SLEMAN – Perpustakaan sebagai produk budaya merupakan arena dinamis dalam pergumulan masyarakat, bukan sebagai situs mati yang menjadikan segala praktik dan interaksi antaraktor bersifat datar. Perpustakaan dapat dilihat dari empat komponen utama, yaitu tempat, manusia, aktivitas, dan koleksi yang secara bersama-sama membentuk dinamika aktivitas perpustakaan.

Nurdin Laugu (Foto : Istimewa)

Dalam konteks ideologi keagamaan terdapat banyak taksonomi yang menggambarkan pemikiran dan praktik Islam yang berbeda karena landasan gagasan mereka yang berbeda. Di samping keagamaan, elemen budaya berupa tradisi lokal berimplikasi pada konteks hirarkis dan relasi sosial karena mempengaruhi aspek pengelolaan kepemimpinan perpustakaan dalam berbagai aspeknya.

“Pada situasi inilah relasi kuasa menampakkan dirinya dalam pengelolaan perpustakaan,” kata Nurdin Laugu pada ujian terbuka doktor Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana (SPs) di Lantai 5 SPs UGM, Senin (16/12/2013).

Pada ujian terbuka tersebut Nurdin mengangkat disertasi yang berjudul Representasi Kuasa Dalam Pengelolaan Perpustakaan Studi Kasus pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta. Nurdin mengatakan praktik ideologi muncul dalam kaitan hubungan antaraktor, khususnya pada pengembangan koleksi.

Penerbit dan penyedia informasi lainnya menjadi komponen fundamental dalam pengembangan koleksi perpustakaan. Hal ini misalnya terlihat dalam pertarungan promosi produk oleh berbagai penerbit dan penyedia informasi lainnya dalam lingkungan perpustakaan. “Ranah agama, budaya dan ekonomi menjadi wilayah penting representasi kuasa,”papar dosen pada Program S2 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga itu.

Ia menjelaskan pada situasi ini pengelolaan perpustakaan  menjadi ruang negosiasi dan kontestasi bagi berbagai aktor dalam memproduksi dan mereproduksi dominasi ideologi mereka. Representasi dari negosiasi dan kontestasi ini dapat dilacak pada kultur kepemimpinan perpustakaan yang menjadi tahap penting untuk membaca signifikasi praktik-diskursif antaraktor, baik yang dominan maupun yang subordinat.

Penelitian yang dilakukan di tiga lokasi, yaitu perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, UII serta UMY tersebut diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu representasi kuasa, ideologi dan kontestasi. Kerangka persoalan ini, secara konseptual dapat diformulasikan dalam sebuah konstruksi teoretik yang menempatkan aktor perpustakaan pada konstelasi relasi yang berpijak pada habitus dan modal untuk memasuki ranah permainan.

Sementara modal merupakan kekuatan yang dapat menambah tingkat perolehan produksi aktor yang memungkinkan memenangi dominasi dalam sebuah lingkaran permainan ranah itu.

Sumber: krjogja.com

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s