Taman Baca Mahardika Bukan Sekadar Tempat Membaca dan Belajar, Libatkan Para Orang Tua agar Menjadi Rumah Kedua Anak

LANGKAH kaki Ariel Maulidin, 10, semakin cepat. Semakin lama, kakinya berlari. Panas mentari tampaknya tidak dia pedulikan. Sebab, dia tidak sabar untuk segera tiba. Seakan-akan, dia tidak mau kalah dengan bayangannya.

ASAH KREATIVITAS: Anak-anak belajar membuat mainan dari stik es krim. (Denny Silaen For Jawa Pos)

Tak berapa lama, Ariel sampai di tempat tujuan. Dengan segera, dia menginjakkan kaki di tempat itu dan mencari tempat duduk. Tanpa rasa sungkan, dia berbincang dengan anak-anak lain yang lebih dahulu tiba di sana. Di tempat itu, mereka biasanya membaca buku favorit masing-masing. Menulis cerita kehidupan juga sering mereka lakukan. Bahkan, nyanyian dan tarian pernah mereka pertunjukan di tempat tersebut.

Jangan membayangkan anak-anak itu sedang berada di sekolah. Tidak. Mereka tengah berada di Taman Baca Mahardika. Sebuah wadah untuk belajar, berlatih, berekspresi, dan berkreasi. Wahana itu didirikan tiga anak muda yang peduli pada pendidikan. Mereka adalah Denny Silaen, 27; Gangsar Eka, 22; dan Prameswari Rahmanu, 24.

”Makna pendidikan telah disempitkan menjadi sekadar sekolah,” ucap Denny. Anak pertama di antara lima bersaudara itu tidak asal bicara. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, dia menilai pendidikan telah kehilangan roh esensinya. Baginya, pendidikan tidak sebatas pemikiran sempit logika modern. Selembar kertas ijazah dengan angka-angka hanya demi mengejar jabatan atau menara gading yang memisahkan kaum terdidik dengan masyarakat.

Pria kelahiran Rantau Prapat tersebut mengatakan, jika tetap dipertahankan, sistem seperti itu akan mencederai nilai filosofis pendidikan. Padahal, pendidikan adalah penyadaran. ”Bagaimana dengan pendidikan, seseorang sadar akan potensi dirinya, sadar akan persoalan lingkungannya, dan hadir untuk mengatasinya,” jelas ketua GMKI Surabaya 2011–2012 itu.

Harapan yang tidak selaras dengan fakta itulah yang mendorong tiga anak muda tersebut mendirikan Taman Baca Mahardika. Sesuai dengan namanya, taman baca itu menjadi wadah bagi masyarakat agar merasakan kemegahan pendidikan dan luasnya pengetahuan. Kata mahardika menjadi penegas bahwa mereka ingin masyarakat dapat merdeka. Mampu berpikir kritis dan bersikap mandiri. Dalam bahasa Sanskerta, mahardika berarti merdeka.

Tentu saja, mewujudkan kemerdekaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, Taman Baca Mahardika memiliki tujuan sebagai tempat belajar dan berkreasi secara gratis untuk masyarakat, wadah membangun budaya membaca dan menulis, serta momentum untuk merefleksikan perkembangan serta motivasi belajar. Selain itu, kesempatan berkumpul dan belajar bersama antara anak dan orang tuanya serta sumber rekreasi edukatif bagi masyarakat sekitar taman baca.

Untuk mewujudkan tujuan itu, Taman Baca Mahardika tidak hanya menyediakan buku-buku. Mereka juga mengadakan sejumlah kegiatan. Misalnya, pembelajaran. Kegiatan tersebut meliputi membaca, menulis, dan berdiskusi dengan tema beragam. Selain itu, ada sekolah berkunjung. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan sekolah sekitar Taman Baca Mahardika. Tujuannya mengarahkan dan menugaskan siswa-siswinya untuk mengunjungi taman baca. Tidak hanya itu, beberapa kegiatan jalan-jalan sembari belajar pun kerap mereka lakukan bersama masyarakat. Terutama ketika ada momentum hari besar nasional. Salah satunya, wisata sejarah untuk memperingati Hari Pahlawan. Dalam kegiatan tersebut, terdapat 60 anak Taman Baca Mahardika yang mengunjungi makan W.R. Soepratman, rumah kelahiran Bung Karno, rumah H.O.S. Cokroaminoto, Tugu Pahlawan, dan Cak Durasim.

Tiga anak muda itu juga melibatkan para orang tua dalam kegiatannya. Namanya orang tua mengajar. Kegiatan tersebut diperuntukkan para orang tua yang ingin mengajari putra-putrinya sendiri secara bersama-sama dengan orang lain untuk berbagi ilmu. Satu lagi, Taman Baca Mahardika mengajak ibu-ibu di sekitar taman baca untuk melaksanakan senam pagi. ”Senam merupakan upaya pendekatan dan menjaga hubungan kami dengan masyarakat di sini,” terang alumnus ITS itu.

Pada 17 Agustus 2013, ketika baru berdiri, Taman Baca Mahardika menggunakan kurikulum untuk kegiatan pembelajarannya. Kurikulum tersebut diturunkan lagi dalam kegiatan harian yang dilaksanakan selama dua jam. Mulai pukul 14.00 hingga 16.00 setiap hari. Sejumlah kegiatan tersebut, antara lain, membaca, menulis, menggambar, dan berhitung. Selain itu, ada kesenian dan asah kreativitas.

Namun, sejak awal tahun ini, seluruh kegiatan itu tidak lagi terjadwal secara ketat. Kini, kegiatan taman baca lebih berfokus pada pendekatan terhadap orang tua. Misalnya, senam pagi, sosialisasi tentang hak anak, kesehatan, dan lingkungan. Selain itu, mengasah kreativitas anak-anak. Sebab, sebagian besar anak menempatkan taman baca tersebut sebagai tempat pembelajaran. Bahkan, mereka menganggapnya sebagai rumah kedua.

Alhasil, jika ingin membaca, anak-anak tersebut dapat membaca dan mengajak Gangsar untuk berdiskusi. Atau paling tidak Gangsar akan membimbing mereka memahami bacaan. Maklum, Taman Baca Mahardika terletak tepat di rumah Gangsar. ”Kami memanfaatkan salah satu ruangan kosong di samping teras rumah saya untuk menyimpan buku-buku bacaan,” jelas Gangsar, koordinator taman baca.

Setiap kegiatan di Taman Baca Mahardika dijalankan secara swadaya dengan bantuan teman-teman dari pencetus taman tersebut. Misalnya, memaksimalkan alat-alat pribadi untuk kegiatan taman baca. Dana yang masuk dan keluar dikoordininasi Dewangga Putra Adiwena, 27, teman tiga anak muda pencetus Taman Mahardika.

Sabtu (4/6), ketika jam menunjukkan pukul 14.00, 12 anak berusia 4–15 tahun berkumpul di teras halaman rumah Gangsar yang berukuran 6 x 2 meter itu. Lokasi persisnya di Dukuh Bulak Banteng Timur, Gang IV, Nomor 12. Di antara anak-anak tersebut, ada Ariel. Hari itu, mereka bersama kakak mereka, Gangsar, Denny, dan Prames, ingin berkreasi membuat mainan dari stik es krim.

Kepada 12 anak yang datang itu, Gangsar menggali keinginan mereka terkait mainan apa yang ingin dibuat. ”Pesawat.” ”Kincir angin.” ”Mobil.” ”Bingkai foto.”

”Rumah.” Begitulah suara anak-anak tersebut mengungkapkan idenya. Celetukan-celetukan itu tidak berlangsung lama. Prames meyakinkan anak-anak perempuan bahwa permintaan mereka akan dibuat secara bersama-sama. Anak-anak laki-laki ditangani Gangsar dan Denny. ”Ayo adik-adik, nanti semua dibuat kok mainannya,” kata Prames, sekretaris taman baca.

Setelah itu, tiga anak muda tersebut dengan sigap menggambar permainan yang diminta anak-anak tersebut. Goresan tinta di kertas putih mulai membentuk benda-benda yang diminta anak-anak tadi. Ada pesawat, kincir angin, mobil, bingkai foto, dan rumah. Setelah gambar selesai, tiga pemuda itu mengajak anak-anak menyusun kerangka awal mainan yang mereka inginkan dengan stik es krim. Tentu saja, kerangka tersebut dibentuk sesuai dengan desain yang telah digambar. Satu per satu stik es krim direkatkan dengan lem. Seluruh anak terlihat antusias mengikuti gerakan kakak mereka menyusun stik es krim.

Perlahan-lahan, bentuk permainan mulai terlihat. Setelah direkatkan, stik es krim membentuk mainan seperti yang digambarkan. Masih perlu sedikit sentuhan agar bentuk mainan anak-anak tersebut benar-benar sempurna. Karena itu, stik es krim digunting sesuai dengan gambar. Alhasil, satu per satu mainan pun terlihat. Ada pesawat, kincir angin, mobil, rumah, dan bingkai foto.

Gangsar lalu mengeluarkan kuas dan cat beraneka warna. Raut wajah anak-anak tadi semakin semringah. Mereka sangat menyukai momen mewarnai mainan. Tidak dibutuhkan waktu lama, mereka memoles mainan karyanya sesuka hati. Pesawat dicat hitam dan merah serta kincir dicat kuning. Meski tangan berlumuran cat, anak-anak tersebut tidak peduli. Imajinasi mereka tampaknya membutakan hal itu.

Setelah 30 menit, mainan yang dicat tadi kering. Setiap anak pun mengambil mainannya dan siap untuk difoto oleh kakak mereka. Ya, dalam setiap kegiatannya, Taman Baca Mahardika selalu mendokumentasikannya, baik secara visual maupun naratif, lewat blog taman baca. Yakni, mahardikabaca.blogspot.com. Sebab, tiga anak muda itu percaya, sejarah hanya dapat dikenang ketika setiap detik kegiatan ”direkam”.

Senja telah menjelang ketika ibu-ibu di sekitar tempat tinggal Gangsar memanggil anak-anak mereka untuk mandi. Ariel pun pulang sembari memainkan pesawatnya. Kelak, siapa tahu, siswa kelas IV SD Purna Indah itu mampu menjadi pilot sungguhan. Semoga. (*/c6/oni)

Sumber: jawapos.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s