Manuskrip Mauritania

Negeri ini bernama Mauritania. Rasanya, tidak terlalu asing di telinga. Ia terletak di kawasan barat laut Benua Afrika. Mauritania membentang ke utara dari Sungai Sengal, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Samudra Atlantik.

Lantas, apa istimewanya negara ini? Dalam khazanah keislaman, Mauritania tersohor sebagai ”gudang” manuskrip atau naskah-naskah kuno. Hanya dengan mengucapkan Mauritania, banyak orang seketika akan antusias berbicara tentang manuskrip.

Menurut sejarahnya, manuskrip-manuskrip itu banyak dibawa oleh para jamaah haji yang kembali dari Tanah Suci Makkah. Beberapa di antaranya disalin oleh para pelajar di sekolah-sekolah Alquran dan sebagian lagi ditulis sendiri oleh ahli hukum, penyair, dan sejarawan.

Belum lama ini, ditemukan naskah lengkap karya Ibnu Rusydi, seorang fisikawan dan filsuf Muslim berdarah Spanyol-Arab. Naskah penting ini ditemukan di kota kecil Boutimiliy, sekitar 150 kilometer arah timur dari ibu kota Mauritania, Nouakchott.

”Temuan ini bukanlah suatu kebetulan,” kata Ahmad Ould Mohamed Yahya, direktur manuskrip di Institut Mauritanien de Recherche Scientifique (IMRS), Nouakchott.

Naskah karya Ibnu Rusydi atau yang di Barat dikenal sebagai Averroes ini menyadarkan kembali betapa banyak dan luasnya karya Ibnu Rusyd tersebar dalam sejarah peradaban Islam. Menurut Ahmad Ould, naskah tersebut merupakan salinan yang dibawa oleh imigran dari Andalusia (Spanyol) dan Maghribi (Afrika Utara).

Ahmad Ould telah menjelajahi Mauritania selama lebih dari 20 tahun. Dia mengunjungi berbagai perpustakaan pribadi dan mengatalogisasi isinya. Kemudian, ia mengajak sang pemilik perpustakaan untuk ikut menjaga naskah-naskah yang tak ternilai harganya itu.

“Saya mengunjungi 200 perpustakaan pribadi. Saya tidak pernah terkejut melihat manuskip langka, kecuali karya Ibnu Rusyd,” ujarnya.

Manuskrip karya Ibnu Rusyd ini ditemukan di perpustakaan pribadi milik keluarga pengusaha muda Baba Ould Cheikh Haroune Sidiyya. Perpustakaan ini didirikan oleh leluhurnya, yaitu Cheikh Sidiyya al-Kabir (1774-1868). Karya Ibnu Rusyd yang ditemukan di perpustakaan ini berjudul Al-Daruri fi Sina’at Al-Nahw atau jika diterjemahkan secara bebas bermakna, Hal-hal Penting dalam Pembentukan Ilmu Gramatika Arab.

Setelah kematian ayahnya pada 1978, Ould Haroune menekuni pekerjaan dalam bidang perlindungan (konservasi) naskah kuno. Ia membantu melakukan katalogisasi perpustakaan dan membantu pemerintah menetapkan kebijakan perlindungan naskah-naskah kuno sebagai warisan budaya.

Saat ini, IMRS memiliki koleksi sebanyak 40 ribu manuskrip. Dari jumlah itu, tiga perempat di antaranya merupakan salinan atau sisa bawaan dari Fez, Tunisia, dan Kairo.

Koleksi tertua adalah karya abad ke-10, yaitu sejarah dunia karya Al Mas`udi yang berjudul Muruj al-Dahab wa Ma`adin al-Jawhar (Padang Emas dan Harta Karun Perhiasan) yang ditulis di atas kulit kijang. Ada juga koleksi standar hadis, seperti Sahih Bukhari yang disalin pada 1872 oleh Hassan bin Muhammad al-Sirfin.

Empat kota bersejarah

Sepanjang sejarahnya, Mauritania tak pernah menjadi negara metropolitan. Namun, negeri ini memiliki empat kota bersejarah bagi peradaban Islam di Afrika, yaitu Chinguetti, Wadan, Walata, dan Tichitt. Empat kota itu bahkan telah dinyatakan oleh Unesco sebagai warisan budaya untuk dunia.

Berbeda dari kota-kota besar pada umumnya, empat kota itu tampil bersahaja. Mereka tidak dicengkeram oleh keramaian dan hiruk-pikuk khas perkotaan. Meski demikian, kota-kota dengan banyak perpustakaan itu menjadi kebanggaan warganya.

Selain empat kota tua nan bersejarah itu, Mauritania juga memiliki empat perpustakaan keluarga yang sangat terkenal. Masing-masing perpustakaan diberi nama sesuai nama pendirinya, yakni al-Habot, al-Ahmad Mahmoud, al-Hamoni, dan Ould Ahmad Sherif.

Empat perpustakaan milik pribadi tersebut terawat dan dikelola dengan cukup baik. Memiliki katalog dan dapat dikunjungi secara terbuka oleh para peneliti dan wisatawan. Bahkan, tak sedikit pendapatan daerah berasal dari kunjungan wisatawan dan peneliti ke perpustakaan tersebut.

Dari keempat perpustakaan itu, al-Habot adalah yang paling termasyhur, bukan saja di Mauritania dan Timur Tengah, tapi juga Eropa. Didirikan pada abad ke-18 oleh Sidi Muhammad Ould Habot (1784-1869), seorang keturunan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, perpustakaan ini memiliki 2.000 koleksi manuskrip dan sebagian besar naskah sudah dikatalogkan. Salah satu karya istimewa yang tersimpan di perpustakaan ini adalah manuskrip yang dibuat pada 1088.

Perpustakaan kondang lainnya bernama Ould Ahmad Sherif. Perpustakaan yang panel langit-langitnya terbuat dari anyaman daun palem ini memiliki manuskrip penting yang tertulis di atas kulit rusa, yakni Sharh Mouta ‘Malik karya Abdul Baqi al-Zirqani. Naskah ini diperoleh pada abad ke-14 yang dibeli sang pemilik perpustakaan kala berada dalam perjalanan di Tunis.

Sedangkan, perpustakaan al-Ahmad Mahmoud memiiki 400 naskah kuno dan 1.400 dokumen yang berkaitan dengan sejarah keluarga lokal. Perpustakaan ini juga mengoleksi buku-buku dan majalah modern untuk anak-anak Chinguetti.

Dahulu, ada naskah unik yang terdapat di perpustakaan milik Saif al-Islam ini, yaitu naskah berisi kumpulan doa berbahasa Ibrani. ”Tapi, saat ini naskah itu sudah berada di perpustakaan Kremlin (Rusia). Entah bagaimana, naskah itu bisa berpindah ke sana. Saya sendiri juga bertanya-tanya,” kata Saif.

Sumber: republika.co.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s