Membaca dan Keluarga Indonesia

OLEH: YONA PRIMADES

Banyak tulisan yang saya baca  seringkali menempatkan kuriku  lum pendidikan di Indonesia sebagai salah satu faktor penting yang bertanggungjawab atas ketidakhadiran budaya membaca pada hampir sebahagian besar masyarakat. Wacana tersebut kemudian berhembus hingga ranah keluarga, sehingga tidak sedikit keluarga di tanah air yang turut serta mempersalahkan kekurangberpihakan kurikulum pendidikan dalam semua bentuk kegiatan pengembangan budaya baca.

Memang benar, sekolah beserta seluruh perangkatnya, termasuk kurikulum, merupakan satu dari banyak hal yang ambil bagian dalam pengembangan minat dan budaya baca masyarakat. Akan tetapi sudahkah lingkungan keluarga, jika boleh saya meminjam istilah dalam sebuah film berjudul I Origin, jendela bagi individu dalam mengenal dunia, memperkenalkan, membangun dan membiasakan membaca alih-alih menyerahkan segala kesalahan tersebut pada sistem pendidikan di Indonesia?

Belum lama dalam beberapa Focus Group Discussion (FGD) yang saya lakukan bersama sejumlah mahasiswa asing di Indonesia (Amerika Serikat, Korea, Australia, dan Norwegia) memberi sebuah simpulan bahwa tradisi membaca mereka yang mendarah daging dan sering disebut sebagai salah satu indikator dalam menentukan tingkat peradaban manusia, dimulai dari lingkungan keluarga. Kebiasaan mereka terhadap bahan bacaan dan aktifitas membaca tidak tumbuh begitu saja pada usia sekolah, tidak juga menjadi beban dan tanggungjawab sekolah sepenuhnya. Jika boleh saya tarik kesimpulan, pengenalan, penumbuhan, dan pengembangan minat terhadap bahan bacaan dan kebiasaan membaca merupakan tanggungjawab penuh keluarga, dalam hal ini orang tua. Sekolah hanya berperan sebagai pendamping yang membantu dan menyelaraskan apa yang telah dibangun dan diciptakan oleh keluarga terhadap anak.

Di Indonesia, justru sebaliknya. Sekolah merupakan tumpuan dan harapan keluarga dalam mengembangkan segenap potensi dalam diri anak. Banyak orangtua lupa, anak hanya memiliki waktu seperempat dari siklus hariannya di sekolah, tidak termasuk minggu, dan itu pun dihitung berdasar standar sekolah privat dengan berbagai macam pelajaran tambahan bagi anak usia dasar. Lalu bagaimana bisa keluarga mempersalahkan kurikulum dan sekolah bahwa anak-anak mereka tidak memiliki kebiasaan yang baik dalam membaca? Berbagai sanggahan memang bermunculan, mulai dari kurikulum yang lebih menuntut anak untuk menghapal ketimbang membaca dan menganalisa, hingga tumpukan pekerjaan rumah yang dibebankan kepada anak oleh pihak sekolah. Tetapi apakah orangtua juga lupa bahwa minat baca itu mestinya sudah ada jauh sebelum anak-anak mengenal bangku sekolah dengan segala keruwetan sistem pendidikannya? Lantas mengapa orangtua mengabaikan perannya dalam menciptakan lingkungan yang ramah buku tersebut?

Teringat saya sebuah tulisan pendek yang ditulis Oky Mandasari pada harian Jawa Pos tahun lalu. Oky menyebutkan, sebagai orangtua ia memperlakukan standar tersendiri dalam menentukan bacaan yang layak bagi anak-anaknya, yang sudah tentu berbeda dengan keluarga lainnya apalagi sekolah. Oky juga menjadi punya semacam kewajiban untuk mengetahui bahkan ikut mengkonsumsi bahan bacaan sebelum dilepas pada anak-anaknya. Hal tersebut setidaknya menunjukkan bahwa orangtua jauh lebih berperan dibandingkan siapapun bahkan sekolah maupun guru.

Jika kita tarik mundur, saya pikir satu dekade semesti waktu yang cukup bagi Indonesia, yang begitu antusius dengan berbagai gerakan literasi, untuk menjadikan semua warga negaranya suka membaca terutama di kalangan anak-anak. Tetapi mengapa kegiatan tersebut lebih menyerupai gerak kukang? Hal apa yang dirasa kurang, bukankah kebijakan, partisipan dan relawan, bahkan banyak dana sudah digelontorkan? Hipotesa sederhana saya: tidak sedikit orang tua yang tidak bersungguh-sungguh mendukung gerakan tersebut. Kembali lagi pada permasalahan awal, orangtua dan keluarga beranggapan bahwa urusan anak dan membaca adalah kewajiban pemerintah, entah itu sekolah, guru, kurikulum, taman baca atau rumah baca, maupun segala kebijakan sehubungan dengannya.

Membaca bukan sesuatu yang bisa diperoleh secara instan, butuh waktu dan proses. Barangkali itu juga penyebab banyak orang tua dengan tergesa menyerahkan tanggungjawab penuh atas anak terhadap pihak sekolah. Mereka sudah kadung terbiasa dengan hal-hal yang berbau cepat saji, termasuk urusan anak. Melihat anak membaca buku di shelter bus atau di salah satu pojok gerai di mall menjadi hal yang langka, mengejutkan sekaligus membuat senang. Akan tetapi hanya sebatas senang dan kagum, tidak lebih. Bagaimana seorang anak bisa menjadi sedemikian menyukai buku ketimbang perangkat elektronik lainnya, bukanlah sebuah hal yang perlu dipertanyakan.

Kita tahu, berbagai buku panduan telah ditulis dan diterbitkan sehubungan membangun minat baca anak-anak. Juga tidak sedikit orangtua yang membeli atau membacanya. Hanya saja, segelintir dari mereka yang benar-benar serius dan memiliki kepedulian penuh untuk mengaplikasikannya secara berkesinambungan. Hal tersebut saya pikir pun tidak terlepas dari kecenderungan masyarakat kita yang selalu memiliki euphoria dan tetap sebatas euphoria belaka.

Indonesia disebut-sebut tertinggal 100 tahun perihal budaya baca ketimbang negara barat. Suatu perbandingan yang menurut saya menyeramkan sekaligus memalukan. Tapi banyak keluarga seringkali menjadikan hal itu sebatas anekdot, alih-alih memulai membenahi ketertinggalannya. Pada banyak negara maju yang seringkali kita jadikan sebagai indikator, membangun minat baca pada anak pertama-tama mereka lakukan bukan melalui buku, melainkan bercerita, mendongeng, sesuatu yang semestinya perlu mereka pelajari dari kita, bukan sebaliknya.

Di berbagai sesi FGD yang saya lakukan dengan beberapa kelompok, kebiasan membaca diawali dengan kegiatan bercerita yang dilakukan orangtua. Bercerita yang dimaksud di sini bukan seperti konsep “mendongeng modern” yang kita adaptasi dan aplikasikan pada anak-anak, dan kita dengan bangga menyebutnya, ‘Di negara maju sana, mereka mulai membangun minat baca dengan membacakan dongeng’. Orangtua bercerita apa saja mengenai hal dan benda di sekitar anak yang menjadi minat anak, misal baju, rambut, ayah, mobil, rumah, burung, rumput, atau hal lainnya.

Buku atau bahan bacaan lainnya, paling awal dikenal anak dengan melihat orangtua mereka memiliki rutinitas membaca yang bisa dikatakan terjadwal, bukan dengan meminta anak membaca sementara orangtua sibuk dengan media sosial, sinetron terbaru, atau gossip dari para tetangga. Rutinitas demikian juga dibarengi dengan membacakan dongeng atau menceritan dongeng pada anak menjelang tidur.

Mendengarkan dongeng bagi anak-anak dan membacakan atau menceritakan dongeng oleh orangtua di negara maju sudah menjadi kebutuhan, sama halnya memberikan jempol atau memperbaharui foto profil akun media sosial bagi banyak masyarakat kita. Mereka menjaga rutinitas tersebut, di samping secara rutin bercerita pada anak mengenai banyak hal. Selain itu, memberikan figur yang baik bagi anak dalam hal membaca adalah hal penting yang luput dari perhatian banyak orangtua. Bagaimana mungkin kita memaksa anak untuk suka membaca sedang kita tidak memulainya dan menjadikan diri sebagai contoh? Anak-anak memiliki tokoh idola, lantas mengapa orangtua tidak mulai membiasakan anak untuk bisa berkata, ‘aku ingin seperti ayah dan ibuku yang pintar karena mereka suka membaca.’

Tidak perlu repot jauh-jauh mencari pedoman dan panduan bagaimana cara membuat anak menjadi gemar membaca, jika orangtua, orang yang pertama dan terdekat dengan anak, justru abai terhadap budaya membaca. Keluarga adalah faktor penentu anak suka atau tidak membaca, bukan kurikulum, bukan sekolah, bukan guru. 2016

Yona Primadesi, alumnus Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Mengajar pada program studi Ilmu Perpustakaan di salah satu perguruan tinggi negeri. Bergiat pada kegiatan literasi informasi bagi anak.

Sumber: riaupos.co

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s