Sabar Subadri, Pelukis Tanpa Tangan; Buka Galery dan Perpustakaan

SALATIGA, Sabar Subadri, sosok lelaki yang dilahirkan tanpa memiliki kedua tangan ternyata tidak memiliki rasa minder dalam kehidupannya. Namun, dengan keterbatasannya itu, tidak membuat Sabar (demikian biasa dipanggil) tidak membuatnya merasa beda dengan orang normal pada umumnya. Meski begitu, lelaki yang dilahirkan di Salatiga 4 Januari 1979 ini, justru semangat hidupnya patut dicontoh orang lain yang tubuhnya normal.

Sabar, demikian kesehariannya disapa merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Subadri (alm) – Wiwit Rahayu ini mendirikan galery sebagai upayanya untuk menegaskan eksistensinya dalam dunia lukis. Selain itu untuk memperkenalkan AMFPA (Association of Mount and Foot Painting Artist) agar lebih dekat kepada masyarakat.
“Sebagai rasa syukur saya atas pencapaian ini, kemudian mengembangkan Social Resonsibility dalam bentuk penyediaan ruang dan fasilitas lain untuk seniman lukis Salatiga. Ini semata-mata agar seniman lukis tetap eksis di tengah kehidupan masyarakat Salatiga. Juga, Taman Sastra di lantai dua galery ini sebagai bentuk kegiatan kesusasteraan. Dari sini, dengan banyak kegiatan akhirnya gedung baru ini, saya beri nama Saung Kelir,” jelas Sabar kepada Rakyat Jateng, Senin (3/8).
Saung Kelir ini sama saja dengan Gubug Warna dan akan menjadi wadah dari keseluruh

an kegiatan yang ada di galery ini. Didalamnya, ada Galery Sabar Subadri yang memajang aneka lukisan hasil karyanya dan Galery Spektra Rupa yang didalam ruang ini akan terpajang karya lukis perupa Salatiga (lokasi berada diluar). Di lantai dua, difungsikan sebagai Taman Sastra yang diberi nama Taman Sastra ‘Narata Karia’.
“Secara praktis Saung Kelir ini merupakan usaha menuju arah edukasi dan bersifat non profit. Dengan adanya galery ini, saya punya target bahwa Salatiga akan Lebih Berbudaya. Ini juga sebagai langkah antisipasi jika jalan tol Semarang-Solo berfungsi dan Salatiga tentunya akan lain dari sekarang. Maka, dengan adanya galery ini, orang datang ke Salatiga tidak akan jengah dan salah satunya akan tertarik mengunjungi galery saya ini,” ujar peraih puluhan penghargaan baik regional, nasional maupun internasional, yang merupakan alumni SMA Negeri 3 Salatiga.
Pelukis yang memiliki ciri aliran naturalis – realis ini mengaku jika lukisan karyanya juga dijual mulai harga Rp 4 juta hingga Rp 50 juta. Sejak menekuni seni lukis ini, Sabar telah menghasilkan karya mencapai 500 lukisan dari berbagai jenis dan bentuk. Sedangkan koleksi buku dalam taman sastra Narata Karia mencapai seribuan buku.

Intinya, galery yang dibangun dengan ukuran 18 meter x 15 meter ini dan berada di Jalan Merak No 56 Kalseman, Salatiga ini, saya bangun dengan dilandasi karena rumahnya di Jalan Kasuari, Klaseman, Salatiga sudah tidak dapat menampung hasil karyanya. Untuk denah bangunan, Sabar sendiri yang mendesainnya. Harapannya, di dalam galerynya ini akan banyak kegiatan seni dan budaya khususnya dari para perupa Salatiga.
“Lukisan saya juga dicetak untuk kartu ucapan (lebaran, natal serta pembatas buku) dan disebarkan tidak kurang ke 45 negara. Dari sini, saya mendapatkan pendapatan dan target saya akan menumbuhkan atau membangkitkan kembali budaya berkirim kartu ucapan. Negara yang telah mencetak lukisannya menjadi sebuah kartu ucapan diantaranya negara Australia, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Perancis, Sapnyol maupun Indonesia sendiri,” tutur alumni jurusan Sastra Inggris STIBA ‘Satya Wacana’ Salatiga.
Ditambahkan, dalam peresmian Galery Sabar Subadri yang dilakukan Selasa (4/8) ini, akan dibuka langsung oleh Walikota Salatiga Yuliyanto SE MM. Bahkan, tidak kurang 400 orang dihadirkan dalam peresmian galery ini. Disela-sela acara peresmian, dilakukan demo lukisan oleh tiga orang pelukis unik yang merupakan rekan Sabar Subadri yang juga anggota AMFPA, ketiganya datang dari Jakarta (pelukis mulut), Madiun Jawa Timur dan Gianyar Bali (keduanya pelukis kaki).

“Setelah galery ini diresmikan penggunaannya, masyarakat Salatiga maupun dari mana saja dapat berkunjung ke galery ini. Untuk waktu berkunjung mulai Selasa hingga Minggu, jam 10.00 wib hingga 20.00 wib. Untuk, kunjungan ke taman sastra Narata Karia, hanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu saja. Khusus hari Senin, libur. Sedangkan untuk kunjungan publik dapat dilakukan sesuai jadwal tersebut, jika rombongan yang berkunjung lebih dari 10 orang harus membuat janji lebih dahulu. Dan khususnya untuk kunjungan pelajar TK dan SD harus menyertakan pendamping,” tandas Sabar Subadri.

Sumber: fajar.co.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s