Menengok Ribuan Naskah Kuno di Rekso Pustoko Solo

Perpustakaan Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, menyimpan sejarah begitu banyak. Dibangun pada 11 Agustus 1876 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV), perpustakan ini menyimpan ribuan naskah kuno yang berumur rata-rata 100 tahun.

Staf perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran Solo, Darweni, saat memeriksa naskah kuno yang berada di dalam rak, Senin (13/7/2015). [suara.com/Labib Zamani]

Naskah kuno koleksi perpustakaan Rekso Pustoko berasal dari berbagai negara dan bahasa. Ada naskah dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang, Perancis, Jerman dan Jawa. Sebagian besar naskah kuno koleksi adalah berbahasa Jawa dan Belanda.

Sebut saja beberapa cerita menak, cerita wayang, pakem wayang, tari, karawitan, kesehatan, adat istiadat, dongen, dan pariwisata yang turut melengkapi koleksinya. Hal itu adalah suatu kewajaran, mengingat mayoritas koleksi perpustakaan itu dibuat pada masa penjajahan Belanda.

Selain itu, juga ada beberapa naskah tentang Pura Mangkunegaran, antara lain sejarah Mangkunegoro dan keluarga, silsilah Mangkunegaran, hukum dan pemerintahan Swapraja Mangkunegaran, ekonomi Mangkunegaran, daerah Swapraja Mangkunegaran, Legiun Mangkunegaran, serta berbagai karya tulis dari Mangkunegara.

Bangunan perpustakaan Rekso Pustoko berada di sisi timur Pura Mangkunegaran. Menempati ruang bagian ujung sebelah utara dan berada di lantai dua. Perpustakaan ini memiliki tiga ruangan. Ruangan utara berisi tentang koleksi naskah huruf Jawa asli, ruangan tengah berisi koleksi foto dari zaman KGPAA Mangkunegara IV sampai Mangkunegara VII.

Namun, koleksi foto ini mayoritas mengisahkan perjalanan hidup pada masa Mangkunegara VII. Mulai dari menikah, membangun waduk untuk putra-putrinya, membangun jalan, dan taman Pura Mangkunegaran. Kemudian ruangan terakhir di sisi selatan berisi tentang arsip yang digunakan untuk menyimpan surat pada masa pemerintahan Mangkunegara IV.

“Ada sekitar 30 ribu naskah kuno. Sebagian besar koleksi merupakan karya dari KGPAA Mengkunegara IV. Karena selain sebagai raja, juga seorang pujangga,” kata staf perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, Darweni, kepada Suara.com, Minggu (12/7/2015).

Meski sudah berumur 100 tahun, koleksi naskah kuno tersebut hingga saat ini masih tetap terjaga. Setiap satu tahun sekali perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran mendapatkan bantuan dari Arsip Nasional berupa tisu untuk melapisi naskah yang sudah mulai rusak.

“Tisu ini didatangkan langsung dari Jepang. Tujuannya untuk melapisi naskah dan menjaga tulisan agar tidak rusak.” (Labib Zamani)

Sumber: suara.com

Leave a comment

Filed under Pustaka

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s