Minat Baca Rendah, Penjualan E-Book Hanya 2%

SURABAYA – Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) terus mendorong penerbit di Indonesia untuk menerbitkan buku dalam bentuk digital (e-book ) guna mendorong minat baca di Indonesia.

Saat ini masih sedikit penerbit yang bersedia menerbitkan buku dalam bentuk digital karena khawatir masalah keamanan. Kepala Bidang Pengembangan Buku Digital Ikapi Hary Candra mengatakan, ada dua masalah utama dalam pengembangan buku digital di Indonesia. Pertama, penerbit masih takut menerbitkan buku digital karena belum yakin dengan masalah keamanan.

Kedua, permintaan buku digital masih belum besar di Indonesia. Kedua hambatan ini sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditakutkan karena dengan perkembangan teknologi, sisi keamanan maupun permintaan bisa dengan mudah dicari solusinya. “Untuk keamanan, misalnya, penerbit masih takut jika buku yang diterbitkan bisa diperbanyak dengan mudah karena hanya berbentuk soft copy ,” katanya.

Untuk masalah keamanan ini, lanjut dia, sudah ada banyak teknologi yang dikembangkan, misalnya dengan digital right management (DRM). Dengan teknologi tersebut, penerbit seharusnya tidak takut lagi untuk memasarkan bukunya dalam bentuk digital. Untuk permintaan, cepat atau lambat buku digital harus disiapkan karena menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

Generasi muda di Indonesia saat ini sudah sangat familier dengan gadget, seperti smartphone maupun tablet, yang bisa digunakan untuk membaca buku. “Saat ini penjualan e-book secara nasional masih minim di Indonesia, baru sekitar 2 persen dari total buku terbitan baru,” ungkapnya.

Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan negara lain, seperti Singapura yang porsi buku digitalnya sudah mencapai 17 persen dari buku beredar, bahkan Amerika Serikat (AS) yang memperoleh porsi sekitar 30 persen dari total buku yang diterbitkan. Untuk mendorong perluasan pemasaran buku digital, penerbit juga didorong untuk kreatif. “Selain bersifat edukatif, buku digital harus bersifat interaktif sehingga pembaca, khususnya generasi muda, tidak mudah bosan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Ikapi Nurkholis Ridwan menambahkan, saat ini indeks minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Menurut penelitian UNESCO, indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001 atau dari 1.000 penduduk Indonesia, hanya satu orang yang membaca buku. Angka melek huruf untuk penduduk dewasa di Indonesia juga masih sangat rendah.

Menurut UNDP, angka melek huruf di Indonesia hanya 65,5 persen, tertinggal jauh dari negara tetangga, seperti Malaysia yang angka melek huruf orang dewasanya mencapai 86,4 persen. “Di Indonesia ini kemampuan untuk membeli buku itu ada, tapi lebih banyak dipakai untuk belanja telekomunikasi, seperti beli pulsa dan ponsel,” ujarnya.

Sumber: okezone.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s