Ridwan, Penyebar Ilmu Kuda ‘Pustaka’ di Pelosok Purbalingga yang Mendunia

Purbalingga – Boleh dibilang, perpustakaan keliling dengan menggunakan mobil atau kendaraan sudah biasa. Tapi perpustakaan keliling dengan memanfaatkan kuda, mungkin hanya Ridwan Sururi (41) yang melakukannya. Tujuannya bukan sekadar ingin beda, lalu apa?

Pagi itu, udara dingin di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah, sangat terasa. Kabut masih pekat. Sejumlah warga berpenutup kepala berdiri di halaman rumah berharap mendapatkan kehangatan. Yang lain sibuk berjalan menuju ladang.

Ridwan juga sudah beraktivitas. Dia bergegas menuju kandang kuda di belakang rumah ditemani alunan musik Iwan Fals. Ada tiga kuda di kandang tersebut. Namanya Luna, Speed Shadow alias Si Belang, dan Unyil. Semua bukan milik Ridwan, melainkan titipan orang.

Usai memberi makan kuda dengan rumput, dedak, dan campuran lain, Ridwan beralih ke kandang ayam. Kemudian dia baru keluar rumah mencari rumput untuk kuda-kudanya.

“Kemarin libur keliling TPQ dan sekolah karena anak-anak lagi ujian,” tutur Ridwan usai menuntaskan aktivitas harian akhir pekan lalu.

Sejak Januari lalu, Ridwan resmi mengelola kuda ‘pustaka’. Pria lulusan SMP dan Kejar Paket C ini menggunakan istilah itu untuk merujuk perpustakaan keliling dengan menggunakan kuda. Bersama Luna si kuda, ia mampir ke TPQ dan SD di lereng Gunung Slamet. Seminggu tiga kali, yakni Selasa, Rabu, dan Kamis.

Bagaimana ide kuda pustaka muncul? Ridwan mengaku dirinya penghobi kuda. Ia memanfaatkan hewan titipan tersebut agar memiliki nilai lebih. Bukan hanya dirawat dan ditunggangi, melainkan dipakai untuk menularkan kegemaran membaca buku dan menebarkan ilmu ke masyarakat.

Buku-buku didapatkan Ridwan dari temannya di Jakarta, Nirwan Arsuka. Awalnya hanya TPQ Miftahul Huda yang berjarak 2-3 km dari rumah yang disambangi, tapi kemudian berkembang ke sekolah yang berjarak lebih jauh seperti SDN 5 Serang dan TPQ Miftahul Ulum. Berapa harga sewa buku untuk seminggu?

“Tidak bayar alias gratis,” kata suami Kartiah dan ayah tiga anak ini.

Ridwan senang kuda pustakanya diterima masyarakat. Namun ia harus mengatur jadwal agar kudanya tetap sehat. Apalagi tiap akhir pekan, kuda-kuda tersebut diajak bekerja di Lembah Asri Wisata Desa Serang sebagai kuda tunggang dengan sewa Rp 15 ribu sekali jalan. Kadang ada yang memanfaatkan kuda untuk foto prewedding. Untuk hal satu ini, Ridwan memasang tarif Rp 150 ribu.

Setelah libur karena para siswa mengikuti ujian, minggu ini Ridwan berkeliling lagi. Ia bersemangat. Apalagi saat ini dukungan dari berbagai pihak terhadap kuda pustaka muncul.

Kisah Ridwan ini mendunia. Foto-fotonya menyebar lewat kantor berita foto Getty Images. Sementara kisahnya sudah ditulis oleh BBC. Dia menjadi inspirasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Semulus itukah aksi sosial Ridwan dan Luna berjalan? Tentu saja tidak. Simak dinamika dan perjuangan Ridwan di awal-awal menjalankan kuda pustaka dalam cerita selanjutnya.

Sumber: detik.com

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s