Perahu Pustaka Berlayar Mengarungi Dunia Baca Makassar

Perahu yang dibuat seorang nakhoda sekaligus pembuat kapal asal Makassar siap berlayar, pada Rabu (3/6) sore ini. Ia akan mengarungi pulau-pulau kecil di sekitar Makassar, mengunjungi Samalona, dan merambat ke timur Sulawesi.

Perahu itu membawa muatan spesial. Yang jelas bukan penumpang. “Bedanya dengan perahu Makassar biasa, ini membawa buku. Lebih dari lima ribu buku,” kata Kian Savero Adityansyah, perwakilan Makassar International Writers Festival (MIWF) saat dihubungi CNN Indonesia.

Perahu yang dibangun awal 2015 itu diberi nama Perahu Pustaka. Pembuatannya terinspirasi Kuda Pustaka di Jawa Timur, semacam perpustakaan berjalan yang mendatangi warga-warga di daerah terpencil. Karena Makassar lebih banyak kepulauan, perpustakaan dibuat di perairan.

“Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda di MIWF tahun ini, lalu terinspirasi Kuda Pustaka di Jawa Timur. Karena Makassar kepulauan, dibuatlah kapal. Kebetulan nakhodanya juga suka membaca,” kata Kian menjelaskan. Tujuannya menciptakan generasi suka membaca.

Ia membeberkan, selama ini warga kepulauan Makassar sulit mengakses buku. Yang ada hanya buku-buku pelajaran. “Mereka enggak mengerti mau beli buku di mana, pinjam buku di mana,” tuturnya. Toko buku hanya ada di tengah kota.

Karena itulah Perahu Pustaka penting. Ia berlayar membawa ribuan buku setiap hari. Jika ada yang ingin meminjam buku, perahu akan kembali satu atau dua minggu kemudian. Pelayaran diteruskan sampai setahun lamanya.

Buku yang dimuat Perahu Pustaka kebanyakan bacaan ringan. Mulai buku anak, majalah, sampai novel yang mudah dicerna. Sasarannya memang generasi muda, sehingga tak diberi buku yang terlalu berat dibaca. “Menurut data, hanya satu dari 10 ribu anak di Indonesia yang suka membaca,” ujar Kian dengan prihatin.

Sesekali, Perahu Pustaka akan membawa penulis yang ingin berinteraksi langsung dengan warga terpencil Makassar. Diharapkan itu menjadi pancingan yang menarik bagi masyarakat.

Perahu Pustaka itu diluncurkan sebagai pengawal kegiatan tahunan MIWF 2015, yang berlangsung 3 sampai 6 Juni. Festival sastra itu akan dihadiri 60 sastrawan dari 20 negara. “Tahun lalu 30, jadi tahun ini ada peningkatan dua kali lipat,” ucap Kian menyebutkan.

Dari dalam negeri, sastrawan Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, Oka Rusmini, dan penulis perjalanan Trinity. Novelis grafis Belanda Peter van Dongen, kartunis Australia Rolf Heimann, sampai peneliti jurnalistik Janet Steele dari Amerika Serikat pun hadir.

Dalam keterangan pers yang diterima CNN Indonesia, akan ada diskusi, seminar, pembacaan karya, juga pentas musik, tari, dan seni rupa dalam ajang itu. Makassar juga menjadi ajang peluncuran novel Pulang Leila S. Chudori yang berbahasa Inggris, sebelum dibawa ke Frankfurt Book Fair Oktober mendatang.

MIWF tahun ini mengusung tema kedaerahan yang unik. Sosok Karaeng Pattingaloang diangkat sebagai wujud ilmu pengetahuan dan semesta. Ia adalah tokoh dari Kerajaan Gowa abad ke-17.

“Dia mencintai alam dan ilmu pengetahuan. Dia mau lihat bintang, penasaran bagaimana caranya. Oh, pakai teleskop. Dia pesan teleskop ke Galileo. Butuh tujuh tahun untuk sampai ke Indonesia,” kata Kian bercerita. Semangat itulah yang berdetak di jantung MIWF.

Sumber: cnnindonesia.com

Kuis Xiaomi Mi4i –Menangkan Hadiahnya!

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s