Secuil Gairah Menulis dan Membaca di Tengah Pasar

Segelas campuran susu kuda liar Sumbawa dan madu bunga kopi yang dibuat Maesy Angelina bukan hanya menjadikan ia, Teddy Kusuma, dan Steve Ellis kuat bagai kuda. Racikan itu juga menyuntikkan energi bagi POST, gerai mungil di Pasar Santa, Jakarta.

Didirikan sejak 2014, ruang terbuka bagi para pencinta dunia kreatif itu masih bernapas hingga kini, di tengah kios-kios lain yang mulai tutup atau berkubang dalam aura kompetisi. Tak seperti gerai lain, makanan bukan jualan utama POST. Sudut berpilar kuning itu justru menjajakan buku.

Di dua meja sebelah kiri, tersusun buku-buku asing. Tidak banyak seperti di Gramedia, Periplus, Kinokuniya, Aksara, apalagi Barnes & Noble. Masing-masing edisi hanya ada satu eksemplar. Koleksinya pun tidak lengkap-lengkap amat. Tapi buku-buku yang tersedia itu pilihan.

“Ini enggak banyak yang tahu dia punya buku, tapi ternyata lumayan,” kata Teddy pada Sabtu (8/8) malam kepada seorang pengunjung yang tengah melihat-lihat buku di rak itu. Ia menyodorkan buku bersampul biru, judulnya Ash Wednesday. Ethan Hawke ada di nama penulis, ditulis besar.

Seorang pengunjung di POST Pasar Santa. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Malam itu Teddy berjaga sendiri. Hanya ada sekelompok bocah pasar yang mengerubutinya. Mereka berebut celoteh minta didongengi Teddy. Pria 34 tahun itu meladeni mereka satu per satu dengan sabar. Bibirnya tetap menyungging senyum.

Menurut Teddy, anak-anak itu telah menjadi keluarga POST karena mereka suka menonton film bersama atau didongengi secara telaten.

“Kakak suka buku apa?” serempak anak-anak itu tiba-tiba bertanya pada seorang pengunjung, berdasarkan komando dari Teddy. Setelah mendapat perhatian, penulis The Dusty Sneakers itu akhirnya mengambil alih. “Kamu suka buku apa? Puisi? Ini bagus,” tuturnya sembari menyodorkan buku karya M. Aan Mansyur dari meja sebelah kanan yang dipenuhi buku-buku berbahasa Indonesia.

Teddy kemudian mengajak pengunjung itu berbincang banyak soal buku. Ia terlihat sangat menguasai topik itu. Mulai dari buku puisi, kumpulan cerita pendek, buku nonfiksi, sampai rekomendasi sastra.

Deretan buku dari penerbit independen. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Etalase buku independen

Jelas saja ia fasih berbicara soal buku. Selain pencinta buku, barang-barang dagangan yang ditawarkan di POST memang hasil “kurasi” dirinya dan Maesy. Buku-buku berbahasa asing ia beli saat berkeliling ke negeri orang, atau titip teman yang kebetulan berkunjung ke tanah seberang.

“Buku yang Maesy beli di London, semuanya terjual. Dia bawa satu koper buku. Sekali beli kami memang selalu banyak, dan rata-rata selalu terjual sampai habis,” ujar Teddy. Jika tidak habis, ia “lahap” sendiri bersama sang istri.

Sedangkan buku-buku lokal, merupakan hasil penerbit-penerbit independen yang jarang mendapat kesempatan memamerkan buku di toko mayor, seperti terbitan Marjin Kiri atau Kata Bergerak.

“Ini satu-satunya buku di sini yang ada di Gramedia,” kata Teddy saat berbincang dengan CNN Indonesia. Buku yang ia maksud adalah hasil tulisannya sendiri bersama Maesy, The Dusty Sneakers. Selain itu, meski ada karya penulis kondang seperti Agus Noor, terbitan independen.

Buku yang Maesy beli di London, semuanya terjual. Dia bawa satu koper buku.Teddy Kusuma

Kesempatan itu jarang ditawarkan toko buku lain. POST sengaja memilih konsep demikian untuk mewadahi semua penulis secara merata. Agar tidak hanya penulis berbuku laris saja yang bisa masuk toko buku besar. Teddy bermimpi penerbit independen di Indonesia bisa bernasib sama dengan penerbit di sebuah negara yang ia datangi.

“Bahkan di sana ada peta untuk toko-toko buku independen di kota itu,” ujarnya dengan antusias.

Wadah berbagi bagi pemula

Selain mewadahi buku-buku independen, POST juga menggelitik semangat kreatif, termasuk penulisan. Ruang seluas empat kali dua meter itu sering menjadi tempat bergairahnya darah seni anak-anak muda. Kata Teddy, ada berbagai kegiatan yang biasanya diselenggarakan setiap akhir pekan.

“Mulai workshop penulisan, diskusi buku, nonton film, dan sebagainya. Kita usahakan setiap bulan ada satu kegiatan,” ia mengatakan. Tidak seperti komunitas menulis atau membaca lain, yang datang bukan “konco-konco” sendiri. Justru lebih banyak pemula yang baru bergabung dan berkenalan.

“Biasanya yang pemula itu canggung kalau masuk komunitas. Makanya meskipun pembicaranya punya banyak teman, kita malah minta mereka jangan datang,” tutur Teddy sambil tertawa. Sekali acara, ruangan bisa berisi 10 sampai 20 orang. Setiap kegiatan diinfokan melalui sosial media, dan dijamin tidak pernah dipungut biaya.

Pengunjung di POST Pasar Santa. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Pernah suatu kali, POST mengadakan workshop sehari menulis puisi dan cerpen. Pesertanya diharuskan menuntaskan tulisan di sana, hari itu juga, sampai pukul berapa pun. “Sampai jam 10 malam juga diladeni,” Teddy bercerita. Menariknya, ada salah satu peserta yang “jadi”.

Cerita pendek salah satu peserta itu selanjutnya dikirimkan ke media massa dan ternyata dimuat.

Tak hanya workshop penulisan. Eksibisi foto, tukar pengalaman wisata, dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya. “POST sengaja kami ciptakan agar individu-individu kreatif bisa menciptakan acara-acara yang sulit diadakan karena mereka tidak punya akses atau uang seperti kelompok-kelompok besar,” kata Maesy suatu kali wawancara.

Meski sampai bergantian sakit demi mendirikan POST dengan modal belasan juta rupiah, Maesy bersama Teddy dan Steve bukan mengusung orientasi profit. Mereka ingin menggairahkan kehidupan pasar tradisional yang hidup segan mati tak mau.

POST termasuk salah satu pionir pedagang Pasar Santa bersama kedai kopi ABCD yang terkenal itu. Mereka menyulap los pasar yang biasa becek dan dibekap amis daging menjadi salah satu tempat nongkrong asyik untuk anak muda di Jakarta.

Kini Pasar Santa dipenuhi kios makanan, busana, sampai vinyl. Dan di salah satu sudutnya, terdapat gerai berkonsep minimalis dengan denyut kreativitas yang kental. Gerai itu, POST, buka setiap hari pukul lima sore sampai delapan malam. Di akhir pekan buka lebih awal: pukul tiga sore.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s