Komunitas Baca Kalawat, Kisah Empat Remaja Kutu Buku

AIRMADIDI – Novel yang paling ringan adalah Harry Potter serta Sam Kok. Lainnya berkategori berat. Mulai dari Crime And Punishment karya Fyodor Dostoyevski, Anna Karenina karya Leo Tolstoy, Sang Nabi karya Khalil Gibran hingga Pulang karya Leila Chudori.

Ada pula sederet buku karya Pramoedya Ananta Toer.

Disekeliling meja duduk empat remaja.

Dengan tongkrongan ala anak muda masa kini, dari rambut hingga kini, tak ada yang mengira jika mereka adalah kutu buku.

Seperti halnya ciri kutu buku, keempatnya betah berjam – jam membaca buku, serta menjadikan toko buku sebagai tujuan utama perjalanan.

Lantas siapa mereka ?. “Sebut saja Komunitas Pecinta Buku Kalawat,” kata Axel, salah satu dari mereka.

Axel menceritakan, komunitas itu bermula dari kebiasaan mereka membaca di rumah Gerald, salah satu teman mereka. Ayah Gerald punya banyak koleksi buku komik. “Kami sering baca komik disana,” ujarnya.

Dikatakan Axel, waktu mereka baca komik dari pulang sekolah hingga sore, serta pukul 7 malam hingga pukul 9

Baca komik diselingi mengerjakan pekerjaan rumah. “Rasanya asyik,” kata dia. Lama kelamaan mereka tak puas hanya membaca komik saja.

Koran, majalah dilahap. Tak lama kemudian novel. Akhirnya mereka tak terhindarkan lagi berhadapan dengan novel berat.

Pintu masuk Axel menuju novel serius adalah Winnetou karya Karl May.

Ia mengaku terinspirasi dengan cerita dalam buku itu mengenai cerita persahabatan antara orang kulit putih dengan indian.”Buku ini mengajarkan saya untuk mengasihi orang lain yang berbeda dengan saya,” kata dia.

Karena berkutat dengan hobi baca itu, muncul ide Axel untuk mengukuhkan mereka sebagai komunitas.

Inspirasinya adalah penggemar Dota. “Kalau mereka bisa kenapa kita tidak, memang hanya kami berlima, lantas kenapa,” kata dia.

Selain mengandalkan buku dari Gerald, para anggota komunitas itu juga membeli buku sendiri.

Buku itu kemudian jadi milik bersama.

“Saya beli buku Sam Kok, bukunya mahal sekali, sebiji 100 ribu, saya menabung selama tiga bulan,” kata siswa salah satu SMP di Manado ini.

Axel mengaku punya keinginan mengembangkan komunitas itu.

Salah satu caranya adalah mengajak teman – temannya membaca buku.

“Memang agak sulit, karena tak banyak orang punya minat baca, tapi saya terus mencoba, tiap ada buku baru selalu saya pinjamkan, entah mereka baca atau tidak,” kata dia.

Sementara Giovanni siswa lainnya mengatakan, ia telah berkelana ke seluruh penjuru dunia dengan membaca.

“Saya bisa ke Amerika, ke Inggris, ke Cina dengan baca buku,” ujarnya.

Ia pun tak keberatan diledek teman – temannya sebagai kutu buku.

Sementara Gerald mengatakan, punya hobi baca bukan berarti tak boleh gaul.

Justru, kata dia, hobi membaca makin membuat remaja jadi gaul.

“Saya biasa baca di majalah tentang tren rambut.

Sumber: manado.tribunnews.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s