Pustakawan Berbisnis: Yunita Riris Widawaty Berbisnis IT Dengan Hati

Perempuan hebat kelahiran 7 Juni 1973 ini menggeluti bisnis yang jarang diminati oleh kaum hawa. Kini, Yunita Riris Widawaty, yang memilih menekuni bisnis game, menjabat sebagai  CEO Gambreng Games. Selain serius menggeluti bisnis game, Riris, begitu ia dipanggil juga menekuni dunia pustaka dan berpengalaman menjadi kepala pustakawan di berbagai lembaga pendidikan. Prestasinya juga tak main-main. Istri dari Didiet Haryadi ini menyabet gelar Pustakawan Terbaik Nasional Tahun 2014. NOVA pun memilihnya menjadi Perempuan Inspiratif NOVA 2015 Kategori Teknologi.

Lulusan S1 jurusan Perpustakan dan Informasi Universitas Indonesia ini melanjutkan pendidikan master di UI juga dengan bidang yang sama. Hampir 18 tahun ia menjadi pustakawan dan saat ini bekerja sebagai kepala perpustakaan di Jakarta Multicultural School (JMS), Ciputat, Tangerang Selatan.  Sebelum bekerja di JMS, Riris sempat bekerja di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong.

Ketika bekerja di UMN, Serpong, Yunita Riris Widawaty sering bertemu, Dodik Sudirman, dosen yang juga Sekretaris Program Studi IT. Saat itu, Dodik mengungkapkan rencananya membangun start up bisnis studio game. “Menurut beliau, saya cocok dan diminta bergabung sebagai CEO,” aku Riris.

Nama Gambreng Games yang digagas Riris ternyata punya cerita sendiri. Setiap sore, akunya, saya mendengar anak-anak asyik bermain hom pim pah. Nah, saya pikir kenapa tidak pakai nama ‘gambreng’ saja, enggak perlu cari nama yang keren dan kebarat-baratan. Apalagi nama ini identik banget dengan Indonesia dan belum ada game developer yang punya nama unik seperti ini. Tahun 2013, Gambreng Games pun beroperasi, studionya di kawasan Karawaci.

Riris mengaku bisa belajar cepat. “Saya belajar bagaimana tugas seorang produser, bagaimana memproduksi sebuah games, proses apa saja untuk membuat games, siapa saja tim yang terlibat, dan lainnya. Saya benar-benar memulai dari nol karena saya memang tak punya bekal ilmu apapun soal games. Jadi, saya learning by doing saja,” lanjutnya.

Games Untuk Orang Asing

Sebagai pustakawan, Riris mengaku beruntung karena ia punya banyak sumber informasi, riset dan referensi buku. Ia pun melahap semua informasi lewat berbagai referensi, baik buku maupun riset, serta diskusi dengan para game developer dan teman-teman yang bergabung dalam Asosiasi Game Indonesia. “Kebetulan saya tipe orang yang selalu penasaran dan ingin tahu. Ini modal juga untuk bisa terjun di dunia ini. Sampai saat ini, saya masih terus belajar. Saya merasa bisa berkontribusi lewat games.”

Riris melanjutkan, teknologi terus berkembang dan sudah menjadi kebutuhan. “Jadi, kenapa tidak memikirkan solusi masalah lewat teknologi? Contoh, kami meluncurkan games bernama La La La. Game ini mengembalikan nostalgia lagu anak Indonesia dengan menebak judul lagu. Game ini juga mengajak anak bermain dengan fun. Responsnya luar biasa, bahkan game ini masuk di Google Play dalam kategori Cool Parenting dan bisa bersaing dengan game developer dari berbagai negara di belahan dunia. Jarang banget games developer Indonesia yang bisa masuk dalam ketegori edukasi Cool Parenting.”

Contoh lain, Riris pernah meraih penghargaan Pustakawan Terbaik Nasional 2014 karena berhasil membuat games yang membantu orang asing untuk belajar bahasa Indonesia. Nama gamenya Brina’s Quest, intinya membentuk kata menjadi kalimat. Dengan game ini, orang asing bisa dengan cepat memperkaya perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia.

Belum lagi 4 seri buku yang tengah dibuat, yaitu seri kosa kata, menulis, tata bahasa dan berbicara, yang merupakan hasil kerjasama dan kesadaran para akademisi yang melihat bahwa referensi buku-buku bahasa Indonesia justru diproduksi dan didominasi orang luar, bukan orang Indonesia sendiri.

Didominasi Laki-laki

Satu hal yang tampak pada Ririrs adalah ia begitu bersemangat saat berbicara soal game. “Iya, benar. Padahal banyak sekali tantangan yang harus dihadapi untuk bisa terjun dan bertahan di bisnis ini. Saya meyakini bahwa apabila memang sudah punya  passion dan benar-benar mau belajar dan bekerja keras tentu akan menuai benihnya,” katanya.

Dunia per-game-an, lanjut Riris, benar-benar menyenangkan dan penuh tantangan. “Industri ini diberi nama industri kreatif karena memang yang terjun adalah orang-orang yang kreatif. Untuk membuat inovasi dan kreativitas tentu hal yang tidak mudah. Tapi ternyata bisa lho melestarikan budaya lewat games.”

Sayangnya, lanjut Riris, dunia kreatif, khususnya games, di Indonesia belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah. “Bisa dibilang ini masih dianaktirikan dibanding industri kreatif lainnya seperti batik atau film. Padahal di Eropa bisnis ini wow sekali, semua investor sekarang beralih ke investasi games. Untungnya, dunia pendidikan kini sudah mulai melirik  industri games. Universitas besar seperti , ITB, UI dan BINUS sudah menyediakan pendidikan ini. Tentu, apabila ada lulusan maka harus adapula industri yang siap untuk menampungnya. Saya berharap sih pemerintah benar-benar bergerak dan mendukung industri ini.” lanjutnya.

Industri games memang masih muda dan menawarkan banyak peluang juga kesempatan. Meski didominasi laki-laki, tapi ternyata juga bisa ditekuni perempuan. “Perempuan itu tidak gampang menyerah, multitasking, dan ini modal untuk terjun sebagai game developer. Tentu dibekali dengan minat dan ingin bekerja keras. Saya kan awalnya juga enggak punya latar belakang pendidikan IT, tapi toh membuktikan bahwa saya bisa. Disesuaikan saja dengan minat dan kebutuhan. Misalnya, tertarik membuat games bagi anak berkebutuhan khusus, atau menyenangi tanaman asli Indonesia. Bisa tuh membuat gamenya sekaligus mengenalkan dan mengedukasi.”

Gambreng Games sendiri kini makin berkembang. Banyak produk game yang direspons sangat positif. Seperti misalnya games Prototype tahun 2013 yang menjadi games terbaik kategori mobile games untuk pemula  di Indonesia Games Show 2013. Juga games Laron, yang menjadi juara kedua kategori game di INCREFEST 2014, Blok-Blok sebagai casual mobile game mendapatkan COMPFEST’s WePlay Most Marketable Game 2014, Jampi-Jampi yang masuk Top 50 Local Apps Baidu’s 2014, dan banyak lagi. Riris juga membuat Gundu Production. ”Games yang sifatnya fun dan casual akan diproduksi Gambreng Games, sedangkan game yang memiliki unsur edukasi akan digarap Gundu.”

Meski sibuk di industri kreatif, Riris tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas. “Hari Minggu adalah family time yang enggak bisa diganggu gugat. Saya dan suami biasanya ngeriung di rumah saudara atau di rumah orangtua. Kami jarang kumpul di Mal.” Setiap tahun, ia juga selalu liburan bersama suami. “Suami saya orang yang diciptakan dan terlahir untuk melengkapi saya. Super sabar dan pengertian. Semua dukungan dan doa darinya membuat saya bisa seperti sekarang ini,” katanya.

Sumber: tabloidnova.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s