Temu Wicara ISMN : Gugah Kesadaran Pelaku Musik Tanah Air

Jakarta—Musik tidak bisa bisa dipisahkan dari peradaban manusia. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada sejarah peradaban manusia dilalui tanpa musik. Di Indonesia, musik sangat lekat dengan kebudayaan setempat sehingga muncul berbagai musik tradisi (tradisional). Keberagaman ini yang diyakini menjadi kekuatan Indonesia di dunia internasional. Kekayaan musik Indonesia seharusnya diinventaris dengan baik agar tidak diakui oleh negara-negara lain.

Meski banyak memiliki keragaman musik tradisional, namun kesadaran untuk melaporkan hasil ciptaan, kreasi, maupun gubahan musik yang telah diciptakan masih minim. Kenapa itu terjadi? Karena masih banyak pihak yang belum menyadari pentingnya setiap bentuk karya musik untuk didaftarkan agar mendapatkan pengakuan internasional.

Di Eropa dan Amerika Serikat, musik telah menjadi budaya yang tidak bisa diremehkan. Musik tidak hanya didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual saja, melainkan juga didaftarkan secara internasional melalui Badan International Standard Music Number atau ISMN, yang saat ini berkedudukan di Berlin, Jerman.

ISMN adalah sistem penomoran internasional yang digunakan untuk membedakan ciptaan musik dan penciptanya. ISMN dirancang untuk pemrosesan dan penanganan lembaran musik tercetak dan mewakili data bilbliografis. ISMN juga sebagai bukti bahwa karya tersebut milik pencipta dan tidak akan gampang diklaim orang lain.

Amat pentingnya ISMN bisa dilihat dari kasus lagu “Lenggang Jakarta” yang menjadi ikon pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Harry Sabar, sang empunya lagu, mengaku belum mendapatkan bentuk apreasiasi penghargaan atas karyanya tersebut dari Pemrov DKI Jakarta. Agar tidak terjadi penyalahgunaan kembali, atas permintaan Perpusnas, di tahun 2014, Harry Sabar mendaftarkan sebanyak 100 partitur karyanya, termasuk lagu Lenggang Jakarta untuk mendapatkan nomor ISMN, sekaligus untuk diarsipkan.

Harry merasa karyanya perlu didepositkan karena manusia akan punah dan dokumentasi di perpustakaan akan terus dapat dilihat dan dipelajari oleh generasi mendatang. “Masih banyak musisi yang belum mengetahui manfaat ISMN. Oleh sebab itu, ia mengajak para musisi untuk ikut mengarsipkan karyanya.”

Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Welmin Sunyi Ariningsih mengatakan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam (KCKR) mewajibkan semua hasil KCKR anak bangsa baik harus diserahkan ke Perpusnas atau Perpustakaan Daerah. Deputi I Perpusnas mencatat selama tahun selama 2014 hanya menerima 63 pengajuan untuk didaftarkan ke dalam sistem ISMN. Angka ini mengalami penurunan dibanding tahun 2013 yang masih menerima 71 pengajuan.

Welmin menjelaskan, semestinya sebelum lagu direkam, musisi menyerahkan partitur lagunya ke Perpusnas untuk mendapatkan ISMN. Proses mendapatkan ISMN tidak sulit, musisi hanya membawa karya rekamnya ke Perpusnas atau mendaftar melalui website Perpusnas RI.
“Tidak ada alasan untuk tidak mengarsipkan karya di Perpustakaan Nasional karena prosesnya mudah dan gratis, ujarnya saat Temu Wicara ISMN “Melangkah Seirama Melestarikan Musik Indonesia, di Ruang Teater Perpusnas, Jakarta, (31/3).

Keseriusan patut pula ditanyakan pada Komisi X DPR-RI yang menanungi bidang pendidikan, pariwiasata, olahraga, kesenian dan budaya. Sudah sejauh mana upaya mereka membantu tugas pemerintah melestarikan karya anak bangsa. Krisna Mukti, anggota Komisi X DPR-RI dari Fraksi PKB menjelaskan sejauh ini pihaknya terus berupaya berkoordinasi dengan Komisi III (Hukum, HAM, dan Keamanan) untuk membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk menangani mafia pembajakan, khususnya dalam hal musik.

Sejak 2002, Perpusnas telah melakukan sosialisasi ISMN. Namun, perkembangannya setiap tahunnya masih lamban, tidak seperti ISBN yang tiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan. Keanggotaan ISMN sampai akhir 2014 baru mencapai 108 penerbit. Hal ini mungkin disebabkan kekurangpahaman atas ISMN atau mungkin belum adanya kesadaran dari para pelaku musik untuk mendaftarkan karyanya ke dalam sistem ISMN.

ISMN telah memiliki standar ISO 10975, dimana penomoran ISMN diciptakan tahun 1993 yang analog dengan sistem ISBN. ISMN dapat diaplikasikan dengan sistem barcoding EAN internasional 13 digit.

Di akhir kegiatan, Perpusnas memberikan paspartu ISMN kepada Titiek Puspa, Linda Djalil, Latifah KM, Reika Meany, Harry Sabar, dan Didong dari anjungan Sumatera Utara TMII). Temu Wicara diramaikan dengan penampilan komposer Rieka Meany, pagelaran musik anak asuhan Titiek Puspa, penampilan musisi brandjangan, pementasan angklung saung Sam Udjo, dan musik tradisional suku dayak Namwei.

Sumber: pnri.go.id

Leave a comment

Filed under Perpustakaan

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s