Menunggu Warisan Budaya Membaca

SOLO — Penerbitan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 21/2015 yang mengharuskan setiap siswa membaca buku-buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai merupakan angin segar bagi pembiasaan siswa dalam berinteraksi dengan buku-buku.

Selain siswa yang dipaksa membaca buku, sekarang guru juga diharuskan mengawasi kegiatan membaca yang dilakoni para siswa. Kita tunggu saja hasilnya, apakah kegiatan itu nantinya mampu membuat perpustakaan-perpustakaan di sekolah ramai dan membuat perpustakaan-perpustakaan yang tutup kembali dibuka?

Pernah suatu kali seorang guru di Kediri membuat peryataan yang terkesan menyudutkan perpustakaan dan murid-murid—termasuk mahasiswa—perihal fenomena sepinya perpustakaan.

Perpustakaan yang sepi dia anggap sebagai tanda minat baca masyarakat Indonesia yang sangat kurang. Ia bertolak dari hasil survei Human Development Index 2014 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-39 dari 42 negara.

Penambahan dan perbaikan fasilitas perpustakaan, baik materi maupun nonmateri, ia harapkan mampu memperbaiki keadaan ini. Saya tak bisa menutup mata bahwa murid-murid era sekarang jarang sekali membaca buku.

Hal itu bukan semata-mata karena tidak tersedianya fasilitas perpustakaan yang layak. Sebagai contoh, perpustakaan universitas tempat saya kuliah memiliki fasilitas yang cukup lengkap, seperti tersedianya jaringan wireless fidelity (wifi), koleksi buku, senyum ramah petugas, toilet, ruang baca, meja, bahkan colokan listrik dalam jumlah yang banyak—untuk sekadar mengisi ulang baterai telepon seluler.

Kenyataannya, berdasarkan pengamatan saya, dari 35.000 lebih mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, tak lebih dari 400 mahasiswa yang setiap hari mengunjungi perpustakaan pusat.

Dari 400 orang itu tidak semuanya berkutat dengan buku-buku. Mereka lebih senang menikmati jaringan wifi atau jaringan komunikasi nirkabel yang memang disediakan di area perpustakaan.

Ini membuktikan minat baca masyarakat memang minim. Minat baca di kalangan murid-murid sekolah minim lebih karena tidak adanya daya yang mampu menumbuhkan gairah membaca.

Semoga saja dengan Permendikbud yang ditandatangani Menteri Anies Baswedan tersebut gairah membaca murid-murid Indonesia semakin tumbuh berkembang.

W.J.S. Poerwadarminta (1981:7) pernah menyatakan dalam satu sampai 100 orang, tidak ada seorang pun yang membaca hanya karena gemar membaca. Kebanyakan orang baru mau membaca manakala ada sesuatu yang mendorong atau menarik mereka untuk membaca.

Dorongan membaca itu muncul karena untuk mengisi waktu senggang; untuk mencari hiburan; pemuasan rasa ”ingin tahu”; hendak mendapatkan hasil, seperti ilmu, pengetahuan, pengalaman, kepandaian; dan sebagainya.

Kalau saya boleh menambahkan, ada lagi alasan orang membaca buku, khususnya bagi para murid, yaitu untuk mengerjakan tugas dan kalau mau ujian. Persentuhan manusia dan buku-buku tidak pernah lepas dari motif-motif tertentu.

Dari situ tampak esensi dari kegiatan membaca adalah kebutuhan. Selama orang-orang terus-menerus merasa tidak merasa ”butuh” membaca, niscaya perpustakaan akan tetap sepi, meskipun fasilitas-fasilitas yang nyaman telah disediakan.

Siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas tidak adanya rasa ”butuh” membaca di kalangan murid-murid? Murid atau guru? Pertanyaan semacam ini bagi saya mirip dengan pertanyaan ”lebih dulu mana antara ayam dan telur?” Sangat sulit untuk dijawab.

Sumber: solopos.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s