Mengapa Minat Baca Orang Indonesia Rendah?

Kondisi perbukuan Indonesia masih menghadapi masalah klasik: minat baca dan distribusi. Itu disampaikan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Lucya Andam Dewi saat dihubungi CNN Indonesia, pada Jumat (3/7).

Jumlah penulis masih sangat sedikit. Pada 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Jumlah penerbit pun kurang. Anggota IKAPI yang tercatat, kata Lucya, ada 1.300-an. Namun yang aktif hanya 700 sampai 800 penerbit.

“Penerbit terpusat di Jawa. Di Sumatra ada sedikit. Di Kalimantan dan Sulawesi ada, tapi belum banyak. Seharusnya penerbit itu ada di setiap provinsi, jadi ada kearifan lokal. Tapi kita masalahnya minat baca,” kata Lucya.

Fakta-fakta itu membuat Indonesia kalah jauh dengan negara maju. Sekitar 30 ribu judul buku per tahun dibanding penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta orang, jelas jauh. “Perbandingannya satu orang belum bisa membaca satu buku. Padahal di negara maju, satu orang bisa membaca tiga sampai lima buku.”

Di Indonesia, lanjut Lucya, justru kebalikannya. Tiga sampai lima buku dibaca oleh hanya satu orang.

Perbandingan minat baca 1:3 hingga 1:5 ini juga diakui CEO Kelompok Penerbit Agro Medi Antonius Riyanto. “Kurang lebih begitu,” katanya saat dihubungi CNN Indonesia via sambungan telepon, pada Sabtu (4/7).

Menurutnya, minat baca kalangan muda lebih tertuju pada fiksi atau novel yang memiliki alur cerita seringan tayangan FTV atau film televisi yang biasa disiarkan beberapa stasiun televisi swasta.

Dari sisi pengarangnya sendiri, diakui Antonius, juga tak banyak perkembangan. Kebanyakan mereka pun mengkreasikan bacaan nge-pop seringan FTV. Evolusi pengarang di Indonesia tak berlangsung ekstrem.

Sebenarnya, industri buku tak lepas dari penawaran dan permintaan, seperti rumus yang berlaku pada kegiatan ekonomi apa pun. Saat permintaan meningkat, penawaran pun tinggi. Masalahnya saat ini penawaran rendah, dan permintaan lebih rendah lagi. Menurut Lucya, itu berhubungan dengan masa lampau.

“Histori kita itu budaya lisan. Kita belum sempat membina literasi, sudah diganggu sama teknologi,” ujar Lucya. Jarang ada orang tua membacakan anak buku cerita menjelang tidur, misalnya. Yang ada justru mereka disodori gadget.

Tingkat literasi di Indonesia boleh tinggi. Ketua Komite Nasional Pelaksanaan Frankfurt Book Fair 2015, Goenawan Mohamad pernah menyebut tingkat literasi Indonesia 93 persen. Itu salah satu faktor tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015.

Namun menurut Lucya, itu belum dibarengi minat baca yang juga tinggi. “Literasi itu soal baca tulis. Karya kita memang bagus. Komunitas penulis bermunculan, tapi jarang ada yang baca,” ucapnya.

Badan Buku dan UU Perbukuan

Celakanya lagi, minat baca masyarakat Indonesia yang rendah tidak didukung pula oleh kebijakan pemerintah di bidang perbukuan. Lucya mengatakan, sejak 1960-an UNESCO menyarankan negara berkembang punya badan buku jika ingin maju. Malaysia menurutinya.

Mereka bukan hanya punya satu, tetapi empat badan perbukuan. “Itu bukan hanya mengurusi buku pendidikan, tetapi secara keseluruhan. Mengurusi minat baca dan industri buku. Tugasnya memikirkan strategi perbukuan, melakukan pembinaan pada penulis maupun penerbit,” Lucya berkata.

Ia menambahkan, UU Perbukuan pun Indonesia tak punya. Atau sekadar kebijakan wajib membaca, tak ada. Seharusnya diwajibkan, sejak sekolah dasar anak harus membaca buku. “Harus ada target, misalnya anak SD 10 buku. Lalu jangan sekadar baca, tapi evaluasi juga,” ia menyarankan.

Jika sudah terbiasa dengan itu, si anak akan membawa kegandrungan membaca sampai dewasa. “Kalau senang baca, akan senang nulis. Industri buku pun tumbuh. Penulis senang karena oplah tidak seperti sekarang yang sedikit,” ujar Lucya.

Pameran Buku Internasional

Lucya juga menekankan pentingnya partisipasi Indonesia di pameran-pameran buku internasional. Itu merupakan salah satu jalan mempromosikan perbukuan dalam negeri, sekaligus memotivasi penulis.

Apalagi jika Indonesia menjadi tamu kehormatan seperti di Frankfurt Book Fair 2015. “Diharapkan orang luar melirik kita. Sementara penulis kita, jadi makin semangat berkarya. Karena mereka merasa ada pasarnya. Jadi itu akan membangun pasar ke luar dan ke dalam,” ujar Lucya.

“Turki itu menjadi tamu kehormatan pada 2006, dan akhirnya sekarang mulai dikenal. Kita juga akan begitu.” (vga/vga)

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s