Selektif Pilih Buku Anak

Kebiasaan membaca sangat penting untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan. Sejak kecil, hal baik itu perlu dipupuk dan ditumbuhkan. Namun, budaya literasi atau minat membaca masyarakat Indonesia masih terbilang rendah.

Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara yang diteliti di dunia.

Upaya peningkatan minat membaca masyarakat tersebut bisa dimulai dengan membiasakan generasi muda sejak usia dini. Langkah-langkah tersebut disampaikan dalam sejumlah sesi Workshop Literasi di panggung Jakbook Festival pada Jakbook dan Edu Fair 2015.

Sofie Dewayani dari Tim Literasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, orang tua perlu selektif memilih buku bacaan untuk anak. Jangan sampai anak membaca buku yang tidak sesuai dengan usianya. “Buku anak seharusnya edukatif dan menghibur,” ungkapnya saat mengisi materi “Workshop Literasi: Praktik Pemeringkatan Buku Anak di SD”, Rabu (29/7).

Sayangnya, masih banyak orang tua yang abai terhadap apa yang dibaca anak. Padahal, banyak beredar buku-buku berkonten buruk yang “menyaru” sebagai buku anak.

Sofie menyebutkan sejumlah buku yang perlu diwaspadai, seperti buku bergambar stensilan hingga komik-komik percintaan. Tak hanya itu, dongeng berkonten pelik yang ceritanya belum tentu bisa dimaknai anak juga termasuk hitungan.

“Misalnya, cerita Sangkuriang. Anak usia dini belum tentu mengerti jalan ceritanya. Yang kritis akan bertanya, kenapa kok Sangkuriang menendang perahu jadi gunung? Jadi, perlu ada pendampingan,” ujar staf pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Orang tua dan guru menjadi ujung tombak fungsi pengawasan bacaan anak. Untuk memudahkan kontrol itu, Tim Literasi Dikbud menyarankan sebuah sistem jenjang buku.

Pemeringkatan atau jenjang yang dimaksud, yakni menyesuaikan buku dengan usia dan kemampuan anak. Jenjang itu, menurut Sofie, bisa membuat anak gemar membaca karena sejak awal memahami apa yang dibaca.

Sofie memerinci, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Beberapa di antaranya adalah tema buku, ilustrasi dan warna, kosakata, tata bahasa, hingga konteks budaya dalam cerita. “Tetapi, perhatikan pula emosi anak. Apakah ia menikmati, suka, atau justru takut dan merasa terintimidasi dengan isi cerita,” kata Sofie menguraikan.

Pada jenjang level pertama, ujarnya, berikan buku yang bergambar ilustrasi realistis dengan tulisan dan cerita sederhana. Pada level-level selanjutnya, bisa diberikan buku berilustrasi lebih kompleks dengan cerita fantasi.

Level itu berlanjut seterusnya hingga anak bisa membaca buku secara mandiri. Sofie menambahkan, sistem tersebut bisa diadaptasi dan dimodifikasi oleh orang tua, guru, atau pustakawan.

Endang Mikuwati, penggagas Yayasan Putra Nusantara yang bergelut di bidang anak, menyetujui adanya penyesuaian konten tersebut. Menurutnya, pendidikan sejak kecil itu bisa menyelamatkan generasi muda yang rawan.

“Sama seperti saat mendongeng, penyampaiannya disesuaikan dengan usia anak yang mendengarkan,” ucap perempuan yang juga berprofesi sebagai pendongeng dan pembicara itu, usai mengikuti jalannya workshop.

Sumber: republika.co.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s