“Me Time” dengan Membaca Novel

Setiap eksekutif yang sibuk tentunya membutuhkan waktu untuk diri sendiri (me time) guna menyegarkan fisik dan jiwa, di antaranya dengan menyalurkan hobi. Begitu pula dengan Andi Sitti Asmayanti, director of Cocoa Life for South East Asia Mondelez International yang memiliki hobi berenang dan membaca.

Andi Sitti Asmayanti yang biasa dipanggil dengan Yanti, mengaku berenang dan membaca merupakan hobi yang paling disukainya yang biasa dijalani di waktu senggang. Bahkan, keduanya merupakan bagian dari me time-nya yang sudah melekat dan sulit dipisahkan dari kehidupannya.

“Jadi, kegiatan berenang dan membaca merupakan me time. Itu sudah bagian tak terpisahkan dari aktivitas dan hobi yang sangat saya sukai,” ujar Yanti dalam wawancara di sebuah hotel kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Menurut perempuan kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini, berenang selalu dijalani setidaknya tiga kali dalam setiap pekan, baik dilakukan pada pagi hari maupun sore hari, selama setengah hingga satu jam. Sedangkan gaya renang yang paling disukainya adalah gaya bebas dan dada.

Ketika sedang di kolam renang, Yanti paling suka dengan momen tubuhnya tersentuh dan berinteraksi dengan air. Air yang jernih terasa sangat sejuk ketika menyentuh kulit, langsung mendinginkan dan menyegarkan tubuh, serta menenteramkan jiwanya.

“Kalau manfaat yang diperoleh dari berenang, tubuh memang jelas lebih bugar dengan aktivitas saya yang banyak traveling. Saya juga jarang sakit walaupun aktivitas cukup padat,” ucapnya.

Sementara itu, di waktu senggangnya, dia juga hobi membaca, baik buku-buku yang serius, antara lain manajemen dan kepemimpinan, serta novel. Buku serius tentang manajemen dan kepemimpinan dibacanya untuk menambah pengetahuan dalam memimpin di perusahaan, sedangkan membaca novel merupakan salah satu cara untuk refreshing.

Yanti mengaku suka membaca novel kriminal, terutama karya pengarang dari luar negeri, antara lain Agatha Christie, John Grisham, dan novel best seller. Dia sangat menikmati ketika membaca novel kriminal, karena seakan ikut terlibat di dalamnya, memompa rasa penasaran, selain otak dituntut ikut berpikir dan menganalisis.

“Saya biasanya membaca buku serius tentang kepemimpinan saat menjelang tidur. Sedangkan novel kriminal lebih banyak saya baca pada hari Sabtu-Minggu, yang merupakan bagian dari me time,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, Yanti juga menyampaikan karier yang dicapainya sekarang tidak bisa dilepaskan dari peran suami dan dua anaknya. Anak lelakinya saat ini kuliah di Universitas Telkom Bandung, sedangkan anak keduanya masih di SMP di Kota Makassar.

“Saya bisa berkarier seperti sekarang karena dukungan keluarga, dan tentunya untuk keluarga. Keluarga bagi saya segala-galanya,” ujarnya

Program “Cocoa Life”
Sementara itu, Yanti memulai kariernya di Mondelez International pada Juli 2013. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang cocoa sustainability dan supply chain, dia dipercaya sebagai director of Cocoa Life for South East Asia Mondelez International.

Ia memimpin program “Cocoa Life”, yang merupakan bagian dari strategi keberlangsungan Mondelez International. Melalui program ini, perseroan berkomitmen untuk menginvestasikan dana US$ 400 juta selama 10 tahun untuk membantu para petani kakao di berbagai negara, yang menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Sebagai sebuah perusahaan makanan ringan terkemuka di dunia, Mondelez International merasa terpanggil untuk membantu terjaminnya pasokan komoditas-komoditas pangan penting dunia,” katanya.

Berkantor di Makassar, Yanti bersama timnya menggerakkan berbagai inisiatif dan program yang bertujuan untuk memajukan kualitas produksi kakao di Indonesia. Menurut dia, masih banyak hal yang harus diperbaiki guna memajukan industri kakao di dalam negeri.

Program “Cocoa Life” ditargetkan menjangkau petani-petani kakao di Papua, Sumatera, dan Sulawesi. Nantinya, diharapkan lebih dari 50.000 petani kakao di Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari program tersebut.

Dengan pertumbuhan kebutuhan cokelat saat ini, Yanti menunjukkan, pada 2020, dunia diperkirakan kekurangan bahan baku cokelat sebanyak 1 juta ton setiap tahun. Kondisi tersebut jelas akan mengancam keberlangsungan produsen makanan berbahan baku cokelat. Karena itu, program-program seperti “Cocoa Life” yang dijalankan di bawah komando Yanti memiliki peranan yang sangat penting.

Dia pernah bekerja di Mars Incorporated dan bertanggung jawab untuk memimpin commercial and bean sourcing operations dan keberlanjutan program kakao di Indonesia. Dia meraih gelar master of business administration di manajemen keuangan dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan, dan saat ini kandidat peraih gelar master of business administration in organizational and strategy. Sejak tahun 2010, Yanti juga menjadi dewan pengawas Cocoa Sustainability Partnership di Indonesia.

Sumber: beritasatu.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s