Kepala SMPN 1 Panguragan Bantah Sekolah Jual Buku LKS

CIREBON- Kepala SMPN 1 Panguragan, Sarifudin membantah tuduhan bahwa pihaknya telah menjual dan mengondisikan penjualan buku LKS kepada siswanya. Dirinya mengaku tidak tahu menahu mengenai penjualan buku LKS tersebut.

Marni bersama anaknya memperlihatkan buku LKS yang dibelinya dari sebuah toko di dekat SMPN 1 Panguragan.

Sarifudin menegaskan bahwa dia sudah menginstruksikan kepada para guru untuk tidak menjual buku LKS kepada siswa, karena itu dilarang. Jika ada yang menjual buku LKS, maka guru tersebut sudah menyalahi aturan.

“Penjualannya saja saya tidak tahu, apalagi sampai mengondisikan,” kata Sarifudin di ruangannya, Senin (14/12).

“Kami sudah banyak melakukan kegiatan sosial untuk membantu siswa miskin, seperti memberikan sepatu, seragam, tas, buku dan alat tulis lainnya secara gratis kepada siswa miskin. Sehingga kalau sampai ada siswa miskin yang diwajibkan untuk membeli buku LKS, itu jelas kami tidak tahu, karena kami sudah sepakat tidak akan melakukannya,” terangnya.

Menurutnya, jika sampai benar ada guru yang bermain dengan menjual buku LKS atau dengan mengondisikannya, dirinya akan memberikan sanksi tegas karena selain dirinya sudah mengintruksikan, juga sekolah sudah sepakat tidak akan menjual buku LKS itu.

“Saya akan mencari tahu siapa guru yang menjual dan mengarahkan untuk membeli buku LKS itu, karena saya sudah menginstruksikan jangan menjual buku LKS apalagi mengarahkannya untuk membeli di toko tertentu,” ungkapnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kab. Cirebon, Asdullah Anwar menegaskan bahwa sekolah tidak diperkenankan untuk menjual buku kepada muridnya.

“Sudah ada edaran yang melarang sekolah-sekolah untuk menjual buku. Dalam Peraturan Daerah No 13 Tahun 2011, komite sekolah maupun pihak sekolah dilarang untuk menjual buku dalam bentuk apapun,” ujar Asdullah usai menghadiri pembukaan turnamen futsal putri tingkat SMP di Kec. Plumbon.

Asdullah mengatakan, untuk meningkatkan mutu pendidikan terhadap anak didik, murid tidak bisa hanya menerima ilmu dari gurunya saja.

Untuk itu, kata dia, dipersilahkan kepada anak didik untuk meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku.

“Kalau anak didik tidak mempunyai buku, tidak mungkin pengetahuan terhadap anak didik ini akan meningkat. Sedangkan pelajaran yang diterima di sekolah kan terbatas. Pada intinya, sekolah tidak boleh menjual buku, untuk meningkatkan mutu ini, silahkan siswa untuk membeli buku sendiri baik LKS atau buku pendukung lainnya, karena salah satu cara untuk meningkatkan mutu adalah buku pelajaran,” terangnya.

 “Saya juga tadi ke sekolah yang dimaksud, dan hasilnya ternyata pihak sekolah tidak menjual buku, termasuk di koperasi, kan biasanya kalau jualan LKS atau buku adanya di koperasi, namun pihak sekolah hanya menyarankan kepada siswa untuk membeli buku, dan sekolah juga tidak memaksakan,” tandasnya.

Sumber: fajarnews.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s