Lemahnya budaya membaca masyarakat Indonesia saat ini bukanlah cerita baru. Kondisi itulah yang memicu seorang pustakawan 70 tahun mendirikan sebuah rumah baca Radesa pada tahun 2004 di Kotobaru, Kecamatan Baso, Agam. Dua tahun kemudian, dia mendirikan sebuah lagi di depan rumahnya sendiri di Perumahan Universitas Andalas Griya Andalas, Gadut, Kota Padang.

Pustakawan perempuan tersebut bernama Saufni Chalid. Sabtu (10/3), Padang Ekspres berkesempatan berkunjungan dan melakukan wawancara di rumah bacanya tersebut yang kini sudah menjadi pustaka umum Radesa di Perumahan Universitas Andalas Griya Andalas, Gadut. Berikut petikan wawancara Padang Ekspres Ganda Cipta dengan Sarjana Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia itu.

Apa arti buku dan dunia membaca bagi Anda?
Sebuah dunia yang perlu untuk digeluti dan ditekuni manusia setiap hari. Sebab aktifitas membaca adalah sebuah kegiatan yang sangat berguna. Dan untuk bisa berguna, setiap yang dibaca hendaknya dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang diterapkan tentunya bacaan-bacaan yang positif yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Apakah hal itu yang menjadi alasan anda membuat perpusatakaan umum?
Diantaranya iya. Tapi pada awalnya, niat untuk membuat rumah baca atau perpustakaan umum bermula dari keinginan saya untuk menularkan budaya baca yang ada pada keluarga besar saya kepada masyarakat di sekitar saya.

Di mana saya memperhatikan orang-orang di sekitar tempat tinggal, tidak membudayakan membaca, khususnya pada anak-anak mereka. Ini membuat saya prihatin dan menggerakkan hati saya untuk membuka perpustakaan. Paling tidak membeli alternatif kepada anak-anak, khususnya pada usia sekolah dasar untuk mencari tempat bermain yang berbeda dari yang ada umumnya saat ini, selepas pulang sekolah.
Alasan lainnya, agar tumpukan buku dan korang-koran di rumah bisa lebih tertata dengan rapi dan bisa termanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Apa pendapat Anda tentang lemahnya budaya membaca masyarakat kita?
Ada beberapa faktor. Pertama kegiatan memperkenalkan buku dan ajakan untuk membaca tidak dibiasakan sejak usia dini. Pada tahap ini orangtualah yang memiliki peranan penting. Orangtua seharusnya tidak sekedar membelikan anak-anak mereka buku bacaan, tapi memberi contoh langsung kepada anak-anak mereka. Yang terjadi saat ini, banyak orangtua yang tidak gemar membaca, yang otomatis tidak memberikan contoh kepada anak mereka.

Pada saat anak-anak masuk sekolah dasar, kondisinya hampir sama. Perpustakaan sekolah memang ada. Tapi, kebanyakan guru-guru jarang sekali mengarahkan para murid untuk membaca koleksi buku diperpustakaan. Kalaupun ada, paling-paling hanya mengarahkannya pada buku paket atau buku yang menjadi pegangan dari satu mata pelajaran. Buku-buku di luar itu jarang sekali direkomendasikan.

Kemudian perkembangan teknologi internet yang pesat juga berpengaruh besar. Apalagi saat ini, para guru sering sekali menganjurkan anak murid untuk mencari tugas di internet. Dan gawatnya, anak-anak sekarang kalau sudah berhadapan dengan komputer malah program permainan yang disasarnya. Ini perlu jadi perhatian yang serius.

Bagaimana pendapat Anda dengan budaya membaca di kalangan mahasiswa?
Tak ada bedanya. Perkembangan teknologi betul-betul memberi pengaruh yang besar terhadap keinginan mahasiswa untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan. Di samping itu, para dosen yang seharusnya memberi contoh, banyak pula yang tidak memanfaatkan perpustakaan untuk mencari bahan bacaan.

Alasan mereka, buku-buku diperpustakaan banyak buku-buku lama. Tapi saya rasa itu pendapat yang kurang tepat. Sebenarnya banyak juga buku-buku baru. Tetapi mereka kurang mau bertanya banyak kepada petugas perpustakaan tentang buku baru yang ada.

Bagaimana cara Anda mengajak masyarakat sekitar untuk datang dan membaca ke perpustakaan Anda?
Entah ria atau tidak, namun yang pasti saya ikhlas lillahi ta’ala, saya mengajak mereka dengan memperlagakkan koleksi buku yang saya miliki dan tak jarang saya membacanya di depan orang-orang sekitar saya. Artinya tak mungkini bisa mengajak orang membaca, sedangkan kita tidak pernah terlihat membaca.

Selain itu, saya juga menyuruti sejumlah sekolah untuk memberitahukan keberadaan perpusatakaan saya tersebut. Lalu saya meminta sekolah-sekolah untuk memberitahukan kepada para murid mereka agar berkunjung dan membaca di perpustakaan saya.

Sejauh ini bagaimana hasilnya?
Cukup lumayan. Setidaknya 10-20 orang datang setia hari keperpustakaan ini. Dominan anak-anak usia dini atau usia sekolah dasar dan SMP. Khusus untuk anak-anak usia dini, saya sengaja untuk memperbanyak buku-buku bergambar. Hal ini untuk memancing dan membiasakan mereka dekat dengan dunia buku.

Apa harapan Anda tentang dunia buku dan membaca kedepannya?
Pada kesempatan ini, saya juga ingin meminta kepada pemerintah, untuk mendirikan perpustakaan di sekolah-sekolah PAUD. Buku-bukunya tentu mesti disesuaikan dengan anak-anak usia PAUD. Misalnya buku-buku bergambar. Ini sebagai upaya untuk mendekatkan anak pada buku sejak usia dini.

Demikian pula halnya dengan orangtua di rumah dan guru di sekolah. Sedapat mungkin, hendaknya kita membiasakan anak-anak untuk membaca dan yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan contoh kepada mereka secara langsung.

Saya juga berharap besar, kepada masyarakat pecinta buku, khususnya yang memiliki materi berlebih, untuk membangun perpustakaan di sekitar lingkungan mereka. Lalu memprovokasi masyarakat untuk menjadikan buku sebagai sebuah kebutuhan harian yang harus mereka penuhi.

Sumber: padangekspres.co.id

One thought on “Saufni Chalid, Pustakawan dan Pemilik Pustaka Umum Radesa: Membangun Budaya Baca, Orangtua dan Guru harus Beri Contoh

Silahkan Memberikan pesan / komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s