Solo – Museum Radya Pustaka Solo semakin sering mendapat perhatian publik. Hari ini, museum tertua di Indonesia tersebut mendapat sumbangan ratusan buah buku dari seorang warga. Namun sayangnya, museum tidak lagi mampu memajang buku-buku tersebut karena tidak ada lagi ruang untuk memajang buku. Demikian pula sumbangan warga sebelumnya.

Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Sanjata, memaparkan bahwa beberapa hari lalu pihaknya dihubungi oleh seseorang yang hendak menyumbangkan koleksi ratusan buah buku lama milik keluarga. Hari ini, Rabu (19/1/2/2012) siang, buku-buku yang sebagian besar berbahasa Belanda tersebut diambil pihak museum menggunakan sebuah mobil pikap.

“Buku-buku ini dari seseorang warga Sukoharjo. Selama ini disimpan di rumah keluarga di Sukoharjo. Kami menyambut baik itikad keluarga tersebut untuk menyumbangkan buku-buku lama ini kepada kami. Ini belum kami hitung jumlahnya, tapi jelas lebih dari seribu buah buku. Sebagian besar isinya tentang ilmu hukum dan agama,” ujar Sanjata, saat ditemui wartawan di Museum Radya Pustaka di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Namun bukan tanpa masalah setelah buku itu berada di museum. Museum yang didirikan pada tahun 1890 tersebut saat ini sudah tidak mampu lagi menampung seluruh koleksi yang ada. Ruang ruang pajang buku di bagian perpustakaan saat ini sudah penuh. Sanjata mengatakan untuk sementara, buku-buku tersebut akan disimpan di gudang sembari dilakukan proses inventarisasi.

“Proses inventarisasi ini ada beberapa tahapan. Di antaranya proses identifikasi dengan mengelompokkan buku-buku sesuai bidang ilmunya, kemudian dibuatkan berita acara penerimaan atas koleksi tersebut. Proses ini membutuhkan waktu sepekan lebih. Jika terdapat koleksi yang mulai rusak, akan melakukan proses digitalisasi yang memakan waktu lebih lama lagi karena harus mengcopy satu per satu halaman untuk dipindah ke dalam bentuk digital,” paparnya.

Dari pengamatan di mesuem, saat ini bukan hanya ruang perpustakaan yang penuh. Ruang penyimpanan arca dan senjata juga sudah penuh. Sebagian koleksi berwujud arca batu kuno saat ini hanya diletakkan di halaman belakang. Demikian juga sumbangan warga berupa senjata tradisional, sebagian hanya disimpan di dalam gudang.

“Kami juga sering mendapat sumbangan berupa pusaka berujud keris, pedang dan semacamnya. Saat ini kami memiliki koleksi 360 pusaka dari berbagai jenis. Sebagian pusaka itu terpaksa juga belum bisa dipajang karena keterbatasan tempat. Saat ini kami masih menunggu pelaksanaan perluasan museum yang telah dijanjikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rencananya, tahun depan akan mulai dilakukan,” lanjutnya.

Sumber: detik.com

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s