KITLV dan Perpustakaan Universitas Leiden

UNIVERSITAS Leiden adalah universitas tertua di Belanda, didirikan tahun 1575 oleh Pangeran Willem van Oranje. Sejumlah nama tokoh negeri ini pernah mengenyam pendidikan di Universitas Leiden. Dalam buku 100 Tokoh Lampung yang diterbitkan Lampung Post tahun 2008, tercatat nama Mr Gele Harun pernah mengenyam pendidikan di sana. Bagir Manan pernah pula mengikuti program belajar hukum Indonesia selama setahun di sana.

Di dalam perpustakaan kampus itu bersemayam jutaan manuskrip dari berbagai negara. Indonesia mungkin “donatur” terbanyak. Kamus Lampung tulis tangan versi HN Van der Tuuk (1824—1894) yang hampir 1,5 abad berada di dalamnya adalah satu dari sekian banyak manuskrip Lampung di perpustakaan itu.

Karena pertimbangan efisiensi biaya, kami baru bisa ke Leiden setelah beberapa hari di Belanda. Prof Hedi Hinzler, yang telah puluhan tahun menekuni dan meneliti wayang Indonesia, berbaik hati mengizinkan kami menginap di rumahnya selama di Leiden. Jarak rumahnya ke Universitas Leiden sangat dekat, sekitar lima menit jalan kaki.

Agustus tahun ini Prof Hedi mendapatkan penghargaan Teeuw Award dari KITLV, sebuah lembaga budaya Belanda yang juga beroperasi di Indonesia, atas pengabdiannya dalam upaya pelestarian wayang Indonesia. Dalam obrolan dengannya, kami mendapat informasi mengejutkan. Beliau saat ini sedang meneliti dan mendokumentasikan koleksi wayang Indonesia milik seseorang di Swiss (sudah meninggal) dan jumlahnya, konon, sekitar sepuluh ribu! Beliau harus bolak-balik Belanda—Jerman karena semua wayang itu kini berada di suatu tempat di Jerman.

Tidak mudah beradaptasi dengan cuaca musim dingin akhir tahun di Belanda. Temperatur sekitar 10 derajat Celsius, bahkan pernah minus 5. Matahari kadang hanya muncul sebentar, selebihnya mendung bahkan gerimis sepanjang hari. Namun, manuskrip-manuskrip Lampung di Leiden yang seolah menunggu membuat kami nekat pergi dan pulang malam ditemani gerimis.

Perpustakaan Leiden sangat nyaman dan modern. Kondisinya jauh berbeda dengan nasib perpustakaan di Indonesia. Mahasiswa, peneliti, sejarawan, budayawan, dari berbagai negara silih berganti mendatangi tempat yang kadung dianggap menyimpan manuskip-manuskrip dunia. Kami sempat bertemu dan berbincang dengan beberapa orang Indonesia, dari Jakarta dan Riau, yang juga sedang melakukan kunjungan singkat di sana.

Undangan resmi dari Universitas Leiden memudahkan kami membuat kartu anggota. Tidak butuh proses lama, semacam kartu ATM plus foto diri sudah diberikan kepada kami. Kartu itu semacam kunci keluar masuk perpustakaan.

Bagi pengunjung yang hendak berlama-lama dalam perpustakaan, disediakan ratusan loker gratis untuk menyimpan barang-barang bawaan. Perpustakaan buka setiap hari sampai pukul 23.00, termasuk hari Minggu. Dan yang membuat kagum, sampai menjelang waktu tutup masih banyak orang berkutat dengan buku dan manuskrip.

Sebagian buku sudah tertera dalam katalog komputer. Caranya, kita memesan buku yang hendak dilihat, kemudian paling cepat satu jam buku tersebut sudah tersedia. Bukan diantar petugas, tetapi harus diambil sendiri di dalam loker. Komputer akan memberitahu di loker berapa buku yang kita pesan. Lagi-lagi, untuk membuka loker itu harus menggunakan kartu anggota.

Banyak buku dari dan tentang Lampung di perpustakaan Leiden. Karya sejumlah rekan sastrawan, wartawan, bahkan laporan pemerintah provinsi dan kabupatan dari tahun-tahun silam. Ada juga artikel-artikel sekaitan Lampung. Bahkan kami menemukan Suluh, buku puisi berbahasa Lampung karya penyair Fitriyani, yang notabene masih baru (diterbitkan tahun lalu). Entah bagaimana kisahnya hingga buku-buku dan dokumen-dokumen itu bisa berada di perpustakaan itu.

Untuk mengopi atau mencetak bahan yang dibutuhkan, uang tunai tidak diladeni. Kita harus mengisi kartu anggota dengan sejumlah uang (antara 5—25 euro) dan melalui kartu kredit. Ada semacam boks, istilahnya “pin point”, di dekat pintu masuk. Di boks itulah kita mengisi kartu anggota dengan nominal euro yang diinginkan. Jika dana untuk mengopi atau mencetak sudah habis, harus mengisi ulang kembali.

Ruangan koleksi umum letaknya di lantai dasar, belok kanan dari ruang resepsionis. Di dalam ruangan itu berjajar ratusan komputer layar datar yang bisa digunakan gratis oleh pengunjung. Ada dua mesin fotokopi dan untuk mengopi bahan pun harus dilakukan mandiri. Bagi yang belum pernah melakukannya, niscaya kebingungan. Di tengah ruangan banyak sofa merah untuk pengunjung yang ingin membaca buku.

Ada ruang Open Stack di bawah tanah yang menyimpan buku-buku referensi, seperti peta, kamus, katalog, serta majalah-majalah. Ruangan ini sama seperti perpustakaan umumnya di Indonesia. Rak-rak buku berderet dan pengunjung bisa melihat-lihat buku di rak itu. Sayang, saat kami di sana, ruangan itu sedang direnovasi dan tidak ada yang diperkenankan memasukinya.

Di lantai tiga, ada ruang Special Collection. Di ruangan inilah tersimpan jutaan manuskrip Indonesia masa silam. Tidak semua naskah di SC sudah tercantum dalam katalog online. Jika kita ingin melihatnya, harus tahu kode naskah atau judul naskah yang dihendak dicari. Di SC ini tersimpan banyak sekali manuskrip Lampung, dalam aksara kaganga ataupun catatan orang-orang Belanda. Manuskrip-manuskrip itu disimpan rapi dalam map atau dalam kotak besar. Peraturannya, harus melihat satu per satu.

Ada dua naskah cerita rakyat Lampung yang disimpan di sana: Dayang Rindu dan Anak Dalom. Ada Kuntara Rajaniti, ada koleksi hiwang tertulis di kertas, beraksara kaganga. Ada surat-surat pribadi dari seseorang di Lampung dan untuk pihak lain di luar Lampung. Ada bubandung dan hiwang, yang merujuk keterangan ditranskripsi dari bambu atau kulit hewan. Surat Undang, tertulis di kertas, dalam aksara Lampung, kondisinya masih bagus, tebal 28 halaman. Manuskrip-manuskrip itu bisa menjadi bahan kajian bagi peminat dan akademisi sejarah-budaya-bahasa Lampung.

Rumah Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang pertama kali mencetuskan istilah hukum adat, ada di Leiden. Dia dianggap musang berbulu domba karena memecah belah umat Islam di Aceh dengan ilmunya dan menjadi mualaf di Mekah. Yang menarik adalah bahwa KITLV menyimpan surat-surat wasiat Snouck yang baru bisa dibuka tahun 2036. Ini semacam “kapsul waktu” dari Snouck. Apa isi wasiatnya? Apakah ada kaitannya dengan Aceh atau daerah lain di Nusantara? Dalam katalog perpustakaan Leiden, setidaknya ada tiga surat Snouck untuk Residen Lampung kala itu.

Penulis : Arman AZ Cerpenis, penyuka sejarah dan budaya Lampung
Editor : Isnovan

Sumber: lampost.co

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s