Israel Larang Novel Kisah Cinta Arab-Yahudi

Tel Aviv — Pemerintah Israel melarang, dan menarik dari peredaran, Borderlife — novel kisah cinta wanita Yahudi dengan pria Palestina — dengan alasan mengancam identitas Yahudi.

Larangan dikeluarkan Menteri Pendidikan Naftali Bennett, politis garis keras Yahudi. Politisi sayap kiri, seniman, dan aktivis marah dan menyeru Bennett mencabut larangannya.

Kementerian Pendidikan Israel menjawab; “Menteri mendukung keputusan yang dibuat pra profesional.”

Zehava Galon, pemimpin Partai Meretz, menulis di Facebook-nya; “Komisaris Bennett memboikot buku yang sangat bagus, yang direkomendasikan komite profesional.”

“Mereka melakukannya karena buku itu mendorong asimilasi. Kementerian ingin memurnikan sistem pendidikan Israel, yang jauh dari nilai-nilai pluralisme, kebebasan, dan kesetaraan,” lanjut Galon.

Galon mendesak warga Israel untuk bergabung dengannya berdemo di depan kementerian. Menurutnya, Israel tidak lagi memiliki perang besar selain perang melawan larangan ini.

Borderlife ditulis oleh Dorit Rabinyan, penulis Israel. Novel bercerita tentang Liat, penerjemah Israel, dan Hilmi — seorang seniman Palestina — yang bertemu di New York dan jatuh cinta.

Keduanya harus berpisah. Liat pulang ke Tel Aviv. Hilmi kembali ke Ramallah, kota di Tepi Barat.

Dalam rilisnya, Kementerian Pendidikan Israel mengatakan; hubungan intim Yahudi dan non-Yahudi mengancam identitas masing-masing.

“Remaja tidak punya pandangan sistemik yang mencakup pertimbangan yang melibatkan keharusan menjaga identitas nasional, dan pentingnya garis ras,” lanjut pernyataan itu.

Banyak tokoh budaya Israel, dan murid SMA, tidak setuju dengan pandangan pemerintah.

“Sangat bodoh melarang buku itu,” kata Noa, mahasiswa usia 17 tahun dari Haifa, kepada Deutsche Welle.

“Yang terjadi saat ini adalah kegemparan, dan memaksa guru berbicara kepada kami tentang buku itu. Jika tidak, kami akan terus bertanya,” lanjutnya.

Alih-alih menarik buku itu dari rak, Perpustakaan Nasional Israel justru meminjamkan Borderlife secara gratis.

Beit Ariela, perpustakaan di Tel Aviv, memposting seruan untuk Naftali Bennett dan menyeru kepada warga Tel Aviv untuk datang ke perpustakaan agar bisa membaca buku itu.

Perpustakaan di kota-kota lain di Israel kemungkinan akan mengikuti langkah Beit Ariela.

Aktivis feminis menyebut pemerintah Israel sedang mencoba mendikte perempuan, dengan melarang buku itu. Mereka bertanya secara moral, apa yang bisa diharapkan dari pelarangan itu.

Noga Cohen, jurnalis feminis dan blogger, menulis hubungan seperti diceritakan dalam buku itu pasti ada tapi ditutupi klaim asimilasi dan identitas Yahudi. Klaim itu dibuat untuk menarik batas-batas bangsa melalui tubuh perempuan.

Menurut Cohen, menurut pandangan ini tubuh wanita Yahudi harus didedikasikan untuk pengembangan populasi Yahudi saja. Hanya orang Yahudi yang secara seksual berhak menikmati manfaat tubuh wanita Yahudi.

Sumber: inilah.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s