LEMBAGA pendidikan merupakan soko guru perkembangan rakyat. Melalui pendidikanlah dilakukan pengasahan otak serta kemampuan intelektual manusia. Dalam perkembangannya, lewat berbagai kontak sosial dan pikiran, intelektualitas itu akan semakin terasah dan akhirnya menemukan hal-hal baru. Perguruan tinggi dipandang mempunyai nilai lebih khusus lagi karena lembaga ini mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penelitian, mengobservasi, menemukan teori baru yang penting bagi perkembangan sosial. Akan tetapi harus diingat, tidak semua praktik-praktik seperti yang disebutkan tadi dilakukan di lembaga itu.

Secara pribadi anggota masyarakat tentu boleh saja melakukan eksperimen, menemukan cara pemecahan baru atau menolak kemapanan teori yang sudah ada. Bahkan, banyak orang yang hanya tamatan sekolah menengah, mampu menjadi orang-orang sukses. Ini karena mereka mengasah sendiri kemampuannya secara disiplin.

Perlu kita lihat di sini adalah persoalan pendidikan. Pendidikan tidak harus dilakukan di lembaga formal tetapi juga bisa dilakukan secara mandiri. Belajar merupakan kunci dari sukses tersebut. Kita ingin lagi menekankan bahwa pendidikan sering diidentikkan dengan buku. Ini memang benar, dan jelas perlu. Lebih perlu lagi adalah bagaimana memperluas wawasan kependidikan kita. Dalam arti, setelah kita mendapatkan ilmu, kita mempunyai kewajiban untuk ‘mengadunya’, mendiskusikan kepada pihak lain. Diskusi ini amat penting karena pasti akan menemukan hal-hal baru sehingga menambah kekayaan kita. Tentu saja diskusi yang dimaksudkan adalah yang sehat tanpa mau memenangkan diri sendiri.

Sifat keilmuan itu menerima masukan untuk memperkaya khazanah. Dari sinilah akan ditemukan sebuah kearifan. Dengan dasar kearifan itulah ditemukan ilmu yang baru lagi, yang sangat berguna untuk memecahkan berbagai persoalan di masyarakat. Terbangnya pesawat di angkasa, berhasilnya atlet lari lebih kencang, perdamaian di Bosnia, sampai dengan ditemukannya alat pendarat di planet Mars, tidak bisa lain disebabkan adanya diskusi dan kearifan tersebut.

Kemajuan negara, dengan demikian, juga sudah pasti berbasis pendidikan. Pemerintah kita sudah merancang pendidikan 12 tahun. Artinya, seluruh masyarakat Indonesia harus mendapatkan pendidikan dasar dan menengah. Ini merupakan langkah yang bagus, meski mungkin telah ketinggalan dibanding dengan negara lain. Jika di negara tetangga pendidikan tinggi itu mendapatkan subsidi besar dari pemerintah bahkan dibebaskan dari pembiayaan, kita harus juga mensyukuri konsepsi pendidikan 12 tahun tersebut. Kita maklumi pemerintah belum mampu melakukan kebijakan bebas biaya kuliah. Namun kita rasakan, kini banyak tersedia beasiswa pendidikan tinggi. Beasiswa ini tentu sangat membantu masyarakat. Hanya, informasi tentang itu masih dirasa minim oleh para siswa.

Untuk menambah semangat belajar tersebut, di samping pendidikian 12 tahun, sudah waktunya pemerintah memberikan perhatian kepada perpustakaan desa. Dulu santer terdengar adanya perpustakaan keliling. Meski sampai sekarang kegiatan itu masih ada, tetapi harus dilihat juga kualitas bukunya, baik kualitas fisik maupun kualitas keilmuannya.

Perpustakaan desa tampaknya masih belum populer di negara kita. Padahal ini sangat penting. Menyediakan dana untuk membuka perpustakaan desa, secara tidak langsung akan merangsang pola diskusi dan interaksi sosial. Balai desa yang dimiliki oleh setiap kampung dan desa di Indonesia, sudah seharusnya diisi dengan perlengkapan perpustakaan agar kualitas interaksi sosial semakin tinggi. Mereka bisa berdialog dan mendiskusikan segala hal yang mereka baca. Bukan tidak mungkin dari sini akan tercipta hal-hal yang baru. Mulai dari pemberian surat kabar gratis sampai sumbangan buku-buku ilmiah populer, akan merangsang intelektual masyarakat di desa. Perpustakaan desa merupakan basis sosial intelektual masyarakat.

Sumber: balipost.co.id

 

 

 

One thought on “Tajuk Rencana Balipost: Membangun Intelektual dari Perpustakaan Desa

  1. Pustakawan,… Ayo kita tingkatkan pengabdian kita kepada bangsa, bimbinglah mereka yang belum bisa baca, tambahkanlah pengetahuan mereka yang sudah bisa baca, dan cerdaskanlah mereka yang sudah pandai membaca. Agar mereka sukses….dalam membangun dirinya, keluarganya, rakyat dan bangsanya….dengan tulus tanpa rekayasa….. itulah tugas mulia, kita ……..(budi.handari@yahoo.com).

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s