Membaca, Kunci Utama Pendidikan Sebuah Bangsa

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan para guru atau orang tua adalah memberikan cap atau penilaian tidak baik terhadap seorang anak. Padahal untuk memberikan penilaian tersebut tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Apalagi hanya dilandasi rasa lelah dan tak ingin kesenangan sebagai guru atau orang tua terganggu. Hal ini tentu menjadi preseden buruk bagi terbentuknya jiwa anak yang lebih baik di masa mendatang.

Dalam sebuah diskusi mengenai proses pendidikan dan belajar mengajar di rumah dan sekolah, ternyata masih banyak ditemukan guru dan orang tua yang tak memahami arti sebuah pendidikan. Dan yang paling parah adalah tidak bisa membedakan antara pendidikan dan pengajaran. Dua hal yang selintas sama namun jelas berbeda. Karena pendidikan lebih mengutamakan pembentukan karakter yang lebih baik. Sedangkan pengajaran hanya sebatas membangun pemahaman terhadap sebuah materi pelajaran. Untuk mendidik, seseorang perlu membaca lebih banyak buku dengan berbagai tema. Sedangkan untuk mengajar cukup membaca satu buku tentang pelajaran yang dimaksud. Maka seorang pendidik pastilah bisa mengajar. Namun seorang pengajar belum tentu bisa

mendidik. Dalam mendidik diperlukan kecakapan khusus untuk memahami karakter peserta didik, memberikan jalan keluar atas berbagai permasalahan yang dihadapi sesuai dengan karakter anak didik dan terbentuknya karakter positif baru setelah permasalahan itu terselesaikan. Dan itu semua tak akan diperoleh dari buku pelajaran manapun di tingkat pendidikan apapun. Hal tersebut hanya bisa diperoleh saat seorang pendidik mau membaca berbagai macam buku, bahkan yang tak ada kaitannya dengan profesi yang sedang digelutinya. Sedangkan dalam proses mengajar, biasanya cukup sampai dengan tahap anak memahami sebuah materi. Ada dan tak ada perubahan sikap atau karakter setelahnya tak menjadi soal.

Pepatah mengatakan buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. “Kunci” inilah yang sekarang ini hilang dalam tradisi pendidikan kita sehingga banyak orang yang melarat dan kelaparan padahal ada di depan gudang. Sebenarnya semua permasalahan atau kemelut pendidikan bisa diselesaikan dengan membaca. Karena membaca adalah esensi pendidikan. Secara ekstrim mungkin dapat dikatakan lebih baik tidak sekolah atau kuliah tapi memiliki kegemaran membaca yang tinggi, daripada menjadi orang kuliahan tapi tidak memiliki tradisi membaca yang baik (Suherman, 2009). Contoh nyata adalah Ajip Rosidi. Meski pendidikannya hanya sebatas Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun berkat kecintaannya pada buku dan ketekunannya dalam membaca, beliau bisa mengajar Bahasa Indonesia di Jepang selama sekitar 20 tahun dan mendapat gelar profesor dari salah satu universitas di sana.

M

embaca sering terlihat sebagai sebuah aktivitas sederhana dan dapat dilakukan siapapun, dimana dan kapan saja, selama orang tersebut melek huruf dan memiliki kemauan yang kuat untuk lebih memahami kehidupan beserta nilai-nilainya. Namun membaca, bagi kebanyakan orang saat ini tetap saja dianggap sebagai kegiatan tidak populer. Padahal meski sederhana, efeknya luar biasa. Membaca buku-buku “ringan” seperti novel, bila dilakukan secara rutin akan mampu merubah karakter dan pembawaan seseorang. Maka untuk menjadi seorang pendidik dan anak didik yang mumpuni, perbanyak membaca buku-buku di luar mata pelajaran. Ambil setiap hikmah yang terserak dari kumpulan kata-kata yang mampu memikat jiwa, menggugah rasa dan menindak nyata dalam perjalanan kehidupan yang lebih tenang, bersahaja, dan menghormati sesama.

Jadi, membaca bisa menjadi kunci utama pendidikan sebuah bangsa. Semakin tinggi minat baca sebuah bangsa, akan semakin baik tatanan nilai kehidupan bangsa tersebut. Saling menghormati, toleransi, budaya antri, membantu tanpa diminta, perhatian penuh terhadap kondisi sesama dan berjuta nilai kebaikan lainnya akan mudah ditemui. Tinggal keinginan kuat kita untuk membudayakan hal yang tak populer ini menjadi satu hal yang kelak tak bisa ditinggalkan. Menjadi suatu hal yang memunculkan rasa gamang bila tak sempat membaca dalam hari-hari yang dilaluinya. Memang bukan pekerjaann mudah. Namun tak ada hal yang sia-sia bila kita mau terus berusaha. Biar hanya satu orang yang tergugah dari sekian puluh orang yang pernah kita ajak. Karena sudah menjadi sunatullah kalau kebaikan hanya mampu diikuti oleh segelintir orang saja. Selamat membaca. Selamat menikmati kehidupan yang lebih baik dan menentramkan.

*)Penulis adalah Pengelola Rumah Baca Kaizen, tinggal di Pontianak.

Sumber: pontianakpost.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s