Membacakan Cerita Atasi Rendahnya Minat Baca

MAKASSAR – Membacakan cerita kepada anak-anak bisa menjadi salah satu upaya mengatasi krisis minat baca di Indonesia, demikian yang disampaikan Spesialis Pengembangan Sekolah USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan (Sulsel), Fadiah Mahmud.

“Salah satu strategi yang kita adalah membacakan cerita dengan cara yang menarik dan mendalam di depan para siswa,” kata Fadiah di Makassar, Selasa (18/8/2015).

Menurut dia, krisis literasi Indonesia sudah sangat memprihatinkan, sehingga diperlukan banyak strategi dan terobosan untuk mengatasinya.

Sambil mengutip presentasi Anis Baswedan di hadapan Kepala Dinas Pendidikan seluruh provinsi pada 1 Desember 2014 yang menyebut keadaan ini sebagai “Gawat Darurat”, berharap semua pihak memiliki sense of urgency terhadap krisis ini.

“Kalau sudah masuk ruang gawat darurat, berarti harus dilakukan penyelamatan dengan banyak strategi dan terobosan,” ujarnya.

Menurut Fadiah, gerakan budaya baca dengan mendorong pendirian infrastruktur budaya baca seperti pengadaan buku, sudut baca, dan taman baca serta strateginya dengan membaca senyap, membaca bersama-sama dan lain-lain, harusnya bisa diprogramkan secara massif di tengah masyarakat, terutama di sekolah.

Namun menurut dia, gerakan semacam itu belumlah cukup, perlu juga membuat gerakan yang berfokus pada isi buku itu sendiri.

“Isi buku perlu dipaparkan kepada orang sehingga orang tertarik membacanya, bisa lewat resensi, atau lewat pembacaan cerita dengan penjiwaan kepada orang lain, seperti yang kami lakukan pada pelatihan ini,” ujarnya.

Dengan pembacaan cerita seperti yang dilakukan oleh kedua pendidik itu, para peserta mendapatkan pengalaman baru. Mereka menjadi lebih menyelami bacaan, empati mereka terbangun dan termotivasi juga untuk membaca lebih jauh.

“Diperlukan pencerita yang baik, suasana yang disetting sedemikian rupa, dan isi cerita yang menunjang,” katanya.

Menurutnya, program seperti ini penting sekali dilakukan di sekolah terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga yang tidak memiliki budaya membaca.

Pengalaman menyimak cerita seperti ini bisa menunjukkan kepada siswa bahwa di dalam buku ada hal yang mengasyikkan, penting dan bermakna.

Semua guru bisa menjadi pencerita yang baik, lanjut dia, dengan berlatih sendiri bagaimana intonasi dan penjiwaannya sehingga ketika membaca di hadapan anak-anak bisa memprovokasi kepekaan rasa anak-anak terhadap cerita.

Apabila model seperti ini disebarkan secara meluas ke sekolah-sekolah dan dilatihkan juga kepada anak-anak, mereka tidak hanya akan terpicu memahami bacaan, tapi juga menjiwai dan mengekspresikannya.

Hal ini sangat penting untuk mengurangi krisis literasi di Indonesia. Literasi bukan cuma melek huruf tapi juga memahami bacaan.

Sumber: okezone.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s