Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Sulsel menyimpan sejuta kisah sejarah. Sayang, sangat sedikit yang “penasaran” mau menyelisik pengetahuan di dalamnya.

LAPORAN: DIAN MUHTADIAH HAMNA, Makassar
COBALAH berkunjung ke Kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan KM 12 No 146. Di sana, Anda akan menemukan pengetahuan sejarah seluas cakrawala.
Mungkin, Anda penasaran dengan koran pertama di Kota Daeng ini? Ternyata, itu menjadi salah satu koleksi BPAD Provinsi Sulsel. Namanya, Makassarsche Courant yang terbit pada 7 Juli-29 Desember 1899. Naskah koran ini telah dimicrofilmkan.
Bahkan ada pula naskah lontarak yang menarik. Seperti naskah lontarak catatan harian Raja Bone yang ditulis pada tahun 1752 dan naskah lontarak yang telah dimicrofilmkan dengan 4.020 judul. Jika dibentangkan, naskah microfilm ini mencapai panjang 50 kilometer.
Yang membuat saya terheran-heran, ketika melihat langsung sejarah silsilah raja-raja Soppeng yang ditulis tangan di atas daun lontar. Daun yang berwarna cokelat dan masih utuh itu digulung. Bulatan tengahnya dikaitkan dengan kayu tipis yang dipasangi alat pemutar. Ketika hendak dibaca aksara lontarak yang tertera di dalamnya, alat ini mesti diputar. Agar naskah lontarak itu mudah terbentang.
“Naskah lontarak inilah koleksi kami yang tertua. Ditulis pada abad ke-16 menggunakan cobo’, sejenis pisau yang ujungnya runcing,” terang H Andi Ahmad Saransi, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan BPAD Provinsi Sulsel ketika menemani saya berkeliling beberapa ruangan di kantor BPAD, Rabu, 5 September, siang.
Ahmad Saransi bercerita, sebelum Islam masuk ke Sulsel, penulisan naskah masih di atas daun lontar. Ketika Islam masuk, barulah dikenalkan penulisan di atas kertas.
“Karakter huruf hijaiyah tidak cocok ditulis di atas daun lontar. Itulah yang membuat para pembawa agama Islam dulu mengenalkan penulisan melalui media kertas. Lama-lama, penulisan di atas daun lontar pun ditinggalkan,” jelasnya.
Pria kelahiran Soppeng, 9 Februari 1964 itu lalu mengajak saya ke ruang baca. Di ruang yang ber-AC dan berkarpet itu, pandangan saya menjelajah lukisan para gubernur yang terpajang. Gubernur-gubernur ini pernah memerintah pulau Sulawesi. Mulai zaman Dr D S S J Ratulangi yang memerintah pada tahun 1945-1946 hingga lukisan gubernur Sulsel sekarang, Syahrul Yasin Limpo. Buku-buku bermuatan sejarah pun tak kalah menumpuk.
Di ruangan itu, dilengkapi pula fasilitas empat unit komputer dan satu mesin alat pembaca microfilm. Sayang, tak satu pun pengunjung umum yang saya temui. Sekadar menikmati secara gratis pengetahuan sejarah yang melimpah.
“Pengunjung kita memang masih minim. Dalam setahun, hanya berkisar seribu orang. Padahal, kita target sekitar lima ribu orang,” tutur Ahmad Saransi, prihatin.
Suharman, Bagian Layanan Ruang Baca BPAD yang mendampingi Ahmad Saransi menimpali, bahkan lima puluh persen dari jumlah pengunjung itu diisi oleh peneliti mancanegara. Praktis, pengunjung lokal hanya berkisar setengahnya.
Ahmad Saransi mengategori ada empat permasalahan dalam kearsipan Sulsel. Yakni, kurangnya implementasi regulasi kearsipan, kurangnya anggaran khusus pengelolaan arsip, minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) kearsipan baik secara kualitas maupun kuantitas serta kurangnya perhatian pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terhadap arsip itu sendiri.
“Umumnya, para pimpinan SKPD baru memberi perhatian jika sudah ada kasus,” keluh Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Cabang Sulsel itu.
Masalah itu kemudian mencoba diredam oleh pemerintah provinsi Sulsel dengan keluarnya instruksi Gubernur Sulsel tentang tertib arsip tahun 2011. Isinya antara lain, meminta seluruh pimpinan SKPD se-kabupaten/kota Sulsel menganggarkan tertib arsip.
“Salah satu hasilnya yakni naskah I La Galigo kita mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai memory of the world. Selain itu, pemprov Sulsel juga mendapat penghargaan sebagai penyelenggara arsip statis terbaik se-Indonesia tahun lalu,” ujar peraih Celebes Award 2007 di bidang kebudayaan ini.
Diakui Ahmad Saransi, pengunjung BPAD Sulsel memang masih minim. Namun dia mengimbau, jangan dilihat dari segi kuantitas namun kualitas. “Apalagi peneliti Barat yang sampai ke sini. Tidak benar itu kalau mau melihat naskah I La Galigo mesti ke Belanda. Koleksi kami pun lengkap,” ingatnya. Sebab di BPAD segala jenis naskah sejarah tersedia mulai sejarah Sulsel di abad 16 hingga era kemerdekaan yang mengupas berbagai hal seperti budaya, politik dan tatanan pemerintahan.
Sumber: fajar.co.id

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s