Ikatan penerbit dorong pemasaran buku digital

SURABAYA, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) akan terus mendorong penerbit-penerbit di Indonesia untuk menerbitkan buku dalam bentuk digital (ebook) guna mendorong minat baca di Indonesia.

Kepala Bidang Pengembangan Buku Digital IKAPI, Hary Candra, mengatakan saat ini masih sedikit penerbit yang mau menerbitkan buku dalam bentuk digital karena masih kuatir dengan masalah keamanan.

“Ada dua masalah utama dalam pengembangan buku digital di Indonesia. Pertama penerbit masih takut untuk menerbitkan buku digital karena belum yakin dengan masalah keamanan, yang kedua demand untuk buku digital sendiri masih belum besar di Indonesia,” katanya di sela Musyawarah Daerah (Musda) IKAPI Jatim, di Hotel Sahid Surabaya, Sabtu (16/4/2016).

Ia menambahkan kedua hambatan ini sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditakutkan karena dengan perkembangan teknologi, sisi keamanan maupun demand bisa dengan mudah dicari solusinya. Untuk keamanan misalnya, penerbit masih takut jika buku yang ditebitkan bisa diperbanyak dengna mudah karena hanya berbentuk soft copy.

“Untuk masalah ini sudah ada banyak teknologi yang dikembangkan, misalnya dengna digital right management (DRM). Jadi penerbit seharusnya tidak takut lagi untuk memasarkan bukunya dalam bentuk digital,” paparnya.

Untuk masalah demand, Hary mengatakan cepat atau lambat buku digital harus disiapkan karena menyesuaikan dengan tuntutan jaman. Generasi muda di Indonesia saat ini sudah sangat familiar dengan gadget seperti smartphone maupun tablet yang bisa digunakan untuk membaca buku.

Saat ini penjualan ebook secara nasional masih minim di Indonesia, baru sektiar 2% dari total buku terbitan baru. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan negara lain seperti Singapura yang porsi buku digitalnya sudah mencapai 17% dari buku ebredar, atau bahkan Amerika Serikat dimana ebook memperoleh porsi sekitar 30% dari total buku yang diterbitkan.

Untuk mendorong perluasan pemasaran buku digital, penerbit juga dirorong untuk kreatif. Selain bersifat edukatif, buku digital harus bersifat interaktif, sehingga pembaca khususnya generasi muda tidak mudah bosan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal IKAPI, Nurkholis Ridwan, menambahkan saat ini indeks minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Menurut penelitian dari UNESCO, indeks minat baca di Indonesia hanya sebesar 0,001 atau dengan kata lain, dari 1.000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang membaca buku.

Angka melek huruf untuk penduduk dewasa di Indonesia juga masih sangat rendah. Menurut UNDP angka melek huruf di Indonesia hanya 65,5%, tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia yang angka melek huruf orang dewasanya mencapai 86,4%.

“Di Indonesia ini kemampuan untuk membeli buku itu ada, tapi lebih banyak dipakai untuk belanja Telekomunikasi seperti beli pulsa dan handphone. Karenanya kami dari IKAPI terus berusaha agar tingkat literasi di Indonesia terus meningkat salah satunya dengan berusaha meningkatkan kualitas buku dan menurunkan biaya cetak agar masyarakat lebih mudah mendapatkan buku dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Sumber: kabarbisnis.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s