Berinovasi Menghidupkan Perpustakaan, Jangan Cuma Memajang Buku

MANUSIA hidup tidak lepas dari peran jantung yang memompa sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Begitupula dengan kehidupan atau keberlangsungan perpustakaan. Perlu upaya ekstra dari pengelolanya supaya “sirkulasi” pengunjungnya tetap terjaga dengan baik.

Seperti yang dilakukan oleh pengelola PerpuSeru (Perpustakaan Seru). Lembaga yang didukung oleh Coca-Cola Foundation Indonesia dan Bill & Melinda Gates Foundation ini secara aktif mempertahankan kelangsungan hidup perpustakaan-perpustakaan di sejumlah daerah.

“Sesuai namanya, perpustakaan harus seru. Supaya dikunjungi masyarakat,” kata Direktur Program PerpuSeru Erlyn Sulistyaningsih di kantornya Selasa (6/10).

Perempuan kelahiran Magelang 17 Agustus 1972 itu mengatakan, semangat gerakan mereka adalah membuat perpustakaan diminati dan difungsikan kembali oleh masyarakat. Dia menegaskan PerpuSeru tidak bergerak membangun unit perpustakaan baru. Namun meningkatkan kapasitas SDM maupun infrastruktur perpustakaan-perpustakaan yang sudah ada. 

Pada fase pertama mereka bermitra dengan 34 unit perpustakaan daerah yang tersebar di 28 kabupaten dan kota. “Fase pertama ini sudah selesai tahun lalu,” katanya.

Kemudian saat ini sedang berlangsung fase kedua. Pada fase ini mereka merangkul juga sebanyak 84 unit perpustakaan tingkat desa.

Erlyn mengatakan salah satu inovasi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidup perpustakaan adalah menambah fasilitas internet. Dia menuturkan hampir seluruh unit perpustakaan daerah umumnya sudah dilengkapi unit komputer sekaligus jaringan internetnya. Namun kebanyakan hanya untuk keperluan administrasi pengelolanya, bukan untuk pengunjung.

Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya itu, fungsi perpustakaan sebagai tempat membaca tidak bisa diartikan sempit sebagai membaca buku saja. Pengungjung, katanya, juga bisa membaca informasi melalui layanan internet.

Inovasi berikutnya adalah memberikan layanan tambahan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Seperti pelatihan-pelatihan membuat aneka karya kerajinan tangan,” jelasnya.

Dengan cara ini masyarakat bisa memiliki keterikatan yang kuat dengan perpustakaan.

Melalui cara itu, Erlyn mengatakan masyarakat jadi merasakan pentingnya keberadaan perpustakaan. Menurutnya membuat ikatan yang seperti ini, merupakan kunci sukses menjaga kelangsungan hidup sebuah perpustakaan.

Dia mencontohkan sebuah perpustakaan mitra PerpuSeru yang ada di Gunung Kidul, Jogjakarta. Perpustakaan ini bukan seperti pada umumnya yang berupa gedung khusus. Namun sebuah gardu ronda yang disulap sedemikian rupa.

“Meskipun begitu perpustakaan desa di Gunung Kidul ini selalu ramai. Bahkan buka sampai pukul 24.00,” tutur Erlyn.

Ia menjelaskan perpustakaan yang tidak terlalu megah ini tetap memiliki koleksi buku. Namun perpustakaan ini berhasil mengikat masyarakat setempat dengan fungsinya sebagai pusat infomasi di bidang pertanian. Perpustakaan ini juga mendapatkan dukungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Masyarakat merasakan betul manfaat perpustakaan ini. Seperti kualitas dan kuantitas hasil pertanian mereka meningkat,” jelas dia.

Erlyn mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat perpustakaan itu sepi bahkan mati. Seperti kurang promosi kepada masyarakat, perhatian dari masyarakat sekitar rendah, serta kualitas SDM perpustakaan rendah.

“Di beberapa daerah masih ada anggapan bahwa perpustakaan itu sebagai tempat buangan bagi para pegawai,” ungkapnya.

Sumber: jawapos.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s