Industri Buku Bertahan di Tengah Gempuran Digital

Do we need publishers? Do we need the truck that drives the books to the bookshop? (Apakah kita membutuhkan penerbit? Apakah kita membutuhkan truk yang mengantarkan buku-buku ke toko buku?)

Seorang pengunjung Jakarta Book Fair 2015 sedang memilih buku murah. Pameran yang diadakan oleh Ikapi DKI Jakarta di Plaza Parkir Timur Senayan Jakarta itu diselenggarakan 27 Juli hingga 3 Agustus 2015.

Pertanyaan itu terlontar dari penulis asal Inggris, Simon Kuper, dalam sebuah wawancara dengan sebuah media di Irlandia, the University Times, beberapa waktu lalu. Kuper adalah penulis Football Against the Enemy, buku yang memenangi William Hill Sports Book of the Year tahun 1994.

Kuper tengah gundah. Ia memikirkan masa depan penulis buku, yang semakin sulit mendapatkan penghasilan yang memadai dari penerbit konvensional. Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis penjualan buku cetak di Inggris memang sedang lesu.

Dilansir the Guardian, sesuai penelitian yang dilakukan Nielsen BookScan awal tahun ini, penjualan buku cetak, baik fiksi maupun nonfiksi, di Inggris menurun sebesar 21 persen atau lebih dari 150 juta poundsterling (Rp 3,2 triliun) dari angka penjualan tahun 2009 silam. Hanya buku anak-anak yang mengalami peningkatan, yakni sebesar 9,1 persen dari tahun lalu.

Pria kelahiran Kumpala, Uganda, ini pun mengakui saat ini dirinya telah beralih menerbitkan buku melalui Amazon, sebuah perusahaan perdagangan elektronik multinasional di Amerika Serikat yang merupakan pengecer daring terbesar di dunia. Menurut dia, menerbitkan buku melalui situs amazon.com lebih menguntungkan secara finansial.

“Amazon bisa menguntungkan para penulis seperti saya karena jika Anda menerbitkan buku bersama mereka, Anda akan mendapatkan 70 persen. Saat ini jika saya menjual sebuah buku (lewat penerbit biasa) dengan harga 15 pound, saya hanya akan mendapatkan 1 pound,” tutur Kuper, yang juga seorang wartawan Financial Times tersebut.

Berdasarkan penelitian sebuah yayasan amal di Inggris, Joseph Rowntree Foundation, pendapatan minimum untuk mencapai standar hidup di Inggris adalah 16.850 poundsterling (Rp 353,7 juta) per tahun. Sedangkan pendapatan para penulis penuh waktu pada tahun 2013 lalu adalah 11.000 poundsterling (Rp 230,9 juta) per tahun, jauh menurun dari 12.330 poundsterling (Rp 258,8 juta) per tahun pada tahun 2005 silam.

Dengan pendapatan yang terus menurun dari penerbit, wajar jika penulis seperti Kuper mulai melihat ‘ceruk’ lain untuk meningkatkan pendapatannya dari karya-karya yang dibuatnya.

“Penulis akan selalu ada karena orang akan selalu ingin menulis buku. Pertanyaannya apakah Anda bisa menggantungkan hidup dari situ?” tutur pengarang buku “Soccernomics” tersebut.

Di Indonesia, keadaannya tak lebih baik dibandingkan di Inggris. Dalam dua tahun terakhir industri perbukuan di Tanah Air juga sedang lesu. Salah satu indikasinya adalah sepinya berbagai acara pameran buku di kota-kota besar, seperti yang terjadi pada pagelaran Jakarta Book Fair 2015 yang digelar di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, 27 Juli-3 Agustus lalu.

Jakarta Book Fair 2015 hanya diisi 32 stan penerbit. Sisanya, sebanyak 80 stan diperuntukkan bagi penjual aneka perlengkapan sekolah. Meskipun biasanya terdapat lebih banyak penerbit yang berpartisipasi pada acara-acara serupa, seperti Indonesia Book Fair dan Islamic Book Fair, saat ini kecenderungannya sedang menurun.

“Jika sebelumnya muncul penerbit-penerbit baru saat pameran, sekarang mulai jarang. Dua tahun lalu, sebuah penerbit bisa memesan lima hingga enam stan. Namun, kini mereka hanya pesan dua-tiga stan. Sedangkan yang biasanya pesan dua-tiga stan, sekarang hanya pesan satu stan,” keluh Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, Afrizal Sinaro, kepada Republika baru-baru ini.

Indikator lain lesunya industri industri buku cetak adalah semakin turunnya jumlah produksi buku. Afrizal mengungkapkan, jika saat ini penerbit memproduksi buku sebanyak 3.000 eksemplar, dalam satu tahun jumlah tersebut belum tentu habis terjual.

Hal itu membuat rata-rata penerbit kini lebih selektif dalam menerbitkan buku untuk menghindari kerugian di pasaran. Apalagi, melemahnya ekonomi di Indonesia membuat masyarakat cenderung menahan pengeluaran, terutama untuk barang-barang yang bisa ditunda konsumsinya seperti buku.

Satu lagi indikator lesunya industri buku di Indonesia adalah berkurangnya jumlah distributor buku. Jika 10 tahun yang lalu, terdapat 5.000 toko buku, kini jumlahnya sekitar 1.000 toko buku saja.

Menurut Afrizal, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan lesunya industri perbukuan di Tanah Air. Selain ekonomi nasional yang sedang melemah, budaya baca di tengah masyarakat juga tidak tumbuh dengan baik. Ia pun tak memungkiri jika faktor berkembangnya teknologi informasi juga ikut mempengaruhi lesunya industri perbukuan konvensional.

“Bermunculannya e-book membuat masyarakat tampaknya telah berpindah ke lain hati. Kemungkinannya saat ini sudah banyak para pembaca buku cetak, terutama dari kalangan muda, beralih ke buku-buku digital,” kata Afrizal.

Noor Huda Ismail, salah seorang penulis buku best seller Indonesia, berpendapat para penerbit konvensional harus berani mengubah pola pikir jika tidak ingin dikalahkan oleh para penerbit daring (online) yang sedang banyak bermunculan saat ini. Ia mengakui, melalui internet para penerbit baru itu bisa melakukan distribusi yang lebih bagus ketimbang para penerbit konvensional.

Penulis buku berjudul “Temanku Teroris?” itu mengakui dirinya tertarik untuk menerbitkan buku dengan menggunakan jasa penerbit-penerbit daring. Hal itu berkaca dari pengalamannya menerbitkan buku lewat penerbit konvensional, yang distribusinya kurang optimal karena penerbit kurang bisa menjangkau tempat-tempat di luar kota-kota besar.

“Model yang ditawarkan penerbit online tentu sangat menggiurkan kepada para penulis. Bukan hanya karena royalti, melainkan juga masalah distribusi. Apalagi platform untuk distribusi buku sekarang sudah variatif dan tidak perlu harus diterbitkan oleh penerbit konvensional, ” kata pria yang juga pengamat terorisme itu.

Penulis buku best seller lainnya, Trinity, yang telah menjual buku-bukunya melalui format digital, juga mengharapkan penerbit-penerbit konvensional melakukan inovasi baru dalam melakukan distribusi. Hal itu disebabkan adanya monopoli dalam jalur distribusi yang membuat banyak buku baru tidak bertahan lama dipajang di toko buku besar seperti Gramedia sehingga turut berpengaruh pada royalti yang diberikan kepada penulis.

“Semestinya penerbit (konvensional) sudah mulai melirik penjualan secara online. Hal itu akan lebih menguntungkan karena akan banyak memotong jalur distribusi,” ujar penulis yang bukunya “the Naked Traveler” akan ditampilkan pada perhelatan Frankfurt Book Fair 2015 pada Oktober mendatang.

Itulah gambaran sekilas bagaimana penerbit konvensional sudah tak lagi menjadi primadona seperti pada masa lalu, setidaknya dari kalangan penulis, yang merupakan sesama stakeholder dalam industri perbukuan. Kini, seiring dengan kemajuan teknologi informasi, penerbit konvensional dituntut melakukan perubahan jika tak ingin tergerus oleh zaman.

Nulisbuku adalah salah satu perusahaan rintisan (startup) yang berusaha menjawab tantangan dalam industri perbukuan tersebut. Dengan konsep layanan penerbitan mandiri (self-publishing) yang berbasis daring, Nulisbuku berusaha mengisi ruang kosong yang belum ditempati penerbit-penerbit konvensional.

Meskipun belum sanggup memberikan hingga 80 persen keuntungan penjualan buku (cetak) untuk penulis layaknya Amazon di Amerika Serikat, penerbit yang didirikan tahun 2010 tersebut setidaknya mampu memberikan keuntungan cukup besar kepada para penulisnya, yakni sebesar 60 persen. Sisanya, sebanyak 40 persen, baru diperuntukkan bagi Nulisbuku.

“Selain dari sisi royalti, keuntungan menulis di Nulisbuku adalah berbagai macam kemudahan yang diberikan untuk para penulisnya,” ujar Aulia Halimatussadiyah, salah seorang pendiri Nulisbuku.

Ia menjelaskan, dengan memilih menerbitkan buku melalui nulisbuku.com penulis tidak perlu mengeluarkan biaya untuk keperluan prapenerbitan, seperti ISBN, penyuntingan, desain, dan lain-lain. Selain itu, semua karya penulis juga sudah pasti akan diterima dan diterbitkan meskipun dengan jumlah yang variatif sesuai dengan permintaan penulis.

Sejak berdiri lima tahun lalu, jumlah penulis yang memilih menerbitkan buku di Nulisbuku meningkat pesat. Hanya menerbitkan 200 judul pada tahun pertama, tahun lalu jumlah judul buku yang diterbitkan sudah nyaris menembus angka 5.000 judul. Mayoritas penulis berasal dari kalangan anak muda.

“Ini membuktikan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda, sebenarnya memiliki antusiasme yang besar untuk menulis buku,” kata wanita yang akrab dipanggil Ollie tersebut.

Diakui Ollie, pada mulanya para penerbit konvensional merasa tersaingi dengan keberadaan Nulisbuku. Akan tetapi, belakangan mereka justru merasa diuntungkan karena berbagai program yang digelar ia dan rekan-rekannya, di antaranya pelatihan-pelatihan untuk para penulis pemula yang digelar di berbagai kota di Indonesia.

“Pada akhirnya tak sedikit penulis Nulisbuku yang akhirnya malah dikontrak oleh penerbit (konvensional–Red) besar,” kata Ollie menambahkan.

Ollie pun optimistis industri perbukuan di masa depan akan terus berkembang, sama halnya dengan profesi penulis yang akan semakin menjanjikan. Alih-alih mati, penerbit konvensional akan terus hidup dengan syarat harus mengikuti perubahan zaman dengan cara terus berinovasi.

Tidak hanya dari bisnis penerbitan berbasis daring, persaingan bagi penerbit konvensional juga datang dari penerbit buku digital, sebut saja Scoop, Qbaca, dan Aksara Maya. Hingga tahun ini, nama yang disebut terakhir sudah memublikasikan hasil karya digital dari sebanyak 2.000 penulis sejak mulai berbisnis penerbitan digital dua tahun lalu.

Head of Marketing and Communication Aksara Maya, Indra Yustiawan, mengakui bisnis penerbitan buku digital untuk saat ini belum bisa memberikan keuntungan sebesar penerbit-penerbit buku cetak. Hal itu karena masih lumrahnya pola pikir yang menganggap buku-buku digital bisa didapatkan dengan gratis.

Namun, ia optimistis pada masa depan akan ada lebih banyak penulis yang menyasar penerbit digital, terutama dari kalangan anak-anak muda. “Kami yakin e-book akan memiliki pasarnya sendiri, bahkan potensinya cukup besar di masa mendatang,” ujar Indra.

Meskipun demikian, Aksara Maya tak mau memosisikan diri sebagai kompetitor para penerbit konvensional. Perusahaan yang pertama kali dirintis pada 2011 itu saat ini menempatkan diri sebagai mitra bisnis sejumlah penerbit besar untuk menjual buku-buku digital mereka, salah satunya Penerbit Mizan.

“Kami hadir untuk memberikan pilihan kepada para pembaca. Tujuan kami bukan menjadi pesaing (penerbit konvensional), tapi sebagai rekan yang memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan minat baca masyarakat,” kata Indra menambahkan.

Wakil Presiden Mizan Group, Putut Widjanarko, mengungkapkan alasan pihaknya mulai beralih ke dunia digital. Ia mengatakan, masa berakhirnya industri penerbitan konvensional akan segera tiba.

“Masa itu akan tiba. Orang akan lebih banyak mengkonsumsi konten termasuk buku dan teks dengan menggunakan gadget,” katanya kepada Antara beberapa waktu lalu.

Menurut Putut, buku digital memiliki keuntungan lebih efisien dan ekonomis karena tidak perlu mencetak lembar demi lembar halaman. Selain itu, buku digitalĀ  bersifat praktis karena hanya membutuhkan ruang kecil yang dapat tersimpan dalam memori ponsel, lebih mudah dibawa ke mana-mana, serta bisa diakses sesering mungkin.

“Buku printing kan ada biaya kertas, cetak, dan distribusi. Semua biaya ini kan nanti hilang karena buku diproduksi dalam bentuk digital,” kata pria yang juga merupakan produser film layar lebar tersebut.

Afrizal, yang juga merupakan direktur utama Penerbit Al-Mawardi Prima, sepakat jika penerbit konvensional harus membuat inovasi baru. Ia mencontohkan, saat ini penerbit yang dipimpinnya melakukan cara baru dalam pendistribusian buku, yakni dengan melibatkan para penulisnya.

Hal itu dilakukannya karena pihaknya sudah tak bisa lagi mengandalkan toko-toko buku besar sebagai tempat menjual buku. Selain itu, ia juga mengakui sudah saatnya para penerbit konvensional menyasar para pembaca buku-buku digital.

“Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan diri. Pada dasarnya, buku kan hanya media. Sedangkan intinya ada pada konten. Jadi tugas penerbit adalah bagaimana menyiapkan naskah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tinggal dipikirkan bagaimana penjualan dan pemasarannya saja,” kata Afrizal.

CEO Penerbit Bentang Pustaka, Salman Faridi, menambahkan penerbit konvensional memang mau tidak mau harus mengikuti arus digital yang ada saat ini. Meskipun keuntungan yang diperoleh saat ini belum sebesar jika menerbitkan buku-buku cetak, tapi ke depan ia yakin buku digital akan terus tumbuh.

“Memang tidak ada cara lain lagi jika (penerbit konvensional) tidak ingin ketinggalan. Mudah-mudahan kami cukup siap,” katanya.

Meskipun demikian, Salman menolak pendapat yang menyatakan bisnis buku cetak akan mati-suri dalam kurun beberapa tahun lagi. Menurut dia, kasus di Indonesia berbeda dengan di Amerika Serikat yang penjualan buku-buku cetaknya terus menurun seiring dengan tumbuhnya bisnis buku digital.

“Di Indonesia, buku print dengan buku digital itu sifatnya bukan substitusi, tapi komplementer. Makanya dua-duanya bisa hidup berdampingan,” ujar Salman.

Kasus buku cetak di Indonesia juga berbeda dengan kasus media cetak, seperti koran dan tabloid yang mulai tergerus karena kemunculan media-media daring. Buku masih berfungsi sebagai aktivitas memanfaatkan waktu luang (leisure activity) yang belum bisa tergantikan dengan membaca e-book lewat perangkat elektronik.

Hasil studi dari American Educational Research tahun 2014 lalu menyimpulkan tingkat pemahaman bacaan anak lebih tinggi dengan membaca buku konvensional daripada membaca e-book. Hal itulah yang membuat Ikapi meyakini industri buku cetak pada masa depan akan tetap bertahan meskipun jumlah konsumennya diprediksi akan semakin sedikit.

“Dalam proses pengembangan dan peningkatan minat budaya baca, sangat dianjurkan bagi anak-anak membaca buku cetak,” kata Afrizal.

Pernyataan Ikapi tersebut diperkuat oleh pakar bahasa, Prof Mahsun. Menurut pria yang juga merupakan kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut, keberadaan buku digital tidak akan dapat menggantikan peran buku cetak.

“Ada nilai-nilai manusiawi yang dimiliki oleh buku cetak yang tidak dimiliki buku-buku digital, misalnya buku cetak dapat dipegang, disentuh, dibolak-balik halamannya sehingga memudahkan untuk dibaca. Sementara itu, buku digital meskipun mengaksesnya mudah, murah, praktis, dalam pemanfaatannya orang mudah lelah karena matanya tersinari oleh cahaya perangkat elektronik,” kata guru besar ilmu linguistik Universitas Mataram itu.

Kasus di berbagai negara terkait perkembangan buku digital menunjukkan tren yang berbeda. Di Amerika Serikat penjualan e-book memang meningkat terus hingga melampau penjualan buku-buku cetak. Total penjualan buku digital di Amerika Serikat hingga tahun ini mencapai angka 90,3 juta dolar AS (Rp 1,2 triliun)

Akan tetapi di Jerman, berkat gencarnya pameran buku berskala dunia Frankfurt Book Fair yang telah berusia lebih dari 500 tahun, buku-buku cetak masih mendapatkan tempat tersendiri dan belum terkalahkan. Hingga kini, buku konvensional di Jerman menguasai 95 persen pasar buku, sedangkan buku digital hanya menguasai lima persen.

“Berdasarkan kasus di Amerika dan Jerman, dapat dikatakan bahwa antara buku cetak dan buku digital memiliki segmen pengguna sendiri-sendiri sehingga keberadaannya bersifat saling mendukung, bukan untuk saling meniadakan,” ujar Mahsun.

Pengaturan terhadap peredaran buku-buku digital di Tanah Air menjadi salah satu poin yang tertera dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Sistem Perbukuan yang saat ini tengah dibahas di Panja Perbukuan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Keberadaan buku digital tak bisa dihindarkan. Nanti ada aturannya sehingga bisa saling menunjang (dengan buku-buku cetak),” kata anggota Panja Perbukuan Komisi X DPR, Popong Otje Djundjunan.

Selain itu, dengan lahirnya UU ini nantinya akan terdapat lembaga yang secara khusus mengontrol industri perbukuan di Indonesia, yakni Badan Perbukuan. Popong mencontohkan, selama ini tidak ada aturan mengenai siapa yang berhak mengendalikan harga. Akibatnya, harga-harga buku di pasaran sering tak terkontrol.

“Supaya nanti terkontrol semua. Sehingga penulis bisa hidup dari menulis buku, sedangkan penerbit juga tidak bisa seenaknya lagi menentukan harga,” kata anggota DPR dari Fraksi Golkar tersebut. Popong menambahkan, rencananya RUU ini akan diusahakan agar rampung tahun ini juga mengingat kehadirannya sudah sangat mendesak.

RUU Sistem Perbukuan ini mendapatkan respons yang beragam dari para stakeholder industri perbukuan, baik dari kalangan penulis, penerbit buku konvensional, maupun penerbit buku digital. Namun, satu hal yang pasti, keberadaan produk legislasi tersebut nantinya akan memastikan negara hadir di tengah-tengah industri perbukuan yang semakin lesu belakangan ini.

Sumber: republika.co.id

Leave a comment

Filed under Pustaka

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s