Budaya Membaca Sejak Dini, Kunci Sukses Marga T

  Judul : Sine Qua Non: Dancing with the Holy Spirit
Penulis : Marga T
Penerbit : GPU, Jakarta
Terbit : Desember 2014
Tebal : 256 halaman

Fiksi populer atau bacaan hiburan kerap dipisahkan secara inferior dari sastra adiluhung. Kritikus Jakob Sumardjo dalam Pengaruh Novel Populer terhadap Sastra Indonesia mengatakan, yang membedakan keduanya, hanyalah unsur materi dan isi bacaan. Sementara, Sapardi Djoko Damono dalam Tentang Telaah Sastra Populer (1999) menyiratkan secara lebih tegas, fiksi populer berpeluang sama ditelaah secara serius seperti karya sastra.

Salah satu tokoh fiksi populer itu Marga T alias dokter Marga Tjoa yang mulai menulis cerpen 1964. Dia melejit lewat novel Karmila. Buku terbarunya, Sine Qua Non: Dancing with the Holy Spirit 1964-2014, menceritakan perjalanan kariernya sebagai pengarang selama 50 tahun dalam bentuk kumpulan cerpen dan tulisan.

Karangan wanita Tionghoa kelahiran Jakarta, 27 Januari 1943, ini pertama kali dimuat di majalah sekolah. Pada 1964, terbit cerpen pertamanya, Kamar 27 di Warta Bhakti, saat berumur 21. Sejak itu karangannya bertebaran di berbagai koran dan majalah. Tahun 1969, terbit buku pertamanya, Rumahku Adalah Istanaku, cerita anak-anak.

Novel Karmila (1973) yang menjadi buku terlaris pada masanya dan dicetak ulang berkali-kali, lalu menjadi serial televisi. Novel laris lain yang sebagian juga sukses diangkat ke layar lebar, antara lain Badai Pasti Berlalu, Gema Sebuah Hati, Ranjau-Ranjau Cinta, dan Bukan Impian Semusim. Novelnya, Sekuntum Nozomi (bagian ketiga dari pancalogi, 2004), mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 di Jakarta yang menelan banyak korban di kalangan kaum perempuan Tionghoa.

Lulusan Universitas Trisakti ini, dunia fiksi dan kedokteran tak bisa dipisahkan, layaknya Anton Chekov, pengarang Rusia yang juga dokter. Dia dikenal karena cerpen-cerpennya yang memikat. Dalam karya-karya Marga T seperti dalam Sine Qua Non, dunia kedokteran menjadi latar.

Selama setengah abad telah diproduksi 128 cerpen dan 67 buku, utamanya novel. Dalam Sine Qua Non, ada 25 cerita dalam tiga bagian. Bagian pertama “Di Mana Waktu Membeku” berisi sembilan cerpen (1964-1987). Bagian kedua bertajuk “Lukisan Kehidupan” memuat delapan nonfiksi. Sedangkan bagian ketiga “The Djakarta Times” terdiri dari delapan cerpen berbahasa Inggris (1970-an).

Cerpen Kamar 27 mengisahkan dilema seorang dokter wanita dalam dilema berkarier atau menjadi ibu rumah tangga.

Yang perlu dipetik, penulis ini produktif karena sudah rajin membaca sejak kecil. Buku-buku perpustakaan sekolah pupuk bakatnya. Maka, dia sengaja memberi judul Sine Qua Non (syarat mutlak untuk mencapai tujuan- Latin). Dalam konteks ini, tujuan adalah menulis untuk berbakti bagi sesama.

Kisah-kisah dalam Sine Qua Non bersifat nonfiksi dan fiksi berdasarkan fakta. Banyak cerita yang ditulisnya berdasarkan pengalaman pribadi. Karya-karyanya mampu mengungkap kisah percintaan yang lembut dan bersih dari pornografi. Tak heran, karyanya diterima masyarakat luas. Pencapaian Marga harus diapresiasi. Penerbitan buku ini meneguhkan jejaknya dalam khazanah fiksi populer sekaligus mennjadi album karya yang layak dibaca. Diresensi Anton Kurnia, alumnus Teknik Geologi ITB.

Sumber: koran-jakarta.com

Leave a comment

Filed under Minat Baca

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s