Tampilkan 200 Judul, Buku Indonesia Laris

Setelah sukses di ajang Bologna Children’s Book Fair 2016 pekan lalu, Indonesia kembali hadir di London Book Fair (LBF) 2016. Acara berlangsung pada 12-14 April, ini merupakan kedua kalinya penerbit Indonesia tampil di LBF. Selama tiga hari penyelenggaraan, ada 200 judul buku pilihan yang dipajang.

Dalam keterangan pers, Selasa (12/4/2016), Indonesia diberikan kesempatan melakukan presentasi pada Insights Program yakni acara unggulan LBF pada 13 April, pukul 13.00-14.00 waktu setempat. Wandi S.Brata dari penerbit Gramedia dan Laura S. Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional, tampil sebagai pembicara.
“Tema yang kami angkat adalah Islands of Opportunity yang akan mengungkapkan potensi yang dimiliki Indonesia dari berbagai sisi, seperti demografi, ragam bahasa, kebebasan berekspresi, dan pertumbuhan industri penerbitan di Indonesia,” ujar Wandi.
LBF diadakan di Olympia di kawasan London bagian barat. Memasuki tahun ke-45, penyelenggaraan LBF menjadi sebuah pasar global untuk negosiasi hak cipta dan penjualan, serta distribusi konten yang meliputi cetakan, audio, TV, film, dan saluran digital. LBF dianggap sebagai olimpiade-nya industri buku internasional karena mampu menghadirkan 25.000 pelaku industri dari 124 negara.
Pameran ini pun berbeda dari pameran buku biasanya. Fokus utamanya adalah jual beli “rights” dan pengembangan bisnis industri penerbitan sehingga nyaris tidak ada pengunjung biasa yang menghadirinya.
12 Rights
Di hari pertama penyelenggaraan, ada 12 rights buku yang telah terjual kepada penerbit Malaysia.
Buku-buku tersebut di antaranya adalah buku panduan pemula untuk Spanyol, Jerman, Mandarin, Prancis, dan Jepang (5 judul). Serta buku percakapan sehari-hari bahasa Jerman, Belanda, Prancis, Korea, Arab, Mandarin, dan Indonesia (7 judul).
Menurut Koordinator Penjualan Rights International dari Komite Buku Nasional, Nung Atasana, buku panduan dan percakapan bahasa asing adalah salah satu yang menjadi favorit dari penerbit-penerbit internasional.
“Penerbit bersangkutan mengontak langsung Nung untuk menyatakan minatnya membeli rights judul-judul tersebut setelah sebelumnya melakukan survey ke toko buku,” ucapnya, Kamis (14/4/2016).
Selain itu, di hari pertama LBF 2016 lebih dari 100 praktisi industri yang mayoritasnya para penerbit mengunjungi stand Indonesia. Penerbit buku terbesar asal Islandia, Forlagid juga menyatakan minatnya menerjemahkan buku Eka Kurniawan yang berjudul ‘Cantik itu Luka’.
“Mereka mengatakan buku-buku Eka sangat cocok dengan penerbitnya,” ujar Siti Gretiani, Kordinator Promosi Literasi Komite Buku Nasional.
Tentunya, buku-buku Eka dan foto dirinya yang terpajang di arena pameran menjadi daya tarik tersendiri. Eka menjadi salah satu pengarang internasional di LBF. Karyanya ‘Man Tiger’ masuk dalam long list ajang International Man Booker Fair 2016. Sedangkan di hari kedua, Indonesia akan tampil di Insight Program yang digelar di Gallery Suit.
Acara tahunan dan unggulan di LBF ini akan mempresentasikan Indonesia dengan sejumlah potensi yang dimili. Nantinya,, Wandi S Brata, Direktur Gramedia dan Laura Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional Indonesia sebagai narasumber. Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Rizal Sukma juga direncanakan  hadir dalam acara ini. Selama tiga hari pameran di London, Indonesia menampilkan 200 judul buku pilihan dari berbagai penerbit, mayoritas adalah buku-buku bergenre sastra.
Hari ke Dua
Di hari kedua London Book Fair 2016, buku-buku dari Indonesia tembus ke penerbit-penerbit asal Inggris. Dua buku tersebut dianggap unik dan menarik bagi pasar Inggris.
Buku pertama adalah buku tulisan intelektual muslim Indonesia Haidar Bagir berjudul ‘Islam, The Message of Love and Happiness’. Menurut Koordinator Promosi Literasi dari Komite Buku Nasional, Siti Gretiani tema-tema Islam ternyata memiliki pasar di Inggris.
“Pasarnya cukup besar di Inggris, terlihat dari banyaknya penerbit buku Islam yang hadir di London Book Fair,” ujar Siti, dalam keterangannya, Jumat (15/4/2014).
Rights buku kedua yaitu ‘Anti Stress: Art Therapy: Travel Size: Bali – Coloring Book Bali’, karya I.B.G Wiraga. Selain itu, di hari kedua juga berlangsung ‘Insight Program’ di ruang Gallery Suit. Indonesia hadir untuk membicarakan mengenai dunia industri penerbitan Tanah Air.
Indonesia diwakili oleh Laura Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional dan Wandi S Brata, Direktur Utama Gramedia Publishing Group.  Tema yang dibawakan adalah ‘Indonesia: Islands of Opportunity’. Acara ini dihadiri oleh penerbit dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Turki, Tiongkok dan Inggris.
“Indonesia memiliki 250 juta penduduk yang menempati ribuan pulau, bisa dibayangkan betapa banyak imajinasi yang tercipta dari setiap tempat itu,” ujarnya.
Laura menyatakan, saat ini tingkat minat baca memang masih rendah, tapi juga sedang gencar untuk ditingkatkan, salah satunya adalah dengan program yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan yaitu membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Wandi S Brata membuka presentasinya dengan menunjukkan betapa luasnya Indonesia terbentang dari Sabang hingga Marauke. Itu merupakan berkah sekaligus tantangan, karena potensi besar yang dimiliki Indonesia itu kerap terhambat masalah infrastuktur.
“Persoalan umum yang dihadapi pebisnis termasuk penerbit adalah distribusi, pembangunan infrastuktur inilah yang sedang menjadi prioritas Presiden Joko Widodo,” ujar Wakndi.

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s