Sosialisasi Perpusnas Bersama Sastrawan

Jakarta—Membaca merupakan suatu kegiatan yang dapat menambah wawasan dan mengasah otak untuk semua orang. Kegiatan membaca (teks, literatur) yang dibiasakan sejak dini sesuai kemampuan dapat merangsang kreativitas dan semangat rasa ingin tahu seseorang.

Salah satu aspek penting yang perlu dilakukan sebelum menulis adalah melakukan aktivitas baca. Membaca apa saja. Apakah buku-buku yang berkaitan dengan kepenulisannya, atau membaca hal lain yang menyenangkan sebagai selingan saat otak terasa sulit bekerja. Kenapa membaca menjadi penting? Karena aktivitas tersebut mampu mengayakan ide, imajinasi, dan kosa kata.

“Tulislah sebanyak mungkin apa yang ada di pikiran, setelah selesai gunakanlah kacamata editor atau pembaca untuk melihat kualitas tulisan. Saat menulis, jangan terpaku pada judul yang telah dibuat. Menulis itu adalah sebuah proses,” beber novelis Asmanadia menjawab pertanyaan pada Sosialisasi Perpusnas Bersama Sastrawan, (20/5).
Hal senada juga diutarakan novelis Tere Liye. Meski banyak novelis terkemuka Tanah Air pada masa kecilnya mengalami kesulitan untuk membeli buku, tapi aktivitas membaca secara konsisten mereka lakukan meski bahan baca yang mereka peroleh bisa berasal pembungkus makanan, sobekan koran, tempelan mading sekolah atau dengan mengunjungi perpustakaan. Membaca tanpa membeli itu mungkin. Datang saja ke perpustakaan. Yang penting kemauan.

“Tidak ada satupun penulis yang tanpa melibatkan aktivitas membaca didalam sebuah karyanya. Dan tidak ada satupun penulis yang tidak berkawan dengan perpustakaan selama karirnya,” ujar Tere Liye.
Minat membaca memang sangat erat kaitannya dengan tingkat intelektualitas dan kesejahteraan masyarakat. Negara-negara barat yang notabene dikatakan maju dari sisi ilmu pengetahuan umumnya memiliki indeks membaca yang cukup tinggi. Sehingga minat membaca dan kecintaan terhadap buku ini harus terus dipacu yang berarti juga meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.
Harus diakui, kondisi minat baca masyarakat Indonesia masih dibawah standar ukuran negara maju. Angka minat baca Indonesia masih 0, 001 % atau 1 berbanding 1.000, sedangkan minat baca di negara maju yakni 1 : 45.

Problematika tersebut, menurut adik kandiung penulis Helvy Tiana Rosa adalah problem bersama. “Membentuk kebiasaan membaca bisa dimulai dari keluarga,” ujar Asma Nadia. Asma mencontohkan kalau kedua anaknya sudah dikenalkan membaca sejak dini dan akhirnya mampu menulis beberapa karyanya sendiri. Masa usia 0-2 tahun adalah proses dimana anak mampu menyerap apa yang diterimanya dengan cepat (reseptif). Perkembangan otak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama).

Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru, mereka akan lebih enjoy membaca buku ketimbang menonton TV atau mendengarkan radio.

Keaktifan penulis juga sedikit banyak memengaruhi minat baca masyarakat. Artinya, seberapa aktif mereka menelurkan karyanya. Saat ini, jumlah penulis produktif di Indonesia kurang dari 100 orang. Dengan populasi 250 juta jiwa, amat sedikit penulis yang berkiprah sehingga beralasan jika jumlah buku sastra yang beredar hanya sekitar 5-5 ribu judul buku per tahunnya.

Penulis maupun penerbit juga bisa mengeksplorasi keragaman budaya, bahasa, musik, alat permainan, hingga dongeng karena banyak kearifan lokal yang bisa digali dari local content yang sudah hampir hilang. Cara ini juga bisa menaikkan minat baca terutama di lingkungan keluarga.
Asma Nadia menuturkan National Library of Singapore (NLB) sanggup mendatangkan 30 juta pengunjung dalam setahun. Sedangkan angka kunjungan di Perpustakaan Nasional selama lima tahun terakhir baru mencapai 1.915.861 (383.172 per tahun).

Secara umum, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara ASEAN. Mengejarnya, pemerintah harus bergerak cepat dengan melakukan sejumlah terobosan maupun program yang memicu tumbuhnya budaya baca di masyarakat, seperti mendirikan perpustakaan atau taman baca, pengadaan bahan bacaan yang sesuai dan berkualitas, penyediaan sarana teknologi pendukung layanan, dan menyiapkan tenaga perpustakaan yang terlatih yang tanpa direcoki.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) secara khusus terus menggalakkan sejumlah program pengembangan perpustakaan mulai dari perpustakaan kabupaten/kota, desa/kelurahan, pelabuhan/perikanan, Lapas, rumah ibadah, pondok pesantren, komunitas, daerah perbatasan, pulau terluar, pelosok/pedalaman, hingga daerah transmigran. “Kebutuhan informasi dan pengetahuan adalah hak mutlak setiap masyarakat, sehingga Perpusnas perlu menyediakan secara mudah dan cepat karena perpustakaan adalah sarana belajar sepanjang hayat yang tidak terbatas pada usia, suku, agama, ras maupun golongan” imbuh Kepala Perpusnas Sri Sularsih.

Perpusnas juga mengapresiasi niat baik dari beberapa pemerintah daerah yang telah menyadari betapa pentingnya kebiasaan membaca bagi masyarakat. Tengok saja yang dilakukan Prov. Kalteng dengan menerbitkan Gerakan Aksi Literasi Nasional mulai dari Sekolah Dasar. Ada juga aksi yang dilakoni para mahasiswa asal Sorong Selatan, Papua Barat yang aktif membukukan cerita rakyat untuk keperluan mengajar sastra dan bahasa di Provinsi Papua Barat. Kesadaran yang sama juga diperbuat daerah-daerah lain seperti Bengkulu, Kep. Riau, Belitung Timur, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Magelang, Wonosobo, Banyuwangi, Nusa Tenggara Barat, dan Bantaeng (Sulsel).

Sumber: pnri.go.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s