Ini 6 Kemewahan Perpustakaan UI yang Menuai Kritik Pedas

Donanta mengaku, ketika dana pembangunan perpustakaan UI habis, Gumilar memerintahkan anak buahnya mengajukan proposal ke Ditjen Dikti.

Pemandangan ratusan hingga ribuan buku yang tertata rapi di rak perpusatakaan kampus atau sekolah adalah hal yang biasa. Namun, gambaran itu tidak akan didapti jika memasuki perpustakaan Universitas Indonesia (UI) yang berada di Depok, Jawa Barat.

Jika baru pertama kali mengunjungi perpustakaan ini, maka pengunjung akan disuguhkan pemandangan yang mencengangkan.

Bisa dipastikan, pengunjung yang baru pertama kalinya datang, akan merasakan nuansa yang tidak menunjukan tengah berada di perpustakaan, namun seperti berada di pusat perbelanjaan atau di mall.

Bagaimana tidak, perpustakaan yang konon disebut sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara ini, memiliki sejumlah fasilitas yang cukup terbilang mewah. Bahkan hingga saat ini tidak akan didapatkan di perpustakaan kampus lainnya.

Kali ini Liputan6.com akan mengulas 6 fasilitas wah ala mall di Perpustakaan UI yang akan membuat anda tercengang.

  1. Starbucks Coffee

Jangan heran, jika melihat gedung di kawasan UI Depok yang di depannya terpampang reklame bertuliskan Starbucks Coffee. Anda tidak sedang melihat sebuag pusat perbelanjaan, namun anda sedang melihat Perpustakaan UI.

Kedai kopi asal Amerika Serikat yang terkenal menjual kopi berkualitas dengan harga yang relatif mahal tersebut menjadi salah satu fasilitas dari Perpustakaan UI. Starbucks menjadi salah satu tenant yang menjadi bagian dari perpustakaan tersebut.

Namun respon miring justru datang dari sebagian mahasiswa UI akan kehadiran Starbucks di lingkungan kampusnya. Mereka menilai tidak begitu membutuhkan fasilitas kedai kopi yang harga pergelas kopinya rata-rata berkisar di angka Rp 50 ribu.

“Loh (kalau) enggak minum Starbucks sehari, sebulan, setahun terus kenapa? Enggak kenapa-kenapa juga kan? Kita justru lebih butuh buku dan akses internet. Itu yang dibutuhin,” ujar Arsa mahasiswa tahun keempat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.

Wajar saja jika dengan harga segelas kopi yang relatif mahal untuk kantong mahasiswa tersebut, Starbucks hanya biasa diakses oleh mahasiswa dengan kelas ekonomi menengah ke atas.

Meski demikian, kedai kopi Starbucks itu selalu ramai setiap harinya dengan deretan kursi yang hampir terisi penuh dan sejumlah mahasiswa yang sedang mengantri untuk memesan minuman.

2. Kebun Apple

Kebun Apple yang dimaksudkan di Perpustakaan UI ini bukan berarti kebun buah apel sebagaimana perkebunan yang ada di kota Malang, Jawa Timur.

Kebun Apple yang dimaksudkan adalah sederetan komputer canggih bermerek Apple dengan jenis iMac. Komputer buatan perusahaan yang dibentuk Steve Jobs ini per-unitnya dibanderol dengan kisaran harga mulai Rp 15 hingga 25 juta.

Sedikitnya di diagram yang tertera ada sekitar 186 unit iMac di Ruang Komputer. Namun kehadiran ratusan unit komputer tersebut pun tidak luput dari kritik mahasiswanya.

“Dan sebenarnya nggak harus iMac sih. Banyak yang bingung juga pakainya. Kita ngandelin iMac sebenarnya karena wifi di perpustakaan lemot,” kata Arsa.

Senada dengan Arsa, Fajar rekan satu fakultasnya dari jurusan Sosiologi juga melancarkan kritik cukup pedas akan kehadiran ratusan iMac di perpustakaan mereka.

Menurut Fajar, komputer tersebut terlalu canggih untuk digunakan di Perpustakaan UI dan cenderung tidak ramah bagi para pengunjung perpustakaan yang akhirnya menyalahgunakan fasiliatas komputer itu.

“Soal UI ada kerjasama dengan Apple, itu bukan urusan gue. Yang jelas, iMac itu jauh dari apa yang kita butuhkan. Faktanya kebanyakan komputernya buat streaming Youtube, download film, nonton, gada hubunganya dengan kegiatan akademik,” sambung Fajar.

3. Gold’s Gym

Soal adanya fasilitas pusat kebugaran atau gym di Perpustakaan UI tentu menjadi janggal bagi masyarakat luar, apalagi mahasiswanya.

Pusat kebugaran yang ada di perpustakaan UI ini bukan sembarang fasilitas olaharaga biasa. Tapi Gold’s Gym, yang dikenal sebagai pusat kebugaran dengan alat canggih dan biasa diakses oleh masyrakat kelas menengah-atas .

Namun tidak semua mahasiswa dapat menggunakan fasilitas tersebut, karena ada keharusan bagi mahasiswa yang ingin menggunakan gym tersebut untuk mengurus member atau keanggotaan.

Diperkirakan untuk menggunakan fasilitas tersebut membutuhkan biaya sampai jutaan rupiah.

“Buset itu bayar gym mahal itu. Gold’s Gym. Itu tenant. Berapa itu per bulannya, berapa juta gitu buat jadi membernya. Sebenarnya siapa sih yang disasar jadi membernya. Anak anak tajir UI,” terang Fajar.

4. Theater

Layaknya mall di kota-kota besar, kampus UI pun memiliki theater. Ruang nonton tersebut menjadi satu dengan bangunan Perpustakaan UI.

Fasilitas Theater tersebut didukung oleh layar lebar dengan sound sistem cukup canggih, layaknya di bioskop pada umumnya.

Namun saat Liputan6.com mencoba mengunjungi fasilitas ini, ternyata tidak digunakan secara reguler. Berdasarkan keterangan mahasiswa UI, ruang theater tersebut hanya dapat digunakan untuk keperluan pemutaran film yang menjadi kegiatan mahasiswa.

Tidak mudah untuk mahasiswa UI mempergunakan fasilitas ruang cinema ini. Kabarnya, mahasiswa harus melalui prosedur perijinan terlebih dahulu. Dan mencengangkannya lagi, harus membayar jutaan rupiah.

“Kalau cinema room sih bisa dipakai mahasiswa untuk nonton film, cuma jatuhnya harus bayar dan enggak gratis. Sehari itu berapa juta gitu. Gue lupa sih tepatnya berapa,” ungkap Arsa.

5. Books & Beyond

Untuk para pecinta buku, mungkin nama toko buku Books & Beyond sudah tidak asing lagi. Koleksi buku luar negeri dengan harga ratusan ribu kerap kali menghiasi rak buku di toko yang umumnya terdapat di sejumlah mall berkelas menengah ke atas di Jakarta.

Tapi di perpustakaan yang sudah mirip Mall ini, toko buku tersebut menjadi salah satu fasilitas yang menempati ruangan tidak begitu besar tepat di sebelah Starbucks.

Tidak banyak aktivitas pengunjung di dalamnya. Saat mahasiswa dikonfirmasi, ternyata banyak dari mereka yang tidak membutuhkan toko buku tersebut.

Mahasiswa UI justru mengandalkan kios buku yang mereka sebut Barel untuk menunjang akademiknya. Di Barel itu lah mereka biasanya mendapat buku yang sesuai dengan rumpun ilmu mahasiswa, tidak seperti buku-buku yang terdapat pada toko buku Books & Beyond.

“Barel itu belakang rel. Barel memang sangat membantu banget sih. Karena beli alat tulis segala sesuatu disitu semua. Harganya terjangkau dan tepat sasaran, menyediakan apa yang kita cari juga buku-bukunya,” kata Arsa.

Meski toko buku Books & Beyond begitu populer di sejumlah pusat perbelanjaan, namun Kampus UI memiliki toko buku yang lebih populer di kalangan mahasiswanya, yakni Kios Buku Cak Tarno.

“Itu salah satu kios buku yang udah terkenal di kalangan mahasiswa UI. Sempat digusur, lalu diambil dan dipindahin ke FIB,” sambung Fajar.

6. Restauran, Cafe, dan Minimarket

Persis seperti di mall. Ketiga fasilitas tersebut juga terdapat di Perpustakaan UI. Sejumlah restauran dengan hidangan ala Amerika Serikat seperti Hot Dog, lalu cafe yang menyediakan menu kopi dan cemilan, hingga minimarket seperti Indomaret, semua tersaji di Perpustakaan UI.

Berbagai fasilitas itu merupakan tenant yang memang disewakan oleh pihak pengelola gedung Perpustakaan UI. Namun kehadiran tenant tersebut justru mengundang kritik dari mahasiswa UI itu sendiri.

“Gue gak tau apa masalahnya sama UI. Pendapatan pertahunnya itu kan gede banget. Belum lagi ada kelas internasional dan segala macam,” kata Fajar.

Fajar juga mengeluhkan, dengan tenant yang terdapat di perpustakaan UI, mahasiswa harus mengeluarkan uang lebih untuk sekedar membeli minum dan makanan. Karena harga yang tersedia di tenant tersebut memang tidak terbilang ramah untuk kantong mahasiswa.

“Gue enggak butuh tenant kaya begini, yang gue butuhin itu tempat yang nyediain makanan murah. Itu yang harusnya diperbanyak,” lanjut Fajar.

“Pengalaman gue pribadi selama 4 tahun, enggak pernah pakai apa-apa di UI kecuali bank, perpustakaan, sama toilet dan di atas ada Abdurahman Wahid Centre. Udah itu doang. Jadi fungsi semua yang fasilitas ekstra tadi buat gue pribadi enggak terlalu ada manfaatnya,” tandas Fajar.

Sumber: liputan6.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s