Kartini Berontak karena Peristiwa Kecil Ini di Bawah Pohon, Simak Kisahnya

JAKARTA – Sejak kecil Raden Ajeng Kartini memang sudah menunjukkan tanda-tanda jiwa pemberontakan.

Kerap mendobrak tata aturan yang berlaku dalam sistem adat Jawa saat itu, Kartini dijuluki Kuda Kore atau si Kuda Liar karena sering meloncat-loncat dan sulit diatur.

Julukan itu diungkapkannya melalui surat kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar di Belanda.

Kartini kecil memang lincah, gesit, dan pandai. Kepada Nyonya Abendanon, Kartini menceritakan kisah mula pemberontakannya itu melalui surat pada Agustus 1900, empat tahun sebelum ajal menjemputnya.

Usai pelajaran sekolah di Europeesche Lageree School (ELS) sekolah setingkat SD, siang itu Kartini asik bermain dan bertemu gadis Belanda yang sedang menikmati buku bacaan di bawah pohon.

Gadis Belanda jangkung dan pirang itu bernama Letsy Demar. Lalu Kartini berkata pada Letsy,

“Ayo Letsy, ceritalah, apa saja bacakan sedikit dari bukumu,” ujar Kartini penuh antusias. Tampaknya Kartini iri dengan kegiatan membaca Letsy.

Lantas Letsy mengungkapkan bahwa ia membaca buku Perancis agar dapat masuk ke sekolah guru di Belanda.

Sejurus kemudan Letsy lantas bertanya kepada Kartini, “Tapi Ni, kau belum pernah cerita kepada saya, akan jadi apa kau nanti,” ujar Letsy.

Sontak pertanyaan itu yang menjadi pemikiran panjang Kartini. Pertanyaan sederhana dan prinsip bagi seorang perempuan Jawa yang hidup di alam feodalisme saat itu.

Kartini pun bertanya kepada RM Sosroningrat, ayahnya yang seorang Bupati Jepara. Dengan cepat sang ayah menjawab, “Raden Ayu,”

Jawaban itu membuat Kartini tak lagi bisa memanjangkan impiannya. Jika kelak besar ia hanya bisa menjadi seorang Raden Ayu.

Raden Ayu adalah sebutan atau panggilan jika seorang Raden Ajeng sudah masuk ke jenjang pernikahan, maka ia disebut Raden Ayu.

Majalah Tempo dalam edisi khusus Kartini pada April 2013 mencatat peristiwa inilah yang menjadi gerbang pemberontakan Kartini.

“Inilah jawaban yang kelak malah membangkitkan jiwa Kartini untuk berontak terhadap peraturan-peraturan. Bahwa menjadi raden ayu berarti seorang gadis harus kawin, harus menjadi milik seorang laki-laki, tanpa mempunyai hak untuk bertanya apa, siapa, dan bagaimana,” demikian ditulis Tempo.

Sumber: pojoksatu.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s