Banyak Perpustakaan Dijaga Honorer

BADUNG Minimnya pustakawan menjadi salah satu kendala pengembangan perpustakaan. “Tantangan terbesar untuk pengembangan perpustakaan adalah terbatasnya sumber daya manusia untuk mengelola, terutama di kabupaten/kota,” kata Kepala Perpustakaan Nasional, Sri Sularsih, dalam diskusi untuk pembelajaran PerpuSeru di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (21/5).

Sri mengatakan sesuai standar, untuk 1.000 buku setidaknya dikelola satu pustakawan. Di Indonesia masih jauh di bawah itu. Selain masalah jumlah, pustakawan terutama di kabupaten/kota, sebagian besar merupakan pegawai honorer yang belum mumpuni dalam bidang kepustakaan.

“Penjaga perpustakaan sekarang kebanyakan honorer, jadi pengetahuannya terbatas. Apalagi, di daerah juga sulit mengakses informasi tertentu mengenai kepustakaan,” tuturnya.
Sri mengatakan, pemerintah telah mengadakan pelatihan untuk pustakawan, seiring perlunya peningkatan kapasitas pustakawan, terutama dalam bidang teknologi informasi. Ia berharap ke depan para pustakawan mau bekerja lebih keras, mengikuti tuntutan target yang dicanangkan pemerintah, dengan dukungan yang telah diberikan pemerintah.
Pusat Kreativitas
Perpustakaan juga dapat mendorong pembangunan daerah, melalui peningkatan pendapatan masyarakat, yang terbantu setelah mendapatkan
“Dengan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, seperti peningkatan usaha dan pendapatan, peningkatan prestasi pendidikan, bahkan mendapatkan pekerjaan lebih baik. Ini menunjukkan perpustakaan memiliki potensi untuk berperan dalam mendorong pencapaian tujuan pembangunan daerah,” ujar Sri.
Menurutnya, dengan informasi dari buku dan internet yang disediakan di perpustakaan, masyarakat dapat mengembangkan ekonomi kreatif. Perpustakaan juga dapat menjadi tempat berlatih beberapa keterampilan, berdiskusi, dan bertukar pengalaman. Pandangan bahwa perpustakaan tempat membosankan, harus diubah.
“Perpustakaan tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga sebagai pusat kreativitas, bisa juga untuk pelatihan. Sekarang, teknologi informasi harus dikembangkan,” kata Sri.
Untuk itu, ia mengapresiasi adanya program PerpuSeru; pendampingan dan penyediaan internet di 34 perpustakaan kabupaten, 70 perpustakaan desa, dan enam taman bacaan masyarakat yang diinisiasi Coca-Cola Foundation Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia, Titie Sadarini mengatakan potensi perpustakaan Indonesia sangat besar, tetapi kurang mendapat perhatian sehingga pengembangannya perlu terus didorong. Dengan memaksimalkan perpustakaan, banyak dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat di beberapa bidang.
“Selama kurang lebih empat tahun pelaksanaan PerpuSeru, kami sudah melihat banyak peran strategis yang dimainkan perpustakaan, mulai dari literasi digital hingga perbaikan kualitas hidup dan ekonomi mereka,” ujarnya. Ke depan, ia berharap program tersebut dapat berjalan dan bahkan berkembang dengan dukungan pemerintah, partisipasi komunitas, serta keaktifan masyarakat.
PerpuSeru dilakukan sejak November 2011 oleh Coca-Cola Foundation Indonesia dan didukung Bill & Melinda Gates Foundation; guna menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi, untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Sumber: viva.co.id

Leave a comment

Filed under Pustakawan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s