Menyimak Keseharian Aan Mansyur

Nama lengkapnya Martan Mansyur. Namanya telah menjulang, di negeri sendiri maupun di negeri tetangga. Hampir disegala tempat, orang membicarakannya.

Bermula dari kesenangan membaca buku, pria yang akrab disapa Aan Mansyur ini, mampu bersanding dengan selebritas kawakan Indonesia.

Dimulai dari medio 2011, silam. Setidaknya, Aan mulai dikenal setelah menjadi salah satu pioner dalam even tahunan Makassar International Writer Festival (MIWF), pesta literasi Makassar.

Selain Aan, di MIWF beberapa seniman, jurnalis, dan penyair mampu berkongsi, menggagas festival yang bersifat edukatif, bagi penikmat serta pelaku sastra di Indonesia Timur.

Aan seorang pekerja sosial, ia memilih tidak menjadi buruh. Menghidupi kesehariannya, ia berkarya dengan menulis buku, juga menjadi kurator. Tipikal lelaki mandiri, dalam benakku begitu.

Saat ku temui, lelaki yang suka mempromosikan bacaan lewat media sosial ini, sementara fokus mengurus perpustakaannya sendiri, Kata Kerja.

Terletak tidak jauh dari Universitas Hasanuddin, di BTN Wesabbe. Penyair yang karyanya didominasi kisah asmara yang terpatah ini, berharap pekerjaannya mampu memberi contoh kepada semua orang.

“Pada mulanya sering diskusi buku bacaan masing-masing, bersama teman-teman. Jadi terpikir, sebaiknya bikin perpustakaan di Makassar,” terangnya, sembari mengisahkan awal idenya pada Kata Kerja.

Jika dilihat dari geografis kota, yang kontras dengan intelektualitas penduduk. Sudah bisa ditebak, perpustakaan di Makassar belum berkembang sejak beberapa tahun terakhir.

Selama diskusi, penyuka tomat yang juga akrab dengan nama pena huruf kecil ini, punya harapan jika pemerintah mampu menyediakan banyak akses ruang baca untuk publik.

“Buku memang jadi satu bagian penting untuk mengubah dunia. Alangkah baiknya, jika pemerintah lebih banyak membuka akses bacaan ke publik,” katanya.

Kepadaku, Aan berujar jika perpustakaan itulah yang terakhir dimilikinya. Setelah sempat membuat pustaka yang dinamai bibliholic bersama mantan kekasihnya, dan akhirnya ditutup.

Berbekal pengalaman, dan menjadikan banyak perpustakaan sebagai referensi. Aan lebih dulu, menjadi anggota di seluruh perpustakaan di Makassar, sebelum berinisiatif membuka Kata Kerja.

“Orang yang bekerja di perpustakaan yang saya kunjungi, terlihat tidak punya kecintaan terhadap buku. Raknya berdebu, dan tak terurus. Bukunya tidak diperbarui,” keluhnya.

Di Kata Kerja, ratusan bahkan ribuan buku beraliran apapun bisa dijumpai. Semuanya tertata rapih, tersusun dengan warna yang sama. Aan menyusunnya tidak seperti pustaka di sekolah, sesuai alfabet.

Pada tembok Kata Kerja, tak ada coretan. Berwarna coklat, sama sekali belum kusam. Pada mata jendelanya, dihiasi tirai potongan kertas yang berbentuk hati.

Kata Kerja layaknya rimbun kebun, sejuk. Di langit-langitnya, beberapa buku usang, dijadikan hiasan seperti burung, yang dikaitkan dengan tali.

“Setiap bulan, paling sedikit Rp 1 juta saya harus merogoh kocek, untuk membeli buku baru. Perpustakaan yang baik adalah yang memperbarui bacaannya,” ungkapnya.

Di tempat ini, dijual juga beberapa buku literasi, serta kerajinan tangan seperti gelang dengan harga terjangkau. Setahun lalu, Aan memang gencar memberdayakan kelas kerajinan tangan, tanpa dipungut biaya.

Aan juga bukan tipikal seseorang yang pelit meminjamkan buku. Para anggota perpustakaannya, tidak dibebani dengan biaya. Cukup memberi 3 buku, dan meminjam dengan jumlah yang sama dengan pemberian anggota.

Aan termasuk lelaki unik. Ia beranggapan perpustakaan dan buku sebagai sarana bertatap muka dan berinteraksi yang paling baik.

Perpustakaan, menurutnya tak seperti supermarket yang selalu ramai. “Maka buatlah sebuah perpustakaan yang cukup menarik. Anak muda pasti senang kesana. Mereka paling tidak, menyukai interior atau desain sebuah perpustakaan yang bagus, sembari kita berharap untuk mencintai buku juga,” jelasnya.

Lebih jauh, Aan menganjurkan untuk memperbanyak bacaan, setidaknya karya dari penulis luar negeri. Khusus dalam negeri, Pramoedya Ananta Toer, bisa menggugah bacaan bagi pembaca literasi pemula.

“Pramoedya bagus. Seharusnya untuk anak SMP, dan SMA lebih baik memulai bacaannya dengan karya Pram. Pesan saya, di kota cerdas harus ada masyarakat yang cerdas. Orang cerdas, harus banyak membaca buku,” tandasnya.

Sumber: radarmakassar.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s