Menghidupkan Perpustakaan, Mengubah Warung Remang-Remang Jadi Warung Baca

Inovasi menghidupkan perpustakaan juga muncul dari pinggiran Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tepatnya di Lebak Wangi, Desa Pemegarsari, Kecamatan Parung.

Adalah Kiswanti, ibu dua anak yang merintis sebuah perpustakaan dengan cara ekstrim pada 1997 silam.

Dia berkeliling kampung untuk mengenalkan kebiasan membaca ke warga desanya. Radius terjauh waktu itu bisa sampai 12 km dari rumahnya di kampung Jaya, Lebak Wangi, Parung.

Setiap berkeliling buku yang dia bawa mencapai 150 judul. Buku itu dia tempatkan di dalam boks khusus kemudian diletakkan di bagian belakang sepeda anginnya.

“Saya full berkeliling sekitar 9 bulan. Setelah itu memiliki perpustakaan kecil,” katanya Rabu (7/10).

Saat ini perpustakaan bentukan Kiswanti diberi nama Warabal. Singkatan dari Warung Baca Lebak Wangi. Penamaan itu terinspirasi dari kondisi di Parung yang banyak sekali warungnya saat itu.

“Tetapi warung remang-remang. Saya ingin mengubah konotasi dari warung remang-remang menjadi warung baca,” jelasnya.

Ketika berkeliling kampung, istri dari Ngatmin itu tidak sekedar membagi buku kepada kerumunan anak-anak atau ibu-ibu yang sedang ngerumpi di toko kelontong. Namun dia memulainya dengan membaca atau mendongen untuk nenarik minat masyarakat. Dia mengaku awalnya mendapatkan cibiran, namun semangatnya tetap menyala untuk menanamkan budaya baca.

Pada masa itu Kiswanti mengatakan koleksi bukunya sudah mencapai seribu lebih judul. Dia selalu menyempatkan menyisihkan uang untuk membeli buku dari uang pemberian Ngatmin yang bekerja sebagai kuli bangunan. Di Parung waktu itu belum ada toko buku, sehingga dia harus memberi buku di Blok M atau di kota Depok.

“Pokoknya kebutuhan pokok sudah tercukupi, sisanya untuk beli buku,” jelasnya.

Ibu dari Afif Riadi dan Dwi Septiani itu mengatakan, memasuki 2007 dia sudah tidak intensif berkeliling lagi. Sebab dia sudah mendapatkan lahan seluas 40 meter untuk mendirikan perpustakaan kecil. Lahan sisanya digunakan untuk budidaya tanaman hias. Hasilnya untuk menutup operasional perpustakaan.

Kemudian pada 2011 perpustakaan Warabal mendapatkan suntikan bantuan dari Yayasan Wadah Titian Harapan. Sekarang perpustakaannya sudah berupa gedung dua lantai. Perpustakaan berada di lantai dua. Di lantai ini juga digunakan sebagai layanan pendidikan anak usia dini (PAUD). Kemudian di lantai satu digunakan untuk aula pertemuan serta ruang pelatihan computer.

Menurut perempuan kelahiran Bantul, 4 Desember 1967 itu mengatakan kunci dari keberlangsungan perpustakaan tidak sebatas men-display buku-buku saja. Tetapi bagaimana menarik masyarakat sekitar untuk membaca. Dia mengatakan meskipun saat ini sudah ada unit layanan PAUD, kursus komputer, belajar bahasa Inggris, matematika, dan taman pendidikan Alquran (TPA), core bisnis mereka tetap perpustakaan.

“Anggota perpustakaan kami yang terdata ada 1.783 orang,” jelas dia.

Namun yang masuk kategori anggota aktif, yakni yang datang membaca buku minimal dua kali sepekan, ada 600-an orang. Dia menuturkan perlu inovasi strategis untuk menarik minat menjaga kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Dia mengatakan tidak bisa menarik minat dengan cara-cara formal seperti bedah buku dan sejenisnya.

Sebagai gantinya dia sering membuat forum pertemuan kajian Alquran. Kebetulan di sekitar perpustakaan Warabal banyak kelompok majelis taklim. Pemateri dalam kajian Alquran ini ada kalanya adalah penulis-penulis buku keagamaan. Diantaranya adalah Amin Sumawijaya penulis buku Biarkan Alquran Menjawab.

Pancingan lainnya adalah membuat acara-acara pelatihan keterampilan dan memasak. Namun dia mengatakan hanya sekali saja melaksanakan pelatihan keterampilan itu. Selanjutkan peserta diharapkan bisa melaksanakan secara mandiri. “Karena kita ini perpustakaan, bukan lembaga kursus,” jelasnya.

“Kedepan Kiswanti berharap purpustakaan Warabal yang ada di kampung Jaya hanya berfungsi sebagai kantor administrasi. Sedangkan perpustakaan pelaksana teknis tersebar di banyak tempat. Dia mengatakan sudah ada sejumlah pihak yang ingin membuka perpustakaan serupa. Tetapi rontok karena merasa tidak mendapatkan manfaat uang atau materi. “Kerja saya yang di perpustakaan ini. Urusan rezeki Allah yang tahu,” jelasnya.

Sumber: jawapos.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s