Gerakan Gemar Membaca Dicanangkan di Gunung Kidul

Gunung Kidul – Gerakan gemar membaca dicanangkan di Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (21/8). Gerakan ini ditandai dengan peresmian perpustakaan dan lima taman bacaan masyarakat di SD Wiloso 2 desa tersebut oleh Ketua Umum Yayasan Damandiri Prof Haryono Suyono.

Hayono didampingi Wakil Rektor 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Sutrisno, Kepala Perpustakaan Daerah Gunung Kidul Ali Ridlo, Camat Panggang Gunawan. Gerakan ini melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya dari UIN Sunan Kalijaga.

Haryono mengatakan, gemar membaca tak hanya mengikis kebodohan dan kemiskinan, tetapi membuat bisa meraih mimpi. Karena gemar membaca pula membawa Haryono memperoleh beasiswa kuliah di The University of Chicago, Amerika Serikat.

“Karena pengalaman membaca itu pun, ketika saya pulang ke Tanah Air akhir 1972, langsung diangkat berdasarkan Keputusan Presiden menjadi pejabat eselon 1 di saat golongan masih 3C. Saat itu, belum banyak orang Indonesia menyandang gelar doktor,” kata Haryono.

Kepada para siswa dan mahasiswa KKN di Desa Giriwungu, Haryono berpesan agar gemar membaca. Membaca bukan untuk diri sendiri, tetapi berbagi kepada orang lain.

Haryono juga berpesan agar perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan, membaca dan meminjam buku, tetapi sekaligus tempat pemberdayaan masyarakat. Dalam kesempatan ini pula, Damandiri menyumbang 200 paket buku dan 600 paket lagi dari Perpustakaan Daerah Gunung Kidul.

Gunawan mengatakan, rendahnya minat baca erat kaitannya dengan tingginya angka drop out di tingkat SD sampai SLTA di Gunung Kidul pada 1990-an. Banyaknya siswa yang putus sekolah menyebabkan mereka hanya bekerja sebagai buruh atau petani, dan sebagian lagi menikah usia dini. Angka buta huruf penduduk dewasa dan tua pada waktu itu pun mencapai sekitar 50 persen.

Tetapi, dengan adanya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat  (PKBM) yang dikembangkan di setiap desa, angka buta huruf bisa ditekan sejak 2000. Saat ini, 80 persen masyarakat sudah melek huruf.

“Hanya saja sebagian perpustakaan ini kurang aktif alias tidak ramai dikunjungi, karena kebiasaan masyarakat memang kurang suka membaca. Memang harus ada keteladanan dari aparat desa,” kata Gunawan.

Ali Ridlo menambahkan, kurangnya bahan bacaan menjadi salah satu penyebab rendahnya minat baca siswa dan masyarakat, di samping karena tidak adanya penyadaran atau keteladanan.

Untuk menumbuhkan minat baca, Perpustakaan Daerah Gunung Kidul membuat gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). Selain itu, digalakkan Perpustakaan Daerah Gunung Kidul di tingkat kabupaten dan kecamatan.

Sementara itu di Indonesia, minat baca masyarakatnya masih tergolong rendah. UNESCO pada 2012 melaporkan, indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang memiliki minat baca.

Sumber: beritasatu.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s