunya itu, dia sampai terlena dengan umurnya. Belum menikah, padahal sudah 36 tahun. Saya dua kali ke perpustakaannya. Terakhir Rabu lalu (20/4/2016). Dia banyak menceritakan tentang aktivitasnya yang semakin sibuk ngurusi buku-buku koleksinya. Saya pun sempat mengingatkannya agar segera mencari pendamping hidup. Dia hanya menjawab dengan senyuman. Entahlah, apakah dia sudah punya calon atau belum.

Ada yang membuat dia risau belakangan ini. Di satu sisi, semakin banyak buku yang harus ditampung dan semakin banyak pengunjung yang datang ke perpustakaannya. Di sisi lain, bangunan yang saat ini dia gunakan sebagai perpustakaan itu posisinya semakin terdesak. Di bagian depan, samping kanan dan belakang, ditutup oleh rumah warga. Di sebelah kiri, ada satu rumah yang akan dijual oleh pemiliknya.  Rumah inilah yang sebenarnya diincar oleh Eko, untuk keperluan memperluas perpustakaannya. Sebab, ini adalah satu-satunya jalan untuk membuat perpustakaannya agar tidak semakin terjepit. Tapi, Eko tak punya cukup uang untuk membeli rumah yang harga jualnya dipatok ratusan juta itu. Jika rumah itu tidak terbeli oleh Eko, maka akan semakin terjepitlah perpustakaan milik Eko.  ”Jika ada yang mau beli rumah itu, saya berharap si pembeli mau mengontrakkannya kepada saya. Syukur jika ada yang bersedia menghibahkan untuk kepentingan perpustakaan ini,” kata Eko.

Saya pun berjanji kepada Eko, untuk membantu memublikasikan kesulitannya. Ya lewat tulisan ini. Barangkali ada yang tertarik untuk membantu atau memberikan jalan keluar kepada Eko.  Saya berjanji akan menjadi penghubungnya. Toh, yang dilakukan Eko bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Perpustakaan di Desa Sukopuro itu telah menjadi harapan banyak orang, terutama kalangan tidak mampu. Dan telah menjadi oase, bagi siapa saja yang merasa dahaga akan  ilmu pengetahuan. Mas Eko, bersabar ya….Insya Allah akan ada jalan keluarnya. (Bagi yang merespons tulisan ini, bisa dikirim keshindid@yahoo.com)

Sumber: radarmalang.co.id

Leave a comment

Filed under Pustaka

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s