Gerakan Membaca

AGAK tergegau juga saya ketika membaca pesan pendek telepon genggam (SMS) Abdul Wahab Kamis malam atau malam Jumat lalu. “Dah berapa kali khatam al-Quran pada bilangan Ramadan sampai hari ini? Ada dua kali, tiga, empat. Mungkin juga 60 kali seperti dilakukan Imam Syafei setiap bulan Ramadan? Mana tahu kan?”

Waktu itu, saya baru saja menerima SMS dari Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Riau, Yoserizal Zen, berisi undangan untuk menghadiri rapat dalam kaitan Gerakan Riau Membaca (GRM). Selain Yose, duduk di muka dalam rapat itu adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau Dr Kamsol dan seseorang lagi, entah apa fungsinya, tapi dari Jakarta—mungkin konsultan, bernama Satria Darma.

Tampaknya, hubungan langsung antara SMS Wahab dengan SMS Yose, memang tidak ada. Sedangkan membaca al-Quran pada bulan Ramadan memang amat dianjurkan, diwarnai dengan kenyataan kitab suci tersebut yang mulai diturunkan pada bulan Ramadan pula. Ayat pertamanya memang “Iqra’”, suatu ayat yang memberikan pengertian perintah membaca.

Tentu betapa panjang dan kompleksnya jika ayat tersebut ditafsirkan. Tak sekuku pun nilai GRM dibandingkan peritiwa yang terjadi pada abad ke-7 di gua Hira’, hanya beberapa kilometer dari kota Makkah al-Mukaramah tersebut. Tetapi GRM mengingatkan kembali adanya peristiwa besar yang diterima Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia, tidaklah sesuatu yang berlebihan untuk diucapkan. Bukan karena GRM itu pula, tetapi memang karena ayat pertama yang diturunkan ke bumi melalui baginda nabi tersebut, sampai kapan pun masih relevan untuk pemuliaan manusia.

Sampai di situ, saya langsung saja menulis kepada Wahab, “Seperti diakui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies R.Baswedan di depan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia, dua bulan setelah ia dilantik, daya sumber manusia di Indonesia amat parah. Ini terlihat dari kenyataan bahwa minat baca amat rendah, hanya 1.000 berbanding satu, yaitu hanya satu orang dalam seribu orang manusia Indonesia yang tergolong gemar membaca.”

Keadaan tersebut, memang diperparah oleh kebijakan pemerintah yang abai terhadap membaca ini. Penelitian Taufiq Ismail, beberapa waktu lalu menunjukkan, hanya di Indonesia saja, siswa tidak diwajibkan membaca karya sastra. Di Amerika Serikat misalnya, di negara yang pemeluk agama dengan perintah membaca sebagai ayat pertama, berada pada posisi minoritas itu, setiap siswa SMA dalam rentang waktu tiga tahun, harus membaca 34 buku sastra. Dengan membaca sastra, antara lain siswa dilatih berimajinasi sebagai faktor utama dalam kreativitas.

Atas dasar itu pulalah, saya gembira dengan GRM. Setiap hari, siswa-siswa di Riau, diharapkan membaca sekitar 15 menit karya sastra yang dicanangkan bertepatan dengan 58 tahun berdirinya Provinsi Riau, 9 Agustus 2015 kelak. “Aku mengusulkan agar dibuat satuan tugas untuk itu, mungkin hanya diemban oleh empat atau lima orang saja, sehingga GRM benar-benar dihasilkan dari suatu pemikiran berkelanjutan, dapat dievaluasi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara kultural. Bukan program ingatan yang melekat pada jabatan seseorang, apalagi pada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah bukan main banyak tugasnya itu. Tak mungkin Pak Kamsol terus memantau GRM tu kan? Ini suatu peran yang bukan menyisakan waktu, tetapi bahkan menyediakan waktu,” tulis saya.

Dalam hal materi misalnya, di Amerika Serikat yang liberal saja, buku-buku yang dibaca saja telah ditetapkan oleh pemerintah—apalagi di tengah penduduk yang hanyut dalam kesejagatan, tetapi terikat dalam jalur tradisi dan agama seperti Riau. Tidak bisa ambil mudah begitu saja walaupun diperoleh secara gratis dari perusahaan yang diharapkan GRM. Tidak bisa, begitu saja kalau tak ada buku di Riau, angkut buku gratis dari daerah lain. Kerja-kerja budaya, jangan dimulai tanpa pertimbangan kebudayaan.

“Maaf, nanti saja kubalas SMS awak ye. Tinggal satu juz ni,” tulis Wahab, setelah berkali-kali saya kirimi pesan pendek itu. Oh, ia sedang membaca al-Quran rupanya….***

Oleh: Taufik Ikram Jamil

Sumber: riaupos.co

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s