Anies: Sekolah Harus Menjadi ‘Taman’

BOYOLALI  – Sekolah akan didorong menjadi tempat yang menyenangkan untuk aktivitas belajar mengajar, baik untuk siswa ataupun guru. Metode pendidikan saat ini yang cenderung membentuk siswa menjadi pasif juga perlu dirubah untuk menyesuaikan kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan jaman.

Hal tersebut dikatakan Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan di depan ratusan stakeholder pendidikan saat acara pencanangan gemar membaca dan pelepasan duta seni Boyolali, di Kantor Bupati Boyolali, Kamis (30/7) malam. Ia mencontohkan, tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara  menggunakan istilah ‘taman’ untuk menyebut institusi sekolahnya, yakni Taman Siswa. Artinya, sekolah seyogyanya menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan, bukan malah tempat yang penuh beban.

Ia menilai, kondisi psikologis siswa dan guru bisa menjadi tolak ukur situasi sekolah secara umum. Bila murid atau guru datang dan beraktivitas di sekolah dengan berat hati, dan meninggalkan sekolah dengan riang gembira, artinya ada yang tidak beres dengan kondisi tersebut.

“Belajar harus penuh tantangan tapi menyenangkan. Ini pesan penting yang harus dikembalikan ke dunia pendidikan. Saya akan dorong agar sekolah menjadi taman,” kata Anies.

Konsep pendidikan atau pembelajaran juga akan dirubah. Menurutnya, konsep lama yakni membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sudah tak memadai sebagai konsep dan metode pendidikan. Dalam era modern saat ini, konsep yang dirasa mumpuni untuk perkembangan siswa yakni apa yang disebutnya sebagai 4C, yakni ‘creativitiy, critical thingking, comunication dan colaboration’. Metode belajar ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan kreativitas dan potensinya secara maksimal.

Diakuinya, merubah pola pendidikan perlu fase dan waktu yang panjang. Tapi kesadaran untuk berubah itu penting sebagai penyiapan pembentukan SDM dan investasi jangka panjang.

Sementara untuk meningkatkan minat baca siswa, pihaknya berencana menerapkan kebijakan wajib membaca kepada siswa tiap pagi, katakanlah meski cuma 15 menit. Dalam jangka panjang, hal ini diperlukan mengingat minat baca warga indonesia terhitung rendah dibanding negara lainnya.

“Murid diajari dan dibiasakan membaca. Setelah itu mereka akan terbiasa. Bila sudah terbiasa membaca, maka akan menjadi budaya membaca,”.

Sumber: krjogja.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s