Perpustakaan TIM yang Keren

Beberapa ibu sambil membawa anaknya masing-masing menunjukkan raut muka kecewa. Tujuan mereka ke Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat, pada pertengahan pekan kemarin memang ingin mengunjungi tempat wisata iptek tertua di Indonesia tersebut. “Maaf ibu, bapak, adik-adik, untuk sementara Planetarium masih dalam perbaikan. Silakan bapak ibu membawa anak-anak ke gedung perpustakaan di sebelah kiri,” ujar salah satu petugas Planetarium memberi informasi.

Tiga orang ibu ditemani sang bapak terlihat masih belum menerima karena tujuan mereka jauh-jauh ke Planetarium untuk mengisi waktu libur dengan anak-anak justru diminta bergeser ke area perpustakaan. Lalu, dijelaskan oleh petugas, ada area bermain di dalam perpustakaan dan bisa juga dilakukan sambil belajar dan membaca buku. Lantas mereka pun mau untuk ke perpustakaan tersebut.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di gedung perpustakaan, rombongan keluarga itu menunjukkan wajah semringah. Dugaan bahwa perpusataan hanya diisi dengan tumpukan buku yang terlihat membosankan sirna. Mereka langsung disambut pameran lukisan dan karya tangan anak-anak Indonesia. Kemudian, di deretan dinding sebelah kanan terdapat sejumlah mata uang kertas rupiah dari generasi ke generasi dan bangunan-bangunan bersejarah Jakarta tempo dulu. Sedangkan, pada dinding sebelah kiri dapat dijumpai pahlawan Republik Indonesia dan perannya dalam berkorban merebut Tanah Air dari tangan penjajah.

Mendapati anak-anaknya antusias, mereka akhirnya menuju meja petugas untuk meminta kunci loker. Ketika memasuki ruang perpustakaan yang berada di lantai satu dan area permainan di lantai dua, pengunjung memang hanya diperbolehkan membawa ponsel dan dompet saja.

Perpustakaan anak dan area bermain ini berada di lantai dua. Ruangan ini diisi deretan rak buku yang berisi cerita dongeng pribumi, mitos, ensiklopedia, buku agama, bacaan sederhana lain, serta pengenalan gambar-gambar benda maupun makhluk hidup. Di samping itu, terdapat juga area bermain dengan lantai yang dilapisi karpet puzzle. Kemudian, ada beragam jenis permainan edukatif, seperti balok huruf dan angka, papan tulis warna, papan magnet, playmart, lego, mobil-mobilan dari kayu, perosotan bola, bongkar pasang bangunan, puzzle, dan aneka permainan lainnya.

Kemudian, terdapat juga meja dan bangku kecil warna-warni di mana banyak orang tua tengah mengawasi anaknya bermain, membaca, maupun duduk bersama untuk membacakan cerita pada anaknya. Di hadapan rentetan bangku dan meja kecil tersebut terdapat panggung kecil untuk story telling. Sayang, saat Republika berkunjung, tidak ada acara story telling tersebut.

Masih di lantai yang sama, namun hanya dipisah sekat kaca terdapat area yang cukup luas untuk bermain. Di ruangan tersebut terdapat beragam jenis permainan, seperti perosotan, mobil-mobilan, kolam bola, ayunan, dan beragam lagi serta lantai yang diukir peta Indonesia. Untuk memasuki ruangan ini tampaknya dikhususkan untuk anak-anak usia maksimal lima tahun serta harus juga memakai kaus kaki. Persyaratan ini tertulis pada gambar yang menempel di pintu masuk.

Karena masih musim liburan, banyak sekali pengunjung dan anak-anak yang memenuhi area permainan di lantai dua ini. Salah satunya warga Kalibata, Jakarta Selatan, Maya (35 tahun), yang merasa beruntung dapat mengajak kedua anaknya, Nora (5) dan Akbar (4), bermain dan belajar di perpustakaan di TIM tersebut.

Maya mengaku datang ke perpustakaan ini untuk kedua kalinya. Dia merasa senang karena tersedia beragam jenis permainan yang dapat mengasah otak anak-anak, mengajarkan mereka bekerja sama, dan cepat beradaptasi dengan teman-taman baru. “Dengan bermain, anak-anak jadi mudah berkenalan dengan teman barunya,” ujar Maya.

Dia mengaku hanya perlu mengawasi saja dan membiarkan kedua anaknya bermain masing-masing. Selain itu, Maya juga mengaku langsung mengerti tentang karakter kedua anaknya yang berbeda. Sang kakak, Nora, memilih untuk membuka-buka buku cerita sedangkan adiknya, Akbar, memilih untuk nimbrung bermain dengan teman-teman barunya.

Hal serupa juga dirasakan Fitri (25) yang menemani anak majikannya bernama Nuha (3). Berada di perpustakaan tersebut, ia mendapatkan kenyamanan, baik pengunjung maupun anak-anak. Gadis asal Pekalongan ini merasa kagum dengan keberadaan perpustakaan yang dilengkapi area bermain.

Selain area bermain, fasilitas baru yang ada perpustakaan tersebut adalah ruang pemutaran film yang berada di samping lift di lantai satu. Ketika itu, sedang diputar film Hotel Transylvania yang ditonton sekitar 15 anak-anak, termasuk Noval (9). Noval mengaku datang ke perpustakaan di TIM ini demi mengejar film tersebut. Ditemani sepupunya, Riana (17), asal Solo yang sedang liburan ke Jakarta, Noval mengaku sudah sering datang ke perpustakan demi melihat jadwal film yang diputar berbeda setiap episodenya.

“Awalnya saya nggak mau dan udah coba nolak, perpustakaan loh, kan malesin. Tapi, penasaran juga pas Noval bilang ini perpustakaannya beda, dan beneran beda,” cerita Riana.

Pengalaman Ani (32), ibu tiga anak ini, mengaku beruntung bisa menghabiskan waktu libur bersama anak dan suaminya di perpustakan TIM. Dia bisa melihat anaknya, Raffa (6), bermain dengan aneka permainan edukatif yang disediakan sedangkan kakaknya, Diana, yang sudah kelas satu SMP memilih untuk membaca novel di lantai satu.

Ani juga merasa terinspirasi dengan adanya perpustakaan yang dilengkapi dengan area bermain tersebut. Ani berencana membuat perpustakaan sendiri di rumahnya yang berada di kawasan Cipete itu. Sebab, selama ini dia dan keluarga banyak menghabiskan liburan di mal seputar Jakarta. Dia menilai, liburan di tempat perbelanjaan tidak edukatif dan cukup boros. Sedangkan, untuk keluar Jakarta, Ani masih agak enggan, waktu libur yang sedikit justru membuatnya hanya akan menghabiskan waktu di jalanan yang macet. “Jadi, saat tahu Jakarta punya tempat sekeren ini, saya bersyukur sekali,” ujarnya.

Ani juga merasa tergugah cenderung tidak percaya, melihat perpustakaan ini yang didesain sangat menarik untuk pengunjung. Dia merasa senang dapat mendengarkan suara gelak tawa anak-anak, merajuk, dan obrolan-obrolan mereka dengan teman-teman baru di sana. “Sekarang di depan mata saya, saya senang melihat anak-anak ada yang membaca, bermain, bahkan mereka juga dapat saling tolong-menolong.”

Salah satu petugas jaga, Angga Sanjaya (23), membenarkan jika fasilitas perpustakaan baru ditambah ruang pemutaran film dan panggung story telling. Angga menambahkan, untuk film yang sudah diputar memang ditujukan untuk anak-anak, seperti Despicable Me, Up, Plane 1, Plane 2, Rio 2, Madagascar 3, Despicable Me 2, Monster University, Transylvania, Trasilvania 2,. Kemudian, yang akan tayang, yaitu Big Hero 6, Rise of The Guardians, Chance of Meatballs, dan Chance of Meatballs 2.

Kemudian, saat menanyakan tentang antusiasme pengunjung di lantai satu sendiri, menurut Angga, memang cenderung lebih sedikit dibandingkan di lantai dua. Kadang, kata dia, selesai pengunjung menonton mereka langsung menuju lantai dua untuk ke arena bermain.

Menurut Angga, jumlah buku yang ada di lantai satu perpustakaan tersebut lebih 900 bacaan. Bahkan, ia sangat hafal betul setiap kategori buku yang dipajang. Disebutkannya, nomor 000 untuk ketegori buku ilmu komputer, 100 untuk ilmu filsafat dan psikologi, 200 untuk kelas agama, 300 ilmu sosial, 400 bahasa, 500 IPA dan sains, 600 ilmu biologi dan kedokteran, 700 ilmu terapan seperti fotografi dan pencak silat, 800 sastra atau cerita fiksi, 900 biografi dan sejarah. “Ada yang tidak masuk di nomor, yaitu buku braille, buku khusus penyandang tunanetra,” ujar alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Menurut dia, buku braille ini banyak berisi tentang cerita-cerita masa lampau Jakarta, novel kekinian, seperi Ayat-ayat Cinta, serta ada juga tentang agama. Selain brille, buku edisi khusus yang tidak boleh dibawa pulang saat dipinjam adalah komik. Karena, komik ini berseri dan jumlahnya terbatas sehingga hanya bisa dibaca di tempat.

Angga menyatakan, perpustakaan yang dikelola Pemprov DKI Jakarta tersebut buka setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Namun, untuk area bermain anak-anak, dibuka dua kali, yaitu mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB dan pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Kecuali, hari libur nasional, perpustakaan ini ikut libur. “Jadi, ayo ibu bapak, ajak anaknya liburan sambil bermain dan belajar di sini,” kata Angga. n c30 ed: erik purnama putra

***
Tempat Belajar Sekaligus Area Bermain

Perpustakaan di kompleks TIM sangat jauh dari kesan perpustakaan pada umumnya yang identik dengan kekakuan. Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta Tinia Budiarti mencoba mendobrak persepsi banyak orang tentang perpustakaan yang membosankan. Demi memenuhi perkembangan dan tuntuntan zaman, kata dia, perpusatan di TIM didesain sebagai tempat belajar sekaligus area bermain anak-anak.

Selain itu, kata dia, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat wisata yang positif karena dapat memberikan waktu untuk keluarga dapat berlibur bersama-sama. Misalnya, sang ayah atau ibu bisa tetap membaca menambah pengetahuan sambil tetap menemani anaknya bermain dan berinteraksi dengan teman-teman barunya. “Lokasi perpustakaan ini juga berada di kawasan pusat kesenian TIM, jadi liburan keluarga juga bisa dilanjutkan dengan mengunjungi Planetarium maupun acara teater,” katanya, belum lama ini.

Tinia menuturkan, untuk mengajak anak ke perpustakaan itu susah-susah gampang. Pihak sekolah maupun guru sebaiknya aktif mengajak muridnya berdiskusi di perpustakaan atau memberi tugas yang bersentuhan dengan perpustakan. Kalau tidak seperti itu, prediksi dia, tinggal menunggu mana anak-anak yang gemar ke perpustakaan atau mana yang tak tertarik sama sekali.

Demi menumbuhkan rasa cinta ke perpustakaan, saran dia, penting juga mengenalkan perpustakaan pada anak sejak dini. Mengenalkan mereka betapa asyiknya belajar dan berdiskusi di perpustakaan. Pasalnya, perpustakaan adalah sumber segala sumber ilmu pengetahuan tradisional maupun modern. Dia memberikan contoh, sekolah yang anak-anaknya berprestasi jika ditelusuri karena sekolahnya menyediakan akses perpustakaan yang lengkap dan nyaman. Sehingga, siswa mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih kaya dari sekadar apa yang diterangkan gurunya. “Apalagi, kalau jam siang, anak-anak pada ngantuk kalau gurunya tidak punya stok cerita yang bagus yang mendidik, kelas menjadi tidak menarik,” ujar Tinia.

Begitu juga dengan para pengajar, sambung dia, menjadi seorang guru bukan berarti berhenti untuk belajar dan belajar. Dia mengatakan, guru yang banyak membaca akan lebih kaya wawasan dan pengetahuannya maka ketika mengajarkan ke anak didiknya dapat lebih lumer dan lebih enjoy karena diselingi dengan berbagai contoh dan tidak melulu teori. “Artinya kalau pengenalan untuk usia balita tidak lagi hanya dikenalkan dengan buku, tapi juga pengenalan secara langsung, membaca yang sederhana, mengenal benda-benda, mereka bisa juga bermain. Inilah konsep awalnya kenapa dimulai arena bermain seperti ini,” ujar Tinia. n c30 ed: erik purnama putra

Sumber: republika.co.id

Advertisements

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s